
Chuan dan Teikong melanjutkan perjalanan pulang. Kuda yang tadi dipakai Tetua Tian mengikuti dibelakang keduanya. Senja merangkak malam, keduanya sudah sampai dirumah. Chuan langsung mengumpulkan para tetua dan yang lain.
Dalam pertemuan ini, Chuan ingin membuat perkampungan dibelakang rumah balai pil dan balai pengobatan. Tepatnya memanjang sejauh 2km dan lebarnya sampai dijalan utama. Lahan tersebut secepatnya untuk dibuka.
Tiap keluarga dibangunkan rumah sederhana 5mX7m. Kedepannya setiap orang akan diberikan tugas yang telah Tetua Tian siapkan. Saat ini banyak tenaga dibutuhkan sekte hutan suci. Pengurus kuda membutuhkan banyak tenaga. Kebun obat obatan yang luas, juga perlu tambahan tenaga.
Untuk sisa tanahnya dibuat tempat melatih kuda mereka. Sedang ditepi jalan utama nanti akan dibangun tempat usaha. Nantinya akan dikelola oleh orang orang Chuan atau sebagian disewakan saat wilayah hutan suci mulai ramai dikunjungi orang.
Disisi lain, bangunan tempat murid sekte saat ini memanjang didepan rumah para tetua. Dibelakangnya telah dijadikan tanah lapang untuk latihan. Ditepi jalan yang masih kosong akan dibangun beberapa fasilitas dengan luas yang sama. Panjang lebar Chuan menjabarkan rencananya.
Terlihat semua orang bingung dengan rencana yang Chuan buat. Tempat mereka saat ini sudah cukup bagi semua anggota sekte hutan suci. Untuk apa banyak bangunan yang mereka buat jika belum ada yang menempati.
"aku ingin sekte hutan suci menjadi sekte yang besar" ucap Chuan menyelesaiakan penjelasannya.
"kami perlu banyak tenaga untuk bangunan bangunan itu" ucap Teikong.
"sebentar lagi banyak warga baru ditengah tengah kita" ucap Chuan.
"orang orang yang datang nanti juga dikaryakan bagaimana?" lanjut Teikong.
"baik juga, untuk melihat kesungguhan dan kepribadian mereka" ucap Chuan.
__ADS_1
Selanjutnya, Teikong lalu undur diri untuk memulai membuat perencanaan seperti yang Chuan inginkan. Sedangkan beberapa orang ditugaskan merubah balai pil menjadi dapur umum untuk sementara waktu. Sedangkan tempat mengatur keuangan sekte ditempatkan jadi satu dibalai pengobatan. Selain itu juga lebih mudah mengkoordinasikan keduanya.
Para tetua juga menyampaikan keberhasilannya membuat pil kultivasi emas. Bahan bahan yang diberikan Chuan telah berubah menjadi ratusan pil. Pil tersebut berguna bagi pendekar yang terjebak kemacetan dalam kultivasinya. Selain itu juga berguna untuk meningkatkan kualitas tulangnya. Sebagian sudah digunakan untuk kebutuhan sekte. Namun masih ada sisa yang cukup banyak. Mereka menunggu keputusan untuk pil tersebut.
"biar Teysan dan Tetua Lifan mengantar sebagian pil tersebut kebalai lelang mutiara" ucap Chuan. Sambil menjelaskan tiap bulan percabang hanya melelang sepuluh pil saja. Meskipun bahan yang Chuan miliki cukup banyak, tapi untuk menjaga agar nilainya tetap tinggi, maka dia mengambil keputusan tersebut.
Sebagian pil tersebut sebagai persiapan untuk murid sekte yang baru. Serta warga baru yang cocok dilatih menjadi anggota keamanan. Banyak yang disampaikannya untuk bersama sama membangun sekte mereka. Tak ada keluhan tentang semua rencana Chuan. Mereka tetap menjaga semangat untuk mewujudkan harapan orang orang yang mereka sayangi dan lindungi.
Hari berganti, dua hari telah berlalu. Teysan dan Tetua Lifan telah menuju kota Liong_san. Untuk mengirimkan pil dan menyampaikan pesan dari Chuan.
Sedangkan Teikong dibantu yang lain selesai membuat pemetaan tanah. Untuk memulai pembangunan, Chuan sudah menyerahkan sepenuhnya pada Teikong. Saat Chuan asyik bercanda dan mendengar segala cerita anak anak. Dari kejauhan terdengar ramai dikejauhan dan semakin mendekati tempat mereka.
Tak ada keluhan dari apa yang disampaikan oleh Tetua Gun. Mereka berterima kasih karena diterima menjadi anggota sekte hutan suci. Bahkan tetua dati sekte rawa angin menyatakan kalau sekte mereka telah membubarkan diri.
Setelah pengaturan tempat sementara, mereka mulai saling berkenalan dengan yang lain. Sementara dua tetua sekte rawa angin dan kepala desa diajak kerumah Chuan oleh Tetua Gun.
*****
Setelah kedatangan kedua rombongan, Chuan meninggalkan anak anak sekte dan memasuki rumahnya. Dia dengan santai menunggu Tetua Tian datang.
"terima kasih tetua" ucap Chuan pada saat Tetua Tian memasuki rumahnya.
__ADS_1
"huh, jenuh juga mengikuti para warga itu" ucap Tetua Tian.
"whahaha" tawa Chuan pecah saat melihat raut wajah kesal dari Tetua Tian.
"tak ada kejadian apapun diperjalanan, semuanya lancar" jelas Tetua Tian.
Chuan lalu menjelaskan keadaan sekte dan segala perencanaan yang mereka buat. Dia juga meminta Tetua Tian segera bersiap dalam penerimaan murid baru. Juga membuat pengaturan agar Tetua Gun memilih murid sekte yang diajari khusus untuk membuat pil. Serta menempatkan dua tetua dari sekte rawa angin agar melatih para murid baru.
Percakapan keduanya terhenti saat melihat Tetua Gun dan tamunya datang.
"silahkan duduk" ucap Chuan setelah para tamu memasuki rumahnya.
"terima kasih sudah menerima kami semua" ucap tetua sekte rawa angin dengan sungguh sungguh.
"sama sama, kami juga membutuhkan banyak keluarga disekte ini" ucap Chuan.
Cukup lama mereka beramah tamah. Ketiganya merasakan kebahagiaan atas penerimaan Chuan yang tulus. Bahkan ketiganya berjanji untuk setia pada sekte hutan suci dan tidak akan menghianatinya.
Sebelum keluar dari rumah Chuan, salah satu tetua menyerahkan cincin penyimpanannya. Dia menyampaikan kalau didalamnya terdapat senjata dan berbagai kitab yang terselamatkan dari penjarahan.
Sepeninggalan para tamunya, dia menyerahkan cincin itu pada Tetua Tian. Dan juga membuat pengaturan agar nanti rumahnya dijadikan balai pustaka. Segala kitab yang dimiliki sekte ditata dan dikelola agar nanti bisa dipelajari oleh para murid.
__ADS_1