Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Konyol


__ADS_3

"selesai sudah" ucapku sambil turun dari tempat tidur. "baringkan saja dia hanya pingsan, mungkin siang baru sadar" jelasku


"basuh seluruh tubuhnya dengan air hangat lalu kenakan pakaiannya"


"terima kasih tuan muda" ucap nyonya saudagar sambil sujud dan menangis.


"bangunlah nyonya, sudah kewajiban kita untuk saling tolong menolong"


"bakar semua handuknya nyonya" lanjutku dijawab anggukan karena masih terisak.


"sudahlah nyonya kalau adik kecilnya bisa bangun berarti suamimu selamat" kata jahilku keluar.


Dengan senyum yang mengembang, isak tangispun sedikit keras terdengar.


"nyonya besar jangan kau goda terus" kata tuan chu guan sambil tersenyum.


"saya ambil air hangat dulu" kata nyonya sambil mengusap air mata dan keluar kamar.


Kembali dengan sebaskom air hangat kami bertiga membersihkan tubuhnya lalu mengenakan pakaian bersih. Kami bertiga keluar kamar setelah semua selesai.


Terlihat yang lain tertidur dikursi ruang tamu.


"karena sebentar lagi pagi maka kami pamit nyonya" ucap tuan cu ghuan


"lho, bagaimana kami membalasnya" balas nyonya hulian


"tetaplah bekerja sama dengan bintang perak, semoga kita bertemu lagi" ucapku, membuat nyonya terdiam dan sesekali terlihat air matanya menetes.


Setelah membangunkan rombongan yang tertidur kami pun berpamitan. "minumkan pil ini sehari satu, adiknya biar istirahat seminggu dulu nyonya" ucapku saat berpamitan, sambil memberikan tujuh pil penawar racun.


Terlihat senyum dengan wajah merona


"terima kasih tuan muda" balasnya sambil membungkuk dalam.


Suara kereta dan derap kuda memecah kesunyian pagi yang masih gelap. Didepan penginapan beberapa pelayan menyambut sambil masih terlihat masih mengantuk.


Rombongan kami masuk dan mengambil tempat duduk. Dua pengawal duduk ditempat lain


"tolong paman kusir diajak masuk" ucapku pada dua pengawal itu.


"Pesanlah kalian, saya yang membayar" kata tuan chu guan semangat sambil memberikan beberapa koin emas, "bangunkan temanmu yang lain, sisanya bagi buat kalian" lanjutnya, pelayan disampingku menerimanya sambil tersenyum.


"angsa api utuh lengkap" ucapku pada pelayan disampingku, yang lain pesan sesuai selera masing masing.


Karena masih terlalu gelap, maka agak lama hidangan kami datang.


"bagaimana kondisi saudagar hulian" tanya nona lin memecah kesunyian. nama yang terdengar ketika tuan cu ghuan memanggilnya di beberapa kesempatan.


"tuan muda sudah menyelamatkannya, mungkin dua hari lagi datang kekantor kita" jawab tuan cu ghuan


"whahaha, hahaha" kemudian tertawa dengan lepas tanpa bisa ditahannya.


*


didesa mekar, tiga hari setelah kejadian itu. Wajah cerah tetua xuan dan juga kelihatan lebih bersih telah menyelesaikan mdiitasinya.


"kenapa nakmas dilepaskan pergi" ucapnya sambil air mata mengalir


"tiga hari meditasi tanpa henti, bagaimana bisa menahannya pak" jawab bibi juga berlinang


"tetua liu dan cucunya sudah begitu besar hutang budi kami, bagaimana kami membalasnya" ucap paman disertai tangisnya pecah


"jaga desa mekar dan pesisir, hanya itu pesannya"


"dengan nyawaku akan aku jaga dua desa ini" janjinya terucap


"sudahlah pak, doakan saja nakmas selalu dalam lindungan dewa yang agung"

__ADS_1


"iya bu, setelah tahapan pendekarku kembali, akan aku latih semua anak desa, dan engkau juga tingkatkan tahapanmu" 


"iya pak" jawabnya lalu suami istri tersebut berangkulan sambil menangis.


Terukir niat dalam hatinya


"keluargaku dan warga dua desa mulai hari ini harus juga bahagia sepertiku saat ini"


*


"ada apa tuan" tanyaku penasaran


"aku teringat kata katamu yang usil pada nyonya hulian" "hemm" gumanku sambil tersenyum.


Setelah hidangan tersaji, tak menunggu lama kami langsung menyantapnya.


"ludes dech" gumanku, orang orang dari bintang perak tersenyum melihatku.


Ternyata mereka sudah selesai duluan, sebab pesanan mereka tidak sebanyak milikku.


"maa tuan muda, kami permisi dulu" kata tuan chu guan berpamitan.


"baiklah, hati hati semuanya"


"terima kasih tuan muda".


Selepas kepergian mereka, aku langsung menuju kamarku. "ahhh" lelah juga tubuh ini, aku minum pil nutrisi dan penguat tubuh lalumeditasi dulu memulihkan tenagaku.


Mulailah tenggelam dalam meditasi, menyerap efek pil dan sedikit energi alam. Cukup lama meditasi aku selesaikan.


Bangun dari meditasi terdengar ramai didepan kamarku. "ada apa ini" tanyaku sambil membuka pintu.


"ini orang yang menyinggung tuan muda, ayah" ucap pemuda yang ikut dengan anak walikota kemarin.


Didepanku terlihat prajurit yang kemarin. Anak muda ini ternyata anak prajurit yang berulah itu.


"plak, plak" suara tamparan terdengar diikuti pemuda itu terjatuh.


"ayahhh" teriaknya


"diamm,,, anak kurang ajar, sudah sering kali buat masalah, mau bikin ayahmu ****** yaa" teriaknya marah


"maafkan kami tuan" lanjutnya sambil membungkuk "plak" tamparan sekaliku membuatnya terguling.


"ajari anakmu dengan benar, atau aku yang mengajarinya" lanjutku.


"biar saya saja tuan, mohon maafkan kami" katanya cemas


"sudah pergilah" ucapku.


Prajurit lain dan beberapa pelayan bengong melihatnya, dan rombongan itupun pergi.


"tolong siapkan kudaku" ucapku sambil menatap pelayan penginapan.


"baik" sahutnya.


"sekalian bawakan pakaianku yang dicuci"


"sebentar lagi diantar kekamar" jawabnya.


Kembali tiduran dikamar tapi pintu tetap terbuka. Tak selang lama seorang wanita mengetuk pintu lalu masuk kamar


"ini pakaiannya tuan"


"terima kasih" jawabku sambil menerima dan memasukkan kecincin.


Dia bengong melihatnya

__ADS_1


"ini kunci kamarnya" ucapku sambil berjalan menuju lantai bawah, senyum para pelayan terlihat saat melewatinya.


Hangat mentari senja terasa,


"butuh meditasi seharian untuk memulihkan tenagaku" batinku. Energi alam dikota terlalu sedikit, butuh pil atau mustika untuk berkultivasi. Menurut kepala cabang bintang perak, ada tiga sekte menengah yang menjadi pelanggan tetap nya.


Kudaku berjalan pelan menuju serikat dagang, dua pengawal langsung mendekat saat melihatku turun dari kuda,


"biar kudanya kami yang mengurusnya"


"terima kasih" ucapku sambil berlalu masuk kedalam.


Seorang wanita segera mendatangiku


"tuan muda ditunggu kepala cabang diruangannya"


"baik, aku kesana" seperti kemarin, langkahku diiringi bisik bisik pengunjung.


"hahaha, silahkan masuk tuan muda"


"panggil saja chuan, aku lebih enak mendengarnya, tuan" "baiklah kalau gitu panggil saja aku, paman"


"apa tidak kakek saja, hehehe" ucapku sambil tertawa kecil.


"hahaha terserah kamu dech" jawabnya sambil tertawa "ada yang bisa paman bantu"


"apa paman punya peta"


"wah tidak ada, dicabang ibukota nanti ada, tapi perjalanannmu akan sedikit jauh kalau ke ibukota dulu" tanpa aku minta dia mulai menjelaskan medan yang akan aku lalui.


Dua kota lagi yang akan terlewati dan banyak desa. Ada tiga hutan kecil dan dua hutan besar. Satu hutan besar diperbatasan harus ektra hati hati melintasinya.


Selain beberapa kelompok perampok didalam hutan masih ada hewan buas. Dia melarangku masuk hutan lebih dalam sebab terkadang muncul hewan buas siluman.


Sarannya untuk mengambil arah kekanan walau sedikit memutar. Semangat membara saat memberi penjelasan, seakan menggugah kenangan masa silam.


Panjang lebar dia menjelaskan, sedikit rasa penasaran tentang area dalam dihutan perbatasan. Hanya memendam rasa itu, tanpa mau mengatakannya.


"adakah tempat yang kau cari disana"


"tujuanku kesekte pasir putih" jawabku


"kalau sekte itu saya tahu"


"dulu sekte itu penyedia utama diserikat ini" mulai bercerita lagi.


Perpecahan dalam sekte yang membuatnya hancur, sekarang hanya sebuah sekte kecil. Paling lama enam bulan untuk sampai kesana. Dan banyak lagi gambaran yang disampaikan tentang sekte.


"bisa minta tolong jualkan kudaku"


"dimana kudanya"


"dibawa dua penjaga didepan"


"bisa" sambil menyerahkan seratus koin emas


"apa tidak kebanyakan paman"


"ambil saja".


"Terimakasih, karena sudah malam aku pamit" "hati hati chuan"


Setelah memberitahu penjaga kalau kuda itu milik boss mereka, aku mulai menyusuri jalanan kota. Geliat malam terasa indah, kemerlap lampu menghiasi sepanjang jalan. Kaki melangkah kian jauh, semakin kuat niat dalam hatiku, kenapa harus menunda lagi.


Dijalanan yang sedikit sepi "saatnya mencoba ilmu naga terbang diawan" batinku, dan mulai mengeluarkannya. Tenaga dalam aku kumpulkan kekaki.


"hiatt" teriakku pelan sambil melompat, lesatan panjang seakan tubuhku yang ringan. Sekali melesat sudah diluar gerbang kota, melesat semakin jauh.

__ADS_1


__ADS_2