
Sekian lama menunggu muncullah dua orang lelaki,
"selamat datang didesa kami, perkenalkan aku gunyan kepala desa dan ini paman busan sesepuh desa" kata kepala desa,
"terima kasih paman, aku hanya pengelana dari desa mekar diujung timur" ucapku
"lalu apa tujuanmu kedesa kami" ucap sesepuh desa "untuk menghindari bentrok sama para pemuda saja paman" ucapku ringan bersamaan itu datang pelayan membawa ubi rebus dan tiga guci arak
"hahaha baik dan silahkan dinikmati hidangan ala kadarnya" kata kepala desa
"iya paman" jawabku sambil minum beberapa teguk arak. "habiskan saja araknya, masih ada didalam" lanjutnya "baiklah, maaf sudah merepotkan" sambil minum beberapa teguk lagi.
Panas yang terasa didalam perut mulai menyebar, berbenturan dengan efek pil penawar racun yang mulai bereaksi. Seluruh tubuh aku lemaskan pura pura pingsan, tapi kesadaran dan kewaspadaan makin terjaga.
"plok, plok, plok" terdengar tepukan tangan disusul muncullah beberapa orang
"masukkan bersama yang lain"
"baik tetua" jawab mereka serempak
"ah syukurlah mereka cuma menahanku, sehingga nanti bisa menyelidiki apa yang terjadi" batinku
"sebentar lepas cincinnya, sepertinya itu cincin penyimpanan" terdengar teriakan seseorang, terasa cincin dijari tengah dilepas saat tubuhku diangkat lalu dibawa pergi beberapa orang.
"hahaha" tawa dua orang terdengar keras.
"bukk" tubuhku setengah dilempar, tapi ada tangan cekatan yang menahan supaya tidak terlalu keras terjatuh.
Langkah kaki mereka yang mengangkatku terdengar menjauh.
"ohh, kasian anak muda ini" ucap seseorang terdengar, "terima kasih sudah menangkap tubuhku" ucapku sambil membuka mata, semua orang terkejut mendengar suaraku, ada beberapa yang sampai melompat kebelakang.
"maaf membuat paman semua terkejut" ucapku sambil tersenyum, sambil memperhatikan mereka. Tiga orang tua dan ada dua belas orang berpakaian prajurit, para prajurit terlihat masih muda dan cuma satu yang usianya lebih tua dari lainnya.
"siapa kamu" terdengar nada keras seorang pemuda berpakaian prajurit.
"aku hanya seorang pengelana biasa" ucapku santai, "namaku gion komandan dari satuan kecil ini dan bagaimana kamu bisa turut disekap disini" tanya prajurit yang lebih tua dengan nada sedikit bersahabat.
Mulailah aku ceritakan tentang kejadian tadi pagi sampai akhir.
"oh dewa, sampai kapan desa kami lepas dari mereka" terdengar pelan keresahan salah satu dari tiga orang tua disampingku
"apa yang sedang terjadi paman" tanyaku
"emang kalau sudah tahu kamu bisa apa" tanya prajurit yang tadi dengan nada tetap tinggi.
"maaf aku tidak tanya padamu, lagi pula kamu itu prajurit apa anggota mereka yang diselundupkan disini" cibirku "jaga mulutmu" teriaknya
"plakk" tamparan komandan gion mendarat dipipi prajurit itu
"tenangkan dirimu" bentaknya.
__ADS_1
"maaf komandan" ucapnya lalu kami terdiam tanpa kata.
Mulailah ketiga orang tua disampingku bercerita secara bersahutan, sambil mereka memperkenalkan diri masing masing. Paman saian adalah kepala desa yang asli, paman busan sesepuh desa dan paman gucian saudagar didesa ini.
Desa yang dulu asri kini berubah menjadi markas sekte kelelawar hitam. Sebuah sekte kecil beraliran hitam, melihat sepak terjang mereka malah seperti gerombolan perampok. Para prajurit yang disekap diruangan ini tidak bisa berbuat banyak karena selain kalah jumlah juga disebabkan mereka terkena racun.
Warga desa yang selamat tua dan muda disekap dalam sebuah rumah besar milik saudagar gucian. Banyak hal yang diceritakan membuatku bisa memahami apa yang sedang terjadi saat ini.
"paman bertiga, seandainya desa ini aku hancurkan apa berkenan" ucapku
"bisa saja asal selamatkan para warga desa" ucap paman saian.
"********, apa maksudmu" teriak prajurit tadi tak bisa menahan emosi.
"paman bertiga telan pil ini" kataku sambil menyerahkan tiga pil penawar racun tanpa menghiraukan teriakan prajurit yang melotot marah padaku.
"komandan gion telan pil penawar racun ini sebab aku butuh bantuanmu" lanjutku, dengan santainya keempatnya menelan pil yang aku berikan.
Rona merah terlihat dimuka mereka, sepertinya menahan sakit.
"huueekkkkk"."huueekkkkk" cairan hijau mereka muntahkan, setelah lama bergulat dengan rasa sakit yang ditahannya.
Terlihat komandan gion lemas karena lebih banyak muntahan yang keluar.
"kalau terjadi sesuatu pada komandan jangan harap kamu bisa keluar dari sini" prajurit yang tadi tetap dengan amarahnya padaku.
"kita tidak pernah bertemu, kenapa dari tadi kamu seperti tidak suka padaku" ucapku sedikit sinis
"*******, untung racun ini membuat tenaga dalamku hilang, kalau tidak" ucapnya menahan amarah, sedang prajurit lain hanya diam sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya.
"mulutmu ternyata lebih hina daripada penjarah desa ini, hahaha" hinaku sambil tertawa
"bangs**t" teriaknya
"tunggu sebulan lagi, pamanku pasti dapat membebaskan kami"
"hahaha, emang siapa pamanmu" tanyaku
"komandan telik sandi ghu cun" jawabnya tegas
"whahaha, emang kalau sebelum komandan cun datang kamu sudah tewas, trus bisa apa kamu" ledekku
"bangs**t, awas kamu" merah mukanya menahan amarah yang semakin memuncak.
"terima kasih nakmas, tubuhku rasanya mulai pulih" ucap komandan gion.
"tak perlu berterima kasih, sudah kewajiban kita saling tolong menolong" ucapku sok bijak
"paman bertiga bagaimana"
"sudah baikan nakmas, terima kasih" jawab mereka
__ADS_1
"cepat berikan pilmu pada kami" sela prajurit tadi,
"emang siapa kamu seenaknya memerintahku" ucapku sambil mencibirnya
"ghunan jaga ucapanmu, lihat situasi kita sekarang" teriak tegas komandan gion. Melihat raut muka tegas komandannya prajurit itupun diam, diiringi senyum mengejek temannya.
"awass" gumannya pelan.
"sepertinya paman berempat berada pada tahap pendekar mahir" ucapku
"benar nakmas"
"apa benar nakmas ditahap menengah"
"seperti yang paman ketahui saja dimana tahapku"
"apa rencana yang nakmas pikirkan"
Sambil menunjukkan lencana yang aku bawa pada komandan gion aku berkata
"ikat prajuritmu tadi dan sumpal mulutnya"
"baik" ucapnya sambil hormat setelah mengetahui lencana perak berukir emas.
"******* muka jelek miskin, cuma pendekar rendah sudah sombong kamu" teriaknya tak mampu menahan emosi. "plakkk, plakkk" dua tamparan mendarat diwajahnya. "bruukkk" terdengar dia jatuh lalu terdiam karena pingsan. "ikat dan sumpal mulutnya"
"baik komandan" jawab prajurit lain serentak.
Mereka melaksanakan perintah dan terlihat bingung dengan situasi yang terjadi.
"rencanaku begini paman" ucapku lalu membeberkan rencana yang terlintas dipikiranku.
Untuk langkah awal kita akan memusnahkan lumbung pangan dan harta mereka, selanjutnya pisahkan warga dengan anggota sekte karena kalau terpaksa tidak bisa dilumpuhkan saja terpaksa kita habisi mereka. Dan beberapa rencana lagi yang terakhir komandan gion harusĀ sembunyi sembunyi keluar untuk minta bantuan pasukan keamanan dikota terdekat.
Sambil mendengarkan, mereka berempat juga membeberkan situasinya, tempat penyimpanan bahan pangan dan harta jarahan mereka, tempat warga dikumpulkan dan diawasi dengan ketat. Ada dua pemuda desa terpaksa jadi anggota sekte yang tiap sore mengantar makanan dan membocorkan setiap perubahan situasi yang terjadi.
"baiklah kita tunggu informasi dari mereka dulu paman" ucapku,
"paman berempat tolong sembunyikan tahapan pendekarnya biar tidak terbongkar kalau kita sudah bebas dari racun mereka"
"bagaimana caranya nakmas" ucapnya,
"begini" jawabku lalu mengajari mereka, setelah mempraktekkan dan menekan sampai tahap pendekar awal tingkat satu.
"kita istirahat dulu menunggu kabar dari luar" ucapku
Keheningan tercipta diantara kami berlima, sedang para prajurit bisik bisik tentang rencanaku yang samar mereka dengarkan.
"hah, huh" terdengar suara teredam, ternyata prajurit yang pingsan tadi sudah siuman, dengan wajah bingung mengetahui kondisinya terikat.
Dua pemuda datang mengantar sedikit makanan dan seguci air putih, terlihat salah satu pemuda berbisik pada kepala desa, beberapa informasi tentang sekte dan para warga yang sudah empat bulan ini dijadikan budak oleh mereka. Para lelaki diladang, para perempuan mengerjakan tugasnya, semua dengan pengawasan dengan ketat
__ADS_1