Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Tak Tahu Diri


__ADS_3

"tak perlu seperti itu paman" ucap chuan. Jika orang baik padanya akan dibalas dengan kebaikan. tetapi siapapun yang mengganggu, maka tunggu kehancurannya.


Paman Sun ditahap mahir tingkat akhir sudah macet bertahun tahun. Sedang Louyin tingkat awal. Chuan memberi masing masing satu pil penguat tubuh, dengan qi murni yang tersembunyi didalamnya.


"telan pil tersebut dan usahakan ada yang menjaga kalian" ucap Chuan mengakhiri penjelasannya.


"terima kasih" ucap keduanya.


"untuk apel emas, didua kantor masing masing melelang tiga buah setiap bulannya" ucap chuan sambil mengeluarkan seratus apel emas.


"sisa dua apel, masing masing satu buat kalian" lanjutnya. Keduanya hanya terpana tanpa kata kata.


"haiii" teriak chuan menyadarkan mereka.


"huhhh, sudah masukkan semuanya dicincin, paman" lanjutnya.


Tian sun memasukkan semuanya dicincin dimensinya. Dia berjanji besok surat perjanjian akan diantarkannya. Chuan tidak mau identitasnya diketahui banyak orang. Dia yang akan datang sendiri kebalai lelang.


Tian Sun memberi tanda pengenal balai lelang berupa pin emas berhias diamond. Dia kemudian pamit kembali kekantor.


Sepeninggalan keduanya, Chuan mengunci pintu kamarnya dan segera latihan. Di dalam ruang dimensi Chuan mendengar bimbingan demi bimbingan Patriak Lion.


***


Tian sun dan luoyin sampai diruang kerjanya.


"kita tidak tahu, berapa banyak orang seperti dia" jelas Tian Sun pada Louyin. Jangankan balai lelang, sekte besar akan berpikir ulang saat ingin menyentuhnya. Ada kemungkinan hancurnya dua sekte aliran hitam yang kemarin adalah perbuatannya.


"bahkan kau berani mengusirnya, juga berpikir dia orang yang tertarik denganmu" ucap Tian Sun


"bahkan yang lebih menarik darimu, dia bisa mendapatkannya, whahahaha" lanjutnya sambil tertawa, membuat tubuh Louyin limbung.

__ADS_1


"kenapa, Yin" ucap Tian Sun memberinya minum.


"huhhh, aku ngeri saat membayangkannya" jawab Louyin. "sudahlah, saatnya minum pil dari Chuan" ucap Tian Sun.


Dengan santai keduanya menelan pil yang diberikan Chuan. Saat hendak berbincang bincang, wajah keduanya berkerut. Efek dari pil yang menimbulkan energi besar membuat mereka segera berkultivasi.


Duduk dilantai ruang kerja Tian Sun, keduanya mulai focus dengan kultivasinya. Kesunyian dan keheningan yang terjadi diruang tersebut. Waktu terus berjalan, semua orang tenggelam dalam rutinitasnya.


***


Chuan keluar kamar, saat pagi beranjak siang. Suasana rumah makan terasa lebih ramai dari sebelumnya. Tian Sun dan dua penjaganya duduk ditempat Chuan kemarin. Ketiganya berdiri saat melihat Chuan menghampiri mereka.


"Chuan" ucap Tian Sun sambil membungkuk.


"tak perlu seperti itu paman" ucap Chuan sambil menuju kursi kosong dihadapan ketiganya.


"dia tuan muda Chuan yang aku bicarakan" lanjutnya pada dia penjaga dikiri kanannya.


"kalian panggil Chuan saja, tak perlu peradatan apapun" ucap Chuan, membuat keduanya menoleh pada Tian Sun.


"sepertinya, ini adalah pesananku, mana untuk kalian" tanya Chuan.


"tidak usah, kami tidak bisa lama, jadi cukup arak ini saja" jawab Tian Sun


"selamat paman" lanjut Chuan sambil mulai menikmati makanannya.


"terima kasih, semua ini karenamu, dan Louyin titip ucapan terima kasih padamu" ucap Tian Sun sambil tersenyum.


"masa cuma terima kasih, hehehe" ucap chuan.


"hahaha, kau naksir dia yaa" pancing tian sun.

__ADS_1


"whahaha, aku masih anak ingusan, tak berani berpikir untuk itu" canda chuan.


"whahaha bisa diatur" tawa tian sun.


"tidak perlu, dia pasti sial, dapat pemuda miskin dan jelek, hahaha" tawa chuan renyah disambut tawa kecil ketiganya.


"sudah jelek, sok juga"


"dia tak tahu diri"


"mungkin gak pernah lihat wajahnya sendiri"


"miskin aja belagu" terdengar suara pelan menghujat chuan.


Terlihat wajah tian sun memerah. Namun Chuan terlihat santai mendengar hujatan yang diarahkan padanya.


"biarkan paman, nikmati saja araknya" ucap Chuan membuat ketiga orang didepannya tersenyum.


Apalah arti kata kata kalau memang begitu kenyataannya. Selama tidak menyentuh orang orang yang aku sayangi dan lindungi, tak jadi suatu masalah. Kalau sampai ada menyentuhnya, pasti aku balas berkali lipat. jelas Chuan sambil terus menikmati makannya.


"ada penting apa paman kesini" ucap Chuan saat sudah menyelesaikan makannya.


"siang nanti ada lelang rutin bulanan, aku mengajakmu kekantor" jelas Tian Sun.


"mari, paman" jawab Chuan.


"arakmu" ucap Tian Sun.


"dibawa saja, emang kenapa" kata Chuan.


"baiklah" ucap Tian Sun sambil tersenyum dengan tingkah Chuan.

__ADS_1


__ADS_2