
Sementara Louyin menjelaskan identitas Chuan sebagai pemilik balai lelang. Juga beberapa informasi yang disampaikannya. Bahkan serikat dagang bintang perak menghormati tuan muda kami.
"jika klan gu ingin memperpanjang masalah dengan Chuan, maka maafkan kami kalau balai lelang akan pasang badan untuknya" ucap Louyin mengakhiri penjelasannya.
Identitas Chuan yang sedikit diungkap oleh Louyin membuat semua yang hadir ditempat itu terkejut.
'apa lagi yang dirahasiakan anak itu' pertanyaan itu muncul dalam pikiran semua orang.
Namanya yang tiba tiba muncul tanpa diketahui asalnya. Namun dua kekuatan yang berpengaruh ada dibelakangnya. Juga semua orang dekat Chuan tidak ada yang mau menceritakan asal usulnya.
Sektenya yang baru berdiri, namun seperti harimau yang tertidur. Tidak pernah terdengar membuat onar, mereka lebih focus dalam pembuatan pil. Selain itu, pengobatan yang murah untuk warga desa disekitarnya membuat mereka mencintai sekte tersebut.
"juga dua kekuatan besar itu" ucapan pimpinan Klan Gu terdengar seakan mencari jawaban dari rasa penasarannya.
"Wakil Xiao, kenapa dari tadi diam saja" tanya Komandan Xhuan pada wakilnya.
"aku bukan apa apa kalau dibandingkan anak itu" jawab Wakil Xiao.
"maksudnya" tanya Komandan Xhuan.
"meskipun aku masih tahap langit" ucap Xiao mulai menjelaskan.
Kekuatan jiwa Xiao sudah ditingkat surga awal. Xiao memang lebih unggul dalam hal formasi, jadi dia mengutamakan kekuatan jiwanya. Beberapa tehnik serangan jiwa juga dipelajarinya.
Namun kali ini dia harus kecewa dan muncul sedikit kekhawatiran dalam hatinya. Karena tadi pagi sempat menguji kekuatan anak itu dan gagal. Tiga kali serangan jiwa dibuyarkan dengan santai, tanpa ada perubahan dalam raut wajahnya.
Penjelasan yang disampaikan Wakil Xiao membuat semua yang ada diruang itu semakin terdiam. Saat mereka semua tenggelam membicarakan Chuan dan sekte hutan suci, ditempat lain terjadi keributan.
Para penjaga sekte teratai merah dengan arogan menghentikan Chuan dan rombongannya. Namun Teikong dengan nada keras membentak mereka. Tersinggung karena bentakan itu mereka menghunus pedang masing masing. Beberapa murid sekte yang melihat juga terlihat bersiap siap membantu para penjaga.
Teikong tetap dengan nada kasar meminta para penjaga untuk mempertemukan dengan patriak sekte. Chuan dan rombongannya menekan kultivasi mereka sampai ditahap mahir. Hal itu membuat para penjaga lebih berani mengusir dan mengancam Chuan dan yang lain.
Namun kali ini, beberapa olokan Teikong sukses membuat para penjaga marah.
"pergilah sebelum emosi kami memuncak, kalian tidak pantas masuk kesekte kami" ucap seorang penjaga
"whahaha, anjing sekte seperti kalian juga tak pantas menilai kami" tawa Teikong semakin menyulut emosi para penjaga.
"usir saja dengan kekerasan" ucap penjaga tersebut. Seorang penjaga lain langsung menanggapi seruan itu.
"hiatttt" teriak penjaga yang bertindak, dan langsung menyerang Teikong.
"hehehe" terdengar tawa Teikong sambil terus menghindari serangan tersebut. Mendengar tawa mengejek, amarah penjaga itu semakin tersulut. Serangannya makin ganas dan kejam.
Melihat temannya tidak dapat menekan Teikong yang hanya menghindar, tiga penjaga lain mulai turun tangan. Teikong mengeluarkan pedang tumpulnya, untuk menangkis serangan empat penjaga.
Masih mempermainkan keempatnya, Teikong mulai sedikit menggoreskan ujung pedangnya. Beberapa luka kecil terlihat dikeempat orang itu.
"tak ada banyak waktu, lumpuhkan saja mereka" teriak Chuan. Mendengar teriakan tersebut, Teikong mulai membalas. Tak selang lama keempat penjaga mulai terdesak. Para murid yang melihat mulai menghunus senjata mereka, dan serentak membantu keempatnya.
Dalam keroyokan itu, Teikong malah semakin semangat. Satu persatu para murid dan penjaga roboh. Ada yang patah lengannya, dan banyak yang terluka karena tusukan pedang tumpul.
__ADS_1
"berhenti" teriakan menggema terdengar dari belakang para murid yang belum bergerak. Teikong segera melompat kesamping Chuan dan yang lain. Sedang para murid bergegas membantu teman mereka yang terluka.
"apa yang terjadi" ucap seorang paruh baya.
"mereka memaksa untuk bertemu patriak dan juga mengolok olok para penjaga" jawab seorang murid sekte. Orang itu lalu mendekati rombongan Chuan.
"siapa kalian dan apa tujuan bertemu patriak kami" tanya orang itu.
"kami dari sekte hutan suci dan membalas kunjungan patriak kalian" jawab Teikong.
"oohhh dari sekte hutan suci, mari silahkan masuk dan maaf kesalah pahaman ini" lanjutnya sambil terlihat ramah dan menekan kemarahannya.
Chuan hanya tersenyum melihat kepura puraan tersebut. Dengan santai Chuan mengajak rombongannya untuk mengikuti pria paruh baya itu. Dalam diam mereka terus melangkah dan masuk dibalai utama sekte. Didalam ruangan yang luas tersebut, Chuan dan yang lain disuruh duduk dan menunggu.
Sementara ditempat lain, patriak sekte dan beberapa tetua sedang berkumpul.
"siapa mereka" tanya patriak pada pria paruh baya yang baru memasuki ruang itu.
"mereka dari sekte hutan suci, semua menyembunyikan tahapannya" jawab pria itu.
"mari temui mereka" lanjut patriak sekte.
Chuan dan yang lain menunggu dengan santai sambil berbincang ringan. Dari sisi lain terlihat rombongan patriak sekte yang mendekat, dan mulai duduk didepan Chuan.
"whahaha, selamat datang disekte kami" ucap patriak dengan tawa sombongnya.
"terima kasih patriak" ucap Chuan
"hahaha"
"hahaha"
"hehehe" terdengar tawa dari orang orang disamping patriak sekte.
"ada apa kalian mengunjungi sekte kami" tanya patriak.
"membalas kunjungan patriak sekte" jelas Chuan. Juga tentang ancaman patriak sekte waktu itu, Chuan minta untuk tidak diperpanjang masalahnya.
"whahaha" tawa patriak sekte lalu menjelaskan, kalau Chuan minta permasalahan mereka selesei, pihak sekte cukup mengirim seribu pil emas tiap tiga bulan. Namun jika tidak jangan harap sekte teratai merah diam atas pengusiran Tetua Tian waktu itu.
"seribu!! ini perampokan namanya" ucap Teikong
"hahaha terserah apa katamu, kalau tidak setuju kalian kami jadikan sandera disini" ucap seorang tetua sekte teratai merah.
"apa tidak bisa kita bicara dengan hati yang dingin" ucap Chuan.
"apa pantas kau bicara seperti itu" ucap patriak.
"maksudnya" ucap Chuan.
"beraninya sekte kecil seperti kalian mengusirku saat itu" kata patriak sedikit bernada tinggi.
__ADS_1
"baiklah kalau tidak ada yang dibicarakan lagi" ucap Chuan.
"kalau kalian tetap memperpanjang masalah ini apa boleh buat, kami juga akan bersiap diri" lanjut Chuan.
"whahaha apa kau kira bisa keluar dari tempat ini" ucap patriak sekte lalu bertepuk tangan tiga kali.
Terlihat dua puluhan penjaga memasuki ruangan. Para penjaga yang berada ditahap bumi mulai berjaga dibelakang tempat duduk rombongan Chuan.
"maafkan kami kalau kurang ajar disekte kalian" ucap Chuan.
"hahaha apa yang bisa kalian lakukan, menurut saja akan kemauan kami" ucap patriak sekte.
Chuan dan yang lain berdiri, lalu mengeluarkan pedang tumpulnya.
"maaf kami bukan domba gemuk seperti yang kalian pikirkan" ucap Chuan, kemudian memandang para wakil tetuanya dan mengangguk memberi isyarat.
"lumpuhkan mereka" teriak patriak sekte, diikuti sikap siaga para penjaga dan tetua yang hadir ditempat itu. Mereka mulai menghunus senjata masing masing.
"apa boleh buat, hancurkan mereka" ucap Chuan lebih sengit, membuat ketiga wakilnya dan Teikong mulai bergerak kearah para penjaga. Sementara ada dua wakil tetua tetap siaga disamping Chuan.
"hiattt" teriakan terdengar, dan pertempuran terjadi.
'Tring, tang' suara senjata mereka beradu. Keempat orang dipihak Chuan dengan santai menyerang para penjaga.
"hahaha anjing bodoh seperti ini dijadikan penjaga sekte" ucap Teikong mengejek, sambil dia terus melayani pengerokan para penjaga.
"hahaha"
"hahaha" terdengar tiga wakil tetua juga tertawa senang bisa mempermainkan mereka.
Jurus demi jurus telah mereka keluarkan, namun keempat orang itu tidak terdesak sama sekali. Namun semakin lama gerakan keempatnya semakin cepat.
Disisi yang lain, wajah patriak sekte teratai merah mulai serius. Dalam penglihatannya, patriak tahu kalau para penjaga sedang dipermainkan keempat orang itu.
"sudah bermainnya, hancurkan mereka" teriak Chuan terdengar lagi. Dan tiba tiba serangan keempat orang itu semakin cepat dan berubah ganas. Titik vital para penjaga terlihat menjadi sasaran dari serangan keempatnya.
"achh" teriakan keras mulai terdengar. Satu demi satu para penjaga roboh. Sudah empat orang yang tumbang, namun tak berhenti disusul yang lain.
"Tetua Chuan" teriak patriak sekte terdengar.
"habisi mereka semua" teriak Chuan tanpa menghiraukan panggilan patriak sekte.
"para tetua bantu mereka, apa yang kalian tunggu" teriak patriak sekte geram.
Empat tetua tahap langit terjun kekancah pertempuran tersebut. Namun setengah dari para penjaga sudah roboh tak bangun lagi. Meskipun empat tetua membantu, namun semangat para penjaga sudah terlanjur jatuh.
Datangnya bantuan bukan merubah keadaan, namun pihak Chuan tetap diatas angin. Satu demi satu terluka parah dan mulai roboh. Juga keempat tetua yang baru turun sudah mulai terluka.
"hentikan, apa yang kalian lakukan disekteku" terdengar teriakan marah dan menggema dari jauh. Disertai angin menderu membubarkan keributan yang sedang terjadi.
*MOHON MAAF ATAS LAMBATNYA UPDATE KAMI*
__ADS_1
Karena kerusakan HP membuat kami menulis ulang kelanjutannya, dan berusaha untuk menyelesaikannya.