
Setelah semua orang meninggalkan rumahnya, Chuan langsung melesat ke satu desa yang belum tiba di sektenya. Secara diam diam dia memasuki desa tersebut dan menuju kerumah kepala desa.
Chuan meminta kepala desa dan beberapa orang kepercayaannya untuk mengkoordinasi warga secara sembunyi sembunyi. Mereka semua diharapkan bersiap diri untuk pindah namun menunggu kabar darinya.
Sekiranya cukup dalam pengaturannya, Chuan lalu pergi untuk menyusup disalah satu rumah yang pernah dicurigainya. Suasana dan situasi rumah yang lengang membuat dia semakin berhati hati.
Selain ilmu bayangan yang dikeluarkan, dia juga menerapkan ilmu menembus samudara. Dia mulai meresakan keberadaan sesorang dari arah kamar diujung ruang depan. Tanpa enunggu lama Chuan melesat mencari celah untuk melihat keadaan dalam rumah.
Ada seseorang yang lagi santai melangkah menuju almari besar disudut ruang depan. Dia lalu menggeser almari tersebut. Terlihat tangga menuju ruang bawah tanah. Cahaya remang remang nampak diujung tangga. Dia lalu menuruni tangga tersebut dan tanpa disadarinya, Chuan yang telah masuk lewat atap rumah sedang mengikutinya.
Sampai dibawah, Chuan menyelinap ketempat yang gelap. Terdapat empat diruangan berjeruji seperti sel penjara. Dua penjaga yang sedang asyik minum sambil berbicara sedikit ngelantur. Mereka sedang menjaga beberapa pemuda yang tidak mau menurut. Tedapat sekitar lima belasan pemuda dari desa tersebut dan beberapa desa lain yang mereka culik.
Obrolan mereka terhenti saat orang yang diikuti Chuan mendekati mereka berdua.
"bagaimana, mereka mau nurut apa tidak" ucapnya
"tidak ada yang mau nurut" jawab kedua penjaga.
"malam ini jangan penawar racun itu, agar mereka merasakan penyiksaannya" lanjutnya.
Percakapan ketiganya membuat Chuan geram. Karena belum tahu kondisi para pemuda yang sedang mereka tawan, Chuan menahan diri untuk tidak bertindak gegabah.
__ADS_1
Seandainya Patriak Lion memandunya dia akan bertindak tanpa perhitungan. Beberapa hari tanpa didampinginya, membuat Chuan cukup berhati hati dalam mengambil setiap keputusan.
Tak lama, orang yang baru datang itu beranjak pergi. Dia memberi waktu dua hari untuk para pemuda tersebut agar mengikuti keinginan mereka. Kedua penjaga lalu mengeluarkan para tahanan. Lima belas pemuda yang terlihat kurus dan dalam kondisi lemah.
Keduanya lalu memaksa agar mereka mengikutinya dengan iming iming pil penawar racun.
"kalau kalian tidak mau mengikuti sekte bunga darah maka akan menderita sampai mati" ucap seorang penjaga sambil menunjuk para pemuda. Meskipun wajah mereka pucat pasi namun tetap menyiratkan ketegarannya untuk tidak mengikuti kehendak mereka.
"srink, srink" dua jarum perak menembus tengorokan kedua penjaga.
"ak, gluck" suara teriakan keduanya tidak keluar, karena darah sudah memenuhi tenggorokannya. Sesaat keduanya kejang dan akhirnya diam untuk selamanya.
Semua pemuda diam dengan raut ketakutan yang membuat wajah mereka semakin pucat.
"minum dulu, nyawa kalian lebih penting" ucap Chuan. Tanpa keraguan, semuanya lalu menelan pil yamg diberikan Chuan. Sambil melihat situasi ruangan tersebut, dia melihat satu ruangan yang berisi banyak arak dan bahan makanan.
"pantas didalam rumah tidak ada harta sama sekali" guman Chuan. Lima belas pemuda yang dibelakangnya telah selesai dari muntah muntahnya. Meskipun masih pucat, namun tidak selemah sebelumnya. Mereka semua jongkok didepan Chuan.
"terimakasih, tuan" ucap seseorang mewakili temannya. "siapa yang asli penduduk desa ini" ucap Chuan.
"kami" jawab sepuluh pemuda sambil mengangkat tangannya.
__ADS_1
"namaku Chuan dari sekte hutan suci, dan dimana pemuda yang lain" ucap Chuan.
"semuanya sudah dibawa kesekte bunga darah" ucap seorang pemuda. Mereka dipaksa untuk menjadi budak disekte itu. Sedang para pemudi yang tidak mau menurut dijadikan budak nafsu anak saudagar didesa ini. Namun saat ini kemungkinannya sudah bunuh diri.
"ohhh" guman Chuan, tak dapat menahan rasa terkejutnya. "nanti sore kalian pulanglah" ucap Chuan.
"tuan, bolehkah kami menjadi pembantumu, kalau tetap disini kami akan terbunuh juga" tanya pemuda itu.
"adakah jalur aman keluar desa ini" tanya Chuan.
"kami tahu, namun tidak tahu tempat tuan tinggal" balasnya.
"baiklah" ucap Chuan lalu menjelaskan.
Para pemuda itu, harus membantu kepala desa dan warga untuk keluar desa ini. Sedang warga yang diam diam menjadi kaki tangan saudagar tersebut jangan diajak serta. Banyak yang dijelaskannya, bahkan Chuan berjanji akan membantu memulihkan kondisi mereka.
"sekarang naiklah dulu dan tunggu diatas" ucap Chuan. Semuanya menurut apa yang diperintahkannya. Sedang dia dengan santai menguras bahan makanan dan arak yang ada.
Keluar dari ruang bawah tanah, Chuan langsung membagikan pil untuk pemulihan kepada para pemuda. Dia juga memberi sedikit bimbingan untuk meditasi, agar manfaat pil dapat mereka serap dengan baik.
Tak lama mereka bangun dari meditasinya. Meskipun pucat diwajah mereka belum hilang sepenuhnya, namun tenaganya pulih karena terpicu oleh semangat mereka. Lima pemuda dari desa lain tetap ikut membantu. Melalui pintu belakang para pemuda mengendap menuju sungai kecil yang mengalir sampai dibelakang rumah kepala desa.
__ADS_1
Chuan sedang mengumpulkan bahan yang mudah terbakar diruang tengah. Setelah semua terkumpul dan mengunci rumah dari dalam, Chuan lalu membakarnya. Saat api belum membesar dia langsung melesat keluar dari atap rumah.
Dari jauh Chuan melihat rombongan pria dan wanita keluar dari halaman rumah bagus satunya. Mereka berteriak menyuruh para warga untuk membantu memadamkan api yang sudah membesar. Kepanikan saudagar dan anak buahnya, membuat mereka tak waspada kalau ada bayangan yang melesat menuju rumahnya.