Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Peninggalan


__ADS_3

"apa pantas aku menerimanya" lanjutku


"terimalah nakmas, sekembali dari benua selatan temui aku dengan menunjukkan lencana ini" ucapnya


"baiklah tuan" sambil menerima lencana tersebut dan memasukkan kekantong baju.


Obrolan kami berlanjut, sambil menikmati camilan dan minum yang disuguhkan dua pelayan yang selamat. Para pemuda diminta untuk mempersiapkan diri sebab enam bulan lagi ada perekrutan prajurit.


Secara rinci komandan cun menjelaskan ke para pemuda.


"tuan cun, enam bulan ini biar para pemuda berlatih bersamaku" kata paman xuan, "seminggu lagi datanglah kalian kerumahku" lanjutnya


"iya paman" jawab pemuda serempak


"ada lima puluhan kuda yang ditinggalkan para perampok, tiap pemuda pilihlah satu untuk kalian" kata komandan cun


"terima kasih tuan" jawab kami serempak


Kamipun membubarkan diri, para prajurit tetap tinggal sementara dirumah saudagar wang, sedang warga yang sudah mengambil harta benda yang sebelumnya dijarah perampok mulai pulang ke rumah masing masing.


"biar kuda kuda ini dirumah kepala desa, saudara zanzan besok kembalilah untuk berlatih naik kuda" ucap liu


"baiklah saudaraku kami pamit dulu" balas mu zan


Terlihat ketujuh pemuda desa pesisir melangkah pulang kedesanya. Aku dan paman xuan melangkah kerumahnya


"itu rumah paman nakmas" kata paman xuan menunjuk rumah yang cukup besar


"salam nakmas, aku istri paman xuan" ucapnya seorang perempuan muda ramah


"usia paman berapa sih" tanyaku iseng pada paman sambil cengar cengir


"wah aku sudah lupa usia nakmas, hahaha" jawabnya sambil tertawa tahu keusilanku


Setelah aku membersihkan diri kami bertiga ngobrol santai, menceritakan pengalaman kami.


"nakmas ini kitab pedang naga dan cincin peninggalan tetua liu" ucapnya mengakhiri ceritanya sambil menaruh sebuah kitab usang dan cincin dimensi


"apakah tidak lebih baik paman saja yang menyimpannya" kataku


"ambillah agar beban orang tua ini sedikit berkurang, lagi pula paman sudah menguasainya tapi tidak berguna sebab dentianku rusak" ucapnya sambil berlinang air mata dan mulai hanyut dalam kesedihannya.


"pak" tegur istrinya juga berlinang, "pamanmu selalu menangis ketika memandang kitab itu nakmas" lanjutnya.


 


Terasa getaran halus ketika memegang kitab pedang naga


 


"kitab ini saya terima paman" kataku sambil memasukkan dicincinku. Kemudian cincin kakek liu aku keluarkan semua isinya, beberapa koin emas dan perak, ada juga perhiasan, pil dan beberapa kitab ilmu silat.


Koin dan tiga kitab aku masukkan kecincinku, sedang yang lain aku masukkan lagi kecincin kakek.


"apa tahapan pendekar bibi"


"tahap awal tingkat akhir nakmas, tapi sekarang bibi tidak pernah berlatih lagi"


"tolong ulurkan tangan bibi" lanjutku, setelah memegang tangannya lalu aku tusukkan jarum perak diujung jarinya.


"ach" gumannya pelan, lalu aku teteskan darahnya kecincin kakek.

__ADS_1


"pakailah dengan mengalirkan tenaga dalam, bibi bisa menyimpan dan mengeluarkan isinya"


Cincin yang sedikit kebesaran lalu menyesuaikan dengan jari bibi


"oh" ucapnya terkejut


"nanti malam coba saya lihat dentian paman, mohon sediakan ruangan besar biar bibi bisa menemani"


"diruang ini saja, nanti bibi dan pembantu yang memindahkan meja kursinya"


"bisa bi" ucapku


Sore hari yang cerah, aku diajari naik kuda oleh paman liu


"hahaha, ada pendekar tidak bisa naik kuda" celetuknya menertawakanku.


Setelah beberapa lama akupun mulai terbiasa, lalu kami berdua berkeliling desa naik kuda. Semua warga menyapaku ketika kami lewat


"wah pamor kepala desa hilang jika bersama nakmas, hahaha" ucapnya riang


Akupun cuma senyum dan membalas sapa para warga.


Malam mulai turun, didalam rumah selain kami bertiga ada tiga perempuan paruh baya yang setia menemani paman dan bibi


"apa paman sudah siap" ucapku sambil mengeluarkan mustika bumi, terpancar sinar kehidupan yang kuat dari mustika tersebut.


"mustika apa itu, paman tidak berani menerimanya, percuma paman sudah tua nakmas" ucapnya serius


"mustika bumi untuk para pendekar usia bisa panjang, bahkan usia paman sekarang sedah lebih seratus tahun, kalau paman pasrah nanti siapa yang menemani bibi, hahaha" ledekku


"bagaimana paman membalasnya nanti"


"whahaha mau minta anak gadis juga gak punya" usilku


"baiklah nakmas", akupun menjelaskan seperti apa yang diberikan tuan yu san dan kakek dulu.


Panjang lebar penjelasanku pada semua, supaya prosesnya tidak terganggu oleh siapapun.


Aku memasukan mustika kepusarnya dengan ilmu memecah ombak.


"achh" terdengar lirih paman menahan sakit


"bibi dan yang lain mohon agak jauh", bibi dan lainnya menjauh dan bersandar didinding ruangan, terlihat kecemasan diraut mereka.


"mulailah meditasi paman dan tahan sakitnya, aku akan membantu prosesnya".


Setelah paman meditasi, akupun melepas tahap pendekar yang aku sembunyikan "wuss" sedikit energi keluar dari tubuhku. "ohh" lirih suara bibi terkejut.


Kedua tanganku menempel dipunggung paman, aliran qi ku menelusuri jalur menuju dentiannya. Mustika yang didalam pusar aku buka segelnya dengan ilmu memecah ombak. "bomm" terdengar letupan kecil, tapi energi yang terpancar keluar tubuh terasa cukup besar.


"acchhh" teriaknya


"tahan paman" ucapku juga sedikit cemas


Tubuhnya yang bergetar mulai terlihat stabil, sepertinya usaha kami berhasil.


"terus serap energinya dan alirkan kedentian" ucapku, terasa aliran besar energi masuk kedentiannya dengan cepat.


"pelan pelan paman" tegurku.


Serasa aliran mulai tenang aku lepas tangan dari punggungnya. Memulai meditasi sendiri menyerap energi yang tersebar keluar, setelah dentianku hampir penuh aku sudahi meditasiku.

__ADS_1


"rasakan energi diluar tubuh dan serap juga" ucapku.


Lalu berjalan ke bibi dan ketiga pembantunya.


"bibi apa ada makanan, aku lapar" ucapku lirih


"pasti ada nakmas" jawabnya sambil tersenyum.


Dua orang beranjak mengambil makanan buatku.


"semua untukku bibi" ucapku ketika melihat beberapa menu yang disajikan


"habiskan saja nakmas" jawabnya


"hahaha" tawaku lalu tanpa permisi mulai menyantap sajian yang ada.


"ini bukan lapar tapi rakus hahaha" celetukku lirih


"hihihi" terlihat mereka tertawa lirih melihat tingkahku.


Kala sang fajar mulai datang, pagi pun menjelang, paman tetap tenggelam dalam meditasinya. Energi yang terpancar masih cukup besar.


"tolong apapun yang terjadi, paman jangan diganggu" jawabku lalu menyembunyikan tahap pendekarku, bibi tersenyum melihatnya.


"memang nakmas mau kemana"


"maaf bibi, aku harus meneruskan perjalanan"


"hati hati, sebenarnya bibi ingin nakmas tinggal bersama kami"


"semoga bisa bertemu lagi, pamitkan pada paman" ucapku


"semoga dewa selalu membantumu" katanya sambil terisak dan memelukku.


Setelah reda isaknya lepas pelukannya, bibi sedikit menjelaskan kondisi alam dan desa yang dilewati sebelum sampai kota tiran. Menurutnya banyak informasi yang nantinya aku dapat dikota itu.


Derap kudaku memecah geliat pagi, beberapa warga yang melihatku menyapa dan melambaikan tangannya.


Diatas kuda aku menikmati indahnya alam yang terliwati.


Dengan santai mulai memasuki hutan sambil sedikit memacu kudaku.


Setengah hari perjalanan terlihat hutan tidak selebat sebelumnya. Aku hampiri sebatang pohon rindang untuk istirahat dan membiarkan kuda makan rerumputan liar.


Duduk santai lalu mengeluarkan dua cincin para perampok kemarin. Dari kedua cincin terlihat koin, beberapa perhiasan, serbuk racun dan penawarnya.


Ternyata kapasitas menyimpannya tidak terlalu besar. Lima koin emas dan duapuluh koin perak aku masukkan kekantong yang selalu terikat dipinggang. Sisa koin, perhiasan dan penawar racun masuk jadi satu cincin beserta cincin yang satunya, lalu ku pakai dijari tengah. Semua serbuk racun aku bakar supaya tidak menimbulkan masalah dikemudian hari.


Setelah cukup istirahat, akupun memacu kuda lebih cepat agar malam hari bisa menemukan sebuah desa. Terlihat desa yang cukup ramai didepan. Saat memasuki desa, memacu kuda dengan pelan.


Aku turun saat di depan dua orang tua yang sedang berjalan.


"permisi paman, apa ada penginapan didesa ini" tanyaku


"penginapan ada didesa setelah ini kisanak" jawab seseorang


"jauhkah paman"


"tidak kisanak, sebelum malam nanti sampai disana"


"terima kasih paman" ucapku sambil memberi dua koin perak

__ADS_1


"sama sama kisanak, malah kami yang berterima kasih" sambil menerima koin pemberianku


__ADS_2