
"hahaha"
"tetap kak Chuan"
"asyik tetap kak Chuan" tawa dan celoteh anak anak terdengar.
"mungkin Tetua Tian baru bermimpi" ucap Xixie.
"kalau aku mimpi kak Chuan jadi ayahku" sambung Ninie, disambut tawa teman temannya.
"hahaha, Ninie" tawa keras Chuan membuat semua anak diam.
"kenapa kak" ucapnya datar.
"emang kapan aku menikah dengan ibumu" ucap Chuan membuat Ninie menunduk.
Chuan lalu meraih Ninie yang lesu. Dia kemudian menjelaskan, Ninie dan yang lainnya jangan hanya menganggap kak Chuan seperti ayah. Kalian semua boleh menjadikan chuan, seperti ayah, seperti ibu, seperti kakak, bahkan seperti teman kalian. Asal jangan menjadikan kak Chuan sebagai musuh saja.
"kakkk" jerit anak anak menangis memeluknya. Chuan mengelus kepala mereka satu persatu. Didepan rumah para tetua dan yang lain juga tanpa mereka sadari, air mata menetes tanpa terbendung.
Ninie yang menangis sesegukan tetap erat memeluknya, saat yang lain mulai melepaskannya. "Ninie boleh menganggap kak Chuan sebagai apapun, sekarang tidak boleh sedih lagi" ucap Chuan hanya dijawab anggukan.
"untuk para tetua dan yang lain, panggil semuanya kakek tetua, karena mereka adalah kakek kalian semua" ucap Chuan.
"benar kak" ucap Xue.
__ADS_1
"iya" jawab Chuan.
"horreeee"
"asyik"
"kakekku banyak" celoteh anak anak semakin riang gembira.
"sudah sore, mulai bergantian mandi" ucap Chuan.
"iya kak" jawab mereka lalu berhamburan beraktifitas lagi, menunggu giliran untuk mandi.
"salam semauanya" ucap Chuan setelah menghampiri para tetua dan yang lain.
"salam Chuan, mari masuk dulu" ucap Tetua Tian.
Beberapa murid sekte utama mengawasi gang masuk rumah ini setiap saat. Tetua satu dan tetua Zhao sudah datang bersama muridnya. Mereka merasa kagum dengan ketangguhan anak anak.
Bahkan banyak diantara mereka merasakan kelelahan saat latihan. Tetua Zhao dan muridnya menawarkan diri untuk mengantar mereka kehutan suci. Bahkan sudah dapat ijin dari walikota untuk mengawal rombongan Chuan dan yang lain.
"baiklah, nanti coba aku cek dulu" ucap Chuan saat Tetua Tian selesai menjelaskan situasi yang terjadi. Setelah memantau situasi dan kesiapan dihutan suci, nanti Chuan akan membahas lagi tentang keberangkatan mereka.
Malam semakin larut, sebuah bayangan melesat menuju rumah tetua tiga. Kejadian bulan lalu tertutupi oleh kesibukan untuk suksesnya sebuah ambisi.
"aku kerumah tetua dua, kalian jaga rumah dan kalau ada berita segera susul kesana" ucap tetua tiga.
__ADS_1
"baik tetua" ucap muridnya.
Sepeninggalan tetua tiga, Chuan diarahkan untuk menguras seisi rumah untuk kedua kalinya. Ruang penyimpanan yang baru dirasakan oleh jiwa Patriak Lion.
Setelah menguras semuanya, Chuan lalu menggeledah kamar pribadinya. Pintu yang dia kunci dari dalam membuatnya leluasa mengosongkan barang simpanan yang lain.
Setelah cukup, dia menuang mengambil dua guci arak dan menuangkan ditempat tidurnya. Almari baju tak lupa disiramnya juga. Api kecil diujung jarinya ditembakkan ketempat tidur dan almari.
Sebelum api membesar dia segera melesat menerobos atap dan segera menjauh. Asap mulai terlihat menerobos atap yang dibiarkan Chuan terbuka. Alas tidur dan pakaian yang mudah terbakar membuat api semakin besar.
Para murid sedang kebingungan memadamkan api tersebut. Tapi terlihat dua orang berlari cepat menuju rumah besar lainnya, untuk melaporkan kejadian yang ada.
Tetua dua dan tetua tiga beserta istri istrinya keluar rumah dan segera menuju tempat kejadian. Terdapat juga penatua yang pernah chuan permalukan ada diantara mereka.
Chuan segera menuju rumah tetua dua dan akan melakukan hal yang sama. Kepanikan sebelumnya membuat tetua dua lengah. Dengan mudah dia menyusuri rumah tersebut.
Chuan juga menemukan berpuluh puluh guci arak dirumah itu. Dua puluhan guci besar masuk dicincin naga, sedang yang lain disebar kesemua ruang yang tak ada orangnya.
Setelah meninggalkan rumah tetua dua, ternyata api yang ditinggalkan Chuan menghanguskan rumah tersebut dengan nyala yang lebih hebat. Ledakan guci arak terdengar beberapa kali.
"semoga bisa melemahkan kekuatan mereka" ucap Chuan pada Patriak Lion.
"kalau tetap melanjutkan ambisinya, baru kita lumpuhkan kultivasinya" ucap Patriak Lion.
"baik guru" ucap Chuan.
__ADS_1
"cepat kembali, para warga sudah keluar menjaga rumah mereka sendiri, agar api tidak merambat kerumah mereka" ucap Patriak Lion