
Hari yang cerah membuatku nyaman melanjutkan perjalanan. Melesat diantara pepohonan dan sesekali melompati semak semak. Terlihat beberapa hewan menghindar saat aku melintasi tempat mereka, ada juga sekawanan kera yang berisik saat mendaratkan kaki didekat pohon berbuah lebat.
Perutku belum terasa lapar karena pil nutrisi yang aku telan tadi. Aku berhenti bukan untuk mengambil buah, tapi penasaran saat melihat puluhan kera waspada seakan ingin mengusirku.
"nguk, nguk, nguk, nguk" ramai terdengar, seperti dikomando kawanan itupun melompat menyerangku. Begitu lincah gerakan para kera yang tingginya sepinggangku.
Semakin berisik saat serangannya tidak mengenaiku. Silih berganti dan kian cepat gerakan mereka, beberapa kera juga menyerangku dari atas pohon.
"hahaha" tawaku senang, dapat bermain dan melatih gerakan menghindarku.
Cukup lama bermain, lalu melompat keatas pohon untuk mengambil ranting sebesar ibu jari. Dengan ranting satu meter digenggaman, ganti aku yang menyerang kawanan kera.
"buk, buk, buk" suara gebukan mendarat, puluhan kera menjauh sambil teriak teriak setelah gebukanku mendarat ditubuhnya.
Seekor kera yang sedikit besar diam tak begitu jauh didepanku. Aku keluarkan puluhan pil nutrisi putih dan satu pil coba aku ulurkan pada kera didepanku. Antara takut dan kesal mendekat.
Sedikit takut diterima pil ditanganku, lalu memakannya. Terlihat yang lain meloncat loncat, aku ulurkan tanganku, seakan sudah terbiasa mereka berbaris dan mengambil satu pil lalu memakannya.
Akupun lalu melesat meninggalkan kawanan itu "whahaha" terdengar tawa puasku mempermainkan mereka.
Saat matahari tepat diatas kepala, sampailah ditepi sungai yang lebar berair jernih. Bebatuan besar kecil tertata, karya sang dewa yang memukaukan mata.
* _ _ _ _
didalam ruangan tuan chu, berkumpul tuan hulian dan keluarga serta tuan ghu dan keluarganya.
Percakapan hangat telah lama terjadi,
"maaf tuan muda sejak kemarin sudah meninggalkan penginapan" jelas wanita yang baru masuk.
"terima kasih" ucap tuan chu
"lalu bagaimana kami menyerahkan hadiah untuknya" ucap tuan hulian
"ayah, aku tidak mau sama dia" anak gadisnya menyela
"apa maksud nona?" tanya tuan chu
"sudah pipinya hitam jelek miskin lagi, tak pantas untukku" jawabnya
"plakk" tamparan tuan yulian terdengar
"pokoknya aku tidak mau, dari pada nikah dengannya lebih baik aku mati disambar petir" sumpahnya,
'jedeerrrr' terdengar petir menyambar sekali, diluar bangunan angin besar datang walau hanya sekejap. Membuat semuanya diam tenggelam dalam pikirannya masing masing
"sudahlah, lagian tuan muda sudah meninggalkan kota ini dan tidak mengharap apapun dari kalian" kata tuan chu memecah keheningan.
"maaf tuan ghu terabaikan dari tadi, ada yang bisa kami bantu?" tanya tuan chu mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
"semalam kami sekeluarga ditolong pendekar hitam" jawab tuan ghu
"pendekar hitam,,,!!!" guman yang lain dalam kebingungan
"begitulah dia memperkenalkan diri"
"ohh, lalu apa hubungannya dengan kami?" tanya tuan chu
"dia minta untuk menyampaikan pesannya buat tuan chu" "apa pesannya" penasaran
" 'kerjasama lebih bernilai daripada hadiah' itu yang diucapkannya" lalu menjelaskan semua ciri ciriku dan juga tentang kejadian semalam.
"ohhh" seru semua orang setelah cerita tuan ghu selesai lalu diam tanpa kata. Tenggelam dalam angan tentang kemarin yang penuh cerita dan kenangan.
"dialah yang kami bicarakan dari tadi" ucap tuan chu. Memecah kesunyian dalam lamunan.
"semoga dewa yang agung selalu melindungimu tuan muda" ucap tuan chu pelan tapi masih terdengar semua yang ada diruangan.
"semoga, semoga" terdengar sahut yang lain tidak berbarengan.
Beberapa percakapan ringan setelahnya menghasilkan beberapa poin kerjasama diantara ketiganya.
* _ _ _
"segarlah pastinya mandi disungai ini" batinku,
"byurr" terdengar suara kala melompat ketengah sungai hanya melepas baju.
Lama bermain disungai dan beberapa ikan sudah aku tangkap,
"lumayan buat ngisi perut" pikirku.
Setelah ganti baju dan menghabiskan ikan bakar, akupun hanya duduk santai diatas batu besar ditepi sungai, sambil menikmati hari yang mulai beranjak senja.
Malam ini bisa meditasi diatas batu ini, suasana sepi dan kelihatannya cukup aman ketika aku tenggelam dalam meditasiku
Senja mulai beranjak malam, suara deru arus sungai memecah kesunyian. Tak ada geliat apapun ditepi sungai, hanya beberapa hewan yang mencari makan.
Mulailah tenggelam dalam meditasiku, semua suara seakan tiada terdengar, akhirnya tenggelam dalam meditasi yang panjang.
Energi alam mengalir dalam tubuh, setelah penuh lalu memadatkannya menjadi qi murni. Berulang ulang prosesnya berlangsung, sebagian qi aku alirkan kesetiap ruas tulang dan pembuluh darah besar maupun kecil. Tak lupa semua organ dalam untuk menguatkannya.
Tak terasa pagi sudah datang, sinar mentari menyapa tubuhku. Terdengar samar suara canda beberapa wanita didepan, teriring kicauan burung bersahutan menyambut pagi.
Setelah menelan pil nutrisi lalu membasuh muka sekalian minum air sungai yang jernih dan segar sampai kenyang.
Serasa cukup mulailah menyusuri sungai. Dengan santai kakiku melompat diatas bebatuan ditepi sungai. Semakin jelas canda para wanita terdengar walau belum terlihat mereka, mungkin terhalang beberapa batu besar didepan, sedang beberapa pemuda yang berdiri diatas batu agak ketengah sungai sambil memegang tombak kayu terlihat sedang mencari ikan.
"ada orang datang" teriak salah seorang pemuda yang melihatku mendekati mereka.
__ADS_1
"dimana" teriak para wanita terdengar
"itu" tunjuk pemuda tersebut.
Tak lama kemudian dari balik batu besar muncul para gadis dengan raut wajah penuh ketakutan dan beberapa perempuan paruh baya dengan wajah santai penuh curiga,
"maaf kisanak siapa dan dari mana" tanya perempuan paruh baya penuh selidik saat dekat dengan mereka,
"aku hanya seorang pengelana biasa sedang asalku dari desa mekar, sebuah desa yang jauh disebelah timur" jawabku
"trus kamu mau kemana?" Tanya seorang pemuda ketika mereka mendekat
"kemana kaki melangkah itulah tujuanku" jawabku seenaknya.
"sebaiknya kisanak singgah dulu didesa kami" ucap seorang perempuan menengahi kami.
"tak masalah, daripada terjadi salah paham disini" jawabku.
"tunggu kami selesai menyuci pakaian" lanjutnya.
Para wanita melanjutkan menyuci, sedang para pemuda mengumpulkan beberapa ikan yang berhasil ditangkap. Terlihat beberapa gadis melirikku sambil menggelengkan kepalanya, tetap dengan wajah ketakutannya.
Rasa penasaran muncul dihati,
"apa yang terjadi pada para gadis ini" batinku.
Selesai mereka mencuci bergegaslah mereka kembali kedesa, tak lupa mengajakku serta. Para gadis berjalan didepan, aku ngobrol ringan dengan seorang perempuan paruh baya.
Para pemuda berjalan dibelakang kami kecuali satu pemuda yang tadi bicara kepadaku, terlihat dia berlari dengan cepat.
Para pemuda sepertinya dari sebuah sekte, rata rata berada ditahap awal kecuali yang berlari tadi, dia ditahap menengah.
Tak seberapa jauh perjalanan mulailah memasuki sebuah desa yang cukup besar, tapi hanya sebuah rumah yang cukup besar dan panjang.
Beberapa kedai penuh pengunjung ramai terdengar canda tawa mereka, sebelum memasuki halaman rumah besar terlihat puluhan pemuda berlatih silat. Rata rata ditahap awal dan menengah, ada lima yang berada ditahap mahir sebagai pelatih mereka.
"silahkan duduk, bibi masuk dulu dan memberitahu kepala desa kalau ada kisanak"
"iya bi" jawabku singkat lalu duduk dikursi yang tersedia diteras rumah.
Dalam kesendirian memudahkan diriku merapal ilmu menembus dasar samudra, agar jiwaku lebih tenang dari sebelumnya. Aliran qi juga aku alirkan ke bagian kepala, lalu membagi sebagian ketelinga, mata dan otakku.
"hanya seorang pendekar tahap menengah" terdengar suara pelan. Setelah aliran qi tersalur ketelinga maka pendengaranku kian jelas.
Ternyata mereka adalah sekte aliran hitam yang menguasai desa, agar tidak tercium oleh pihak keamanan. Kedai pertama yang aku temui adalah pos mereka, untuk mengawasi pendatang yang masuk desa.
Para sesepuh dan kepala desa mereka sekap,
"beri racun pemusnah biar tunduk pada kita" ucap seorang laki laki terdengar.
__ADS_1
Beberapa percakapan terus terdengar, sebelum mereka keluar aku menelan dua pil penawar racun, tak mau ambil resiko sebab belum tahu keganasan jenis racun mereka. Isi cincin dijari tengah aku pindah masuk dicincin naga, menyisakan dua puluhan koin emas dan lima puluhan koin perak.