
Melihat ada dua orang yang datang, Chuan hanya tersenyum. Sedang Rouyan tanpa perubahan diraut wajahnya, malah menatap Luosan.
"silahkan tuan" balas Chuan ramah dan tetap tenang.
"terima kasih" ucapnya sambil duduk dikursi kosong yang ada disekeliling meja tersebut.
Kedua orang tersebut menatap Chuan dan dua lainnya yang tetap tenang.
"bisakan aku tahu, senior ini dari mana" tanya salah satunya pada Rouyan.
"aku dari warga klan tian dibenua selatan" jawab Rouyan
"kemana tujuan kalian bertiga" lanjut orang tersebut
"apa sopan bertanya terus tanpa memperkenalkan diri" ucap Chuan dengan santai, dan disambut dengan senyum Rouyan
"hahaha, benar apa kata kakakku" tawa Luosan terdengar lantang
"lancang, berani ngomong sembarangan didepan patriak bulan merah" teriak orang yang satunya dengan nada marah. Para pengunjung yang awalnya bercakap cakap dengan santai terlihat bingung. Mereka tahu kekejaman dari sekte golongan hitam tersebut.
Satu persatu, para pengunjung keluar dari tempat tersebut. Namun tidak segera pergi dan melihat apa yang bakal terjadi dari jauh. Ada juga yang tetap tenang diseberang jalan.
"maaf, aku Patriak Tang dari sekte bulan merah" ucap Patriak Tang sambil menatap ketiganya secara bergantian.
"apa setiap pengikut patriak begitu keras dalam memperingatkan ketidak tahuan orang lain" sindir Chuan
"kau,,," ucapan orang itu tercekat saat tatapan Patriak Tang ditujukan padanya.
"maaf, dia salah satu tetua disekte kami" ucap Patriak Tang sambil menatap penasaran pada Chuan
Seorang pemuda yang tetap tenang saat identitasnya diungkapkan. Bahkan beberapa pimpinan klan dibenua tengah akan berubah hormat saat mengetahuinya.
"siapa pemuda ini" batin Patriak Tang yang masih diam sambil berpikir dalam rasa penasaran.
Tiba tiba diluar tempat tersebut terdengar ramai.
"kedai ini agak sepi, kita mampir dulu" terdengar suara keras diluar. Kemudian beberapa orang memasuki kedai. Seorang wanita dan empat pria paruh baya, namun dibelakang terlihat beberapa pengawal mengikuti mereka.
"hehehe, ternyata saudara Chuan ada disini" ucap wanita yang datang sambil menangkupkan kedua tangannya.
"ohh Ninie,,, maaf nona muda mau kemana" tanya Chuan melihat seorang wanita yang menyapanya dengan santai.
"atas bantuanmu, aku ditarik kesekte pusat" jawab Ninie
Jawaban Chuan pada ruang pertanyaan pil membuat Ninie mendapat perhatian dari sekte pusat. Tiga tetua menjemputnya untuk itu. Dia akan ditempatkan dikantor pusat balai pedang langit. Serta seorang alkemis tingkat tujuh ikut dalam rombongannya.
__ADS_1
"ini Tuan Kim yang mengajukan pertanyaan itu" ucap Ninie memperkenalkan pada Chuan.
"salam Tuan Kim" ucap Chuan dengan hormat. Sikap yang berbeda dibandingkan saat berhadapan dengan dua orang dari sekte bulan merah.
Patriak dan tetua dari sekte bulan merah hanya diam menyaksikan hal tersebut. Rasa penasarannya semakin besar. Dan rombongan yang datang bukan orang yang bisa untuk disinggungnya.
"hahaha, baru kali ini aku dikalahkan alkemis tingkat enam" ucap Tuan Kim sambil tertawa lepas. Mengetahui identitasnya dari informasi di kota doucan.
"maaf tuan, bukan maksudku untuk itu" kata Chuan sambil tersenyum kecut.
"whahaha tak perlu merendah, mungkin yang memberkan tokenmu orang yang salah" balasnya sambil terus berbicara. Seharusnya token tingkat tujuh atau lebih, kog masih bintang enam yang diberikan.
Patriak Tang menatap tajam pada tetua disampingnya. Atas kecerobohan tetua itu, dia telah salah menyinggung orang. Alkemis tingkat enam bukanlah orang yang mudah untuk disinggungnya. Apalagi sekarang, seorang alkemis tingkat tujuh malah menghormatinya.
"tak enak berbincang sambil berdiri, silahkan para tuan untuk memilih tempat duduk" ucap Chuan.
"baiklah jika ada waktu datanglah kepavilliun pil, akan ada pejamuan pribadi dariku" ucap Tuan Kim
"kalau waktu luang, kami dari sekte pedang langit juga mengharap kunjungan Tetua Chuan" ucap seorang pria paruh baya disamping Ninie.
"terimakasih undangannya, jika ada kesempatan aku akan berkunjung" jawab Chuan.
Rombongan tersebut meninggalkan tempat duduk Chuan. Setelah mereka menangkupkan tangannya untuk penghormatan. Semuanya duduk ditempat yang agak jauh, sambil melirik dua orang dari sekte bulan merah. Mereka penasaran karena Chuan duduk dengan kedua orang tersebut.
"baiklah" jawab keduanya.
"maaf atas sikap kami" ucap Patriak Tang
"tak apa apa, namun sikap kalian akan bisa membawa masalah buat kalian sendiri" ucap Chuan acuh tak acuh.
Setelah mengucapkan kata kata tersebut, Chuan berdiri dan kedua orangnya. Tiga siluet melesat sangat cepat, membuat dua orang dari sekte bulan merah terdiam.
"hahaha, ternyata patriak sekte tanpa sengaja menyinggung Tetua Chuan" ucap Ninie terdengar lantang saat melihat orang tersebut ditinggalkan begitu saja oleh Chuan.
"maaf, apa kami boleh tahu siapa pemuda itu" tanya Patriak Tang setelah mendekati tempat Ninie dan yang lain.
Keduanya dipersilahkan duduk oleh Ninie dan yang lain.
"kenapa patriak ingin tahu identitasnya" tanya Ninie
"tetuaku ini sepertinya telah menyinggungnya" jawab patriak
"melihat sikapnya, mungkin dia tak mempermasalahkan hal itu" ucap Ninie
"ohhh, terimakasih" balas patriak
__ADS_1
Ada sekte baru diwilayah klan tian di benua selatan. Sekte hutan suci, dan pemuda itu adalah tetua satu disekte tersebut. Pemilik balai lelang mutiara, serta pemilik saham diserikat dagang bintang perak dibenua timur. Bahkan Kaisar Jing mengangkatnya sebagai pejabat khusus.
"itu sedikit yang kami tahu, tentang Chuan" jelas Ninie.
"sekte hutan suci, apa istimewanya" ucap tetua yang tadi menyinggung Chuan
"hahaha, aku sarankan untuk tidak menyinggung anggota pavilliun pil jika tak ingin masalah ucapanmu menjadi berlanjut" ucap Tuan Kim
"maafkan sikapnya" balas Patriak Tang.
"bisakah tetua menjaga ucapanmu" lanjutnya sambil menatap tetua tersebut
"selain Chuan, ada lima alkemis tingkat empat disekte hutan suci" ucap Tuan Kim, jadi pihak pavilliun pil akan menjaga asetnya di sekte tersebut. Bahkan menurut informasi yang ada, seratusan prajurit khusus dilatih oleh tetua disekte itu juga.
Patriak Tang hanya diam mendengarkan penjelasan Tuan Kim. Bagaimana pun, berurusan dengan banyak pihak dapat melemahkan sektenya. Meskipun selama ini selalu kejam dalam mengatasi permasalahannya dengan orang lain. Kebanyakan dari mereka adalah sekte kecil atau menengah yang tanpa dukungan dibelakangnya.
"benar kata pemuda itu 'mulutmu adalah harimaumu',," ucap Patriak Tang sambil memandang tetua disampingnya.
***
Sin Wan, sesepuh suku pegunungan membawa empat pemuda telah melakukan perjalanan selama seminggu. Kelimanya kini tiba dipinggiran kota doucan. Dengan bertanya pada warga setempat, sampailah mereka di penginapan Lou Sin.
Setelah Lou Sin dan istrinya membaca surat yang diterimanya, terlihat airmatanya menetes.
"apa kami membuat kesalahan" ucap Sin Wan
"tidak, aku teringat akan bantuan saudara Chuan pada kami" ucap Lou Sin lalu menceritakan kejadian beberapa bulan yang lalu.
"tinggallah dipenginapan ini, semua urusan biar aku yang melakukannya" ucap Lou Sin lalu meminta istri dan dua anak buahnya menjamu Sin Wan dan yang lain. Sementara dia keluar dari penginapan, sambil membawa surat dari Chuan.
Lou Sin pergi kebalai lelang mutiara dan Tian Sun sendiri yang menemui, setelah dia menyebutkan nama Chuan. Selepas membaca surat Chuan, Tian Sun berjanji malam ini akan datang kepenginapan.
Dengan langkah semangat, Lou Sin melanjutkan perjalanannya menuju markas para prajurit diseputaran komplek istana.
"mohon untuk bertemu Komandan Xhuan karena ada pesan dari Tetua Chuan" ucap Lou Sin pada prajurit jaga.
Saat ini semua prajurit mengenal nama itu, meskipun tidak semuanya pernah bertatap muka. Dua prajurit mengantar Lou Sin menuju rumah Komandan Xhuan.
"hahaha, tak menyangka aku dikawal seperti ini" tawa gelinya dalam hati.
Komandan Xhuan dan istrinya sedang dirumah, karena Putri Meilin sedang berkunjung. Setelah kepergian Chuan, tuan putri sering mengunjungi rumah komandan Xhuan.
Kedatangan dua prajurit dan Lou Sin membuat percakapan ketiganya berhenti. Lou Sin mengetahui tuan putri Meilin disebut saat kedua prajurit menghormat, langsung menjatuhkan lututnya.
"bangunlah tak perlu seperti itu, lagi pula ini bukan distana" ucap Meilin. Semua orang tersenyum memdengarnya. Semua orang tahu bahwa putri yang satu ini tidak gila akan penghormatan.
__ADS_1