
"keduanya mencari orang yang mempunyai ciri ciri seperti tuan" lanjut pelayan tersebut.
"mereka mengatakan apa" tanya Chuan.
"tidak mengatakan apa apa, hanya mencari saja" lanjutnya.
"terimakasih infonya" ucap Chuan.
"sama sama tuan, maaf aku permisi" ucapnya lalu beranjak dari duduknya.
"apa menu disini" tanya Chuan, saat dia berdiri hendak keluar.
"sebentar aku ambilkan daftarnya" ucap pelayan lalu keluar kamar.
Tak berapa lama dia datang lagi dengan daftar menu ditangannya.
"ini tuan" ucapnya sambil menyerahkan daftar itu.
Chuan menerima dan memeriksanya.
"siapkan ayam utuh dan arak terbaik setiap pagi diruang makan, serta siapkan tempat yang bisa melihat suasana luar" ucap chuan sambil memberi dua koin emas pada pelayan.
"i ini terlalu banyak" ucapnya, terbata dan sedikit takut kalau melakukuan kesalahan seperti sebelumnya.
"sisanya bagi dengan temanmu" jawab Chuan.
"terima kasih" ucapnya, lalu pamit untuk meninggalkan Chuan.
Malam terus berjalan. Chuan yang selesai dengan makanannya, lalu masuk keruang dimensi. Malam ini Patriak Lion melanjutkan bimbingannya.
Pemahaman Chuan semakin sempurna.
"saat bertemu pengguna ilusi, lebih baik menghindar" ucap patriak lion.
"baik guru" ucap Chuan.
__ADS_1
"kalaupun terpaksa gabungkan dengan ilmu menembus dasar samudra" Patriak Lion memberi arahan.
Menggunakan gabungan keduanya chuan bisa mengetahui titik lemahnya. Bahkan jika jiwanya sudah ditingkat suci dia dapat menarik energi jiwa musuhnya yang menggunakan ilmu ilusi.
Tingkat jiwa ada lima yaitu,
* Tingkat dunia
* Tingkat langit
* Tingkat semesta
* Tingkat suci/nirwana
* Tingkat dewa.
Saat ini karena latihan yang rutin, dia ditingkat langit akhir. Energi positif diruang dimensi dengan cepat menaikkan tingkatan jiwa Chuan.
Malam berganti pagi tanpa Chuan sadari. Dia keluar ruang dimensi untuk sekedar merebahkan tubuhnya sebelum keluar kamar.
"sudah pakaian dan muka jelek, sok bergaya makan disini" ucap seorang pemuda pada rombongannya.
"percuma memperhatikan pemuda miskin kayak dia" sahut yang lain.
"biarlah tak perlu cari masalah"
"ingat tuan besar lagi sibuk urusan sekte" ucapan teman temannya mencegah dia agar tidak mengusik pemuda itu.
Chuan, dialah yang dari tadi dibicarakan para pengunjung rumah makan. Dengan berada ditempat tersebut dia leluasa mencuri dengar percakapan pengunjung.
Masalah dua sekte menjadi pembicaraan hangat. Ada juga berita tentang lelang dua hari lagi. Dan banyak lagi yang tak disangkakan chuan.
Terkadang mendengar kata jelek dan miskin, itu gunjingan terhadap dirinya. Muncul lagi tiga pemuda langsung mengambil tempat dekat meja chuan.
"pelayan" teriak salah satu pemuda.
__ADS_1
"maaf tuan muda mau pesan apa" tanya pelayan yang cepat menghampirinya.
"suruh pengemis itu pergi, selera makanku bisa hilang" ucapnya sambil menunjuk chuan.
Pelayan tersebut menjadi bingung sambil memandang chuan.
"kenapa, takut" lanjut pemuda itu.
Chuan yang tidak mau ada keributan lalu beranjak dan pergi menuju kamarnya.
"maaf dia sudah pergi, sekarang mau pesan apa" tanya pelayan.
"seperti biasanya" "baik" ucap pelayan sambil berlalu.
Seorang wanita muda nan cantik dan seorang pengawalnya memasuki rumah makan.
"salam nona" ucap mereka sapa para pemuda.
"salam tuan muda semua" balasnya.
Hidangan yang cepat datang menandakan mereka adalah para pelanggan tetap. Chuan yang pergi kelantai dua tetap menjadi topik pergunjingan. Para pelayan yang ditanya beberapa pengunjung memberikan jawaban yang tidak memuaskan mereka.
"siapa yang sedang dibicarakan" tanya wanita tersebut pada seorang pelayan.
"ooo, dia menginap disini" jawab pelayan lalu menjelaskan keadaannya yang menyebabkan dia jadi pergunjingan. "ooohhh, apakah begini dan begini" tanya wanita itu sambil menyebutkan ciri ciri chuan.
"betul nona" jawab pelayan.
"apakah aku bisa bertemu" tanya wanita tersebut sedikit memohon.
"sebentar, aku bertanya dulu" ucap pelayan lalu pergi.
Percakapan tersebut rupanya didengarkan beberapa pengunjung.
"mohon tunggu, katanya" ucap pelayan yang kembali dari menemui chuan.
__ADS_1
"tan, sampaikan tuan kita sudah menemukannya" ucapnya.