Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Menghormatinya


__ADS_3

"sebentar lagi malam, aku pamit" ucap chuan sambil beranjak dari duduknya. Mereka membungkukkan badan sebentar lalu bersahutan mengucapkan terima kasih.


Chufei mengantar chuan sampai halaman rumah.


"tolong belikan pakaian walaupun sederhana" ucap chuan sambil menyerahkan tiga koin emas pada chufei.


Tak mau rasa harunya membuat dia ikut menangis, maka chuan segera berlalu dari tempat itu. Sekilas dia melirik chufei dan anak anak yang membungkukkan badannya.


Tak terasa saat menyusuri jalan menuju penginapan, airmata chuanpun menetes. Rasa syukur terucap dihatinya.


Sang Dewa punya cara Nya sendiri untuk menghidupi seluruh alam. Segala seseatu sudah ditentukan dan digariskan Nya. Susah, senang, sedih ataupun bahagia akan selalu mengalir seperti siang dan malam.


Bagaimana kita bisa merasa bahagia kalau belum merasa susah.


Bagaimana merasakan nikmatnya sehat kalau belum pernah merasakan sakit.


Bagaimana kita merasakan indahnya terang disiang hari sebelum kita merasakan gelapnya malam.


Tapi terkadang kita juga lupa, ada nikmat disaat susah ataupun sakit. Seperti nikmatnya saat terlelap kala gelap malam datang. Semua yang kita hadapi dan lalui adalah pelajaran yang tersirat dialam ini.


Tak lama tenggelam dalam pencerahan akhirnya chuan sampailah dipenginapan.


"bagaimana chuan" sapa nenek hong yang ternyata sudah menunggunya diteras penginapan.


"besok pagi nek" jawab chuan.


"kog nenek menunggu disini" lanjutnya.


"dikamar suntuk, malah capek semua" kata nenek hong. "sudah makan nek" tanya chuan.


"sudah itu dikamar ada jatah untukmu" jawabnya.

__ADS_1


"aku mandi dulu, nenek santai aja disini siapa tahu ada kakek kakek yang naksir" usilnya sambil cepat cepat berlalu.


"anak ini" guman nenek hong saat melihat chuan meninggalkannya. Duduk dikursi teras penginapan. Terlukis senyum diwajahnya.


Sikap dan kata usil chuan telah membangkitkan semangat hidupnya. Bahkan dihatinya terucap janji untuk melayani chuan seperti majikannya.


Meski chuan menganggap dia seperti neneknya sendiri. Didalam hati kecilnya, nenek hong begitu menghormatinya.


Semilir angin malam tak bisa mengusik hati yang hangat. Hilir mudik pengunjung kedai makan tak dihiraukannya.


Beberapa wajah sinis dan jijik meliriknya. Seorang nenek yang berpakain dari kain kasar. Walaupun para pelayan menaruh rasa hormat pada nenek hong. Lain dengan para pengunjung yang semuanya berpakaian bagus dan mahal.


"sudah malam, ayo istirahat dulu nek" tegur chuan yang baru datang.


"hehh" ucap nenek hong terkejut, buyarlah semua lamunannya.


Mereka beranjak menuju kamar.


"kamu tidur dimana" tanya nenek hong sambil duduk ditempat tidur.


"dikursi, tempat tidurnya buat nenek saja" ucap chuan lalu meneguk araknya.


Nenek hong tersenyum memandang chuan. Rasa hormat yang semakin kuat memenuhi relung hatinya.


"minum obat dulu nek" tegur chuan sambil menyerahkan dua buah pil, yaitu pil nutrisi hijau dan penawar racun.


"pil dari mana ini" tanya nenek hong terkejut.


"kenapa nek" tanya chuan.


"perlu banyak koin emas untuk mendapatkannya" jawab nenek hong.

__ADS_1


"sudahlah nek, pingin sembuh apa tidak" jawab chuan seenaknya.


"terima kasih" ucap nenek hong sambil terharu.


"sudahlah, diminum saja dan beristirahatlah, tuh mau mewek lagi" goda chuan lalu melanjutkan keasyikannya neneguk arak.


"huhhh" guman nenek hong tanpa bisa dibendung beberapa tetes air metanya keluar. Setelah minum pil tersebut, segeralah dia berusaha untuk tidur.


Chuan tetap asyik menikmati tiap teguk araknya. Diliriknya nenek hong yang telah terlelap. Dia lalu duduk dilantai kemudian bermeditasi dan masuk keruang jiwanya.


Didalam ruang jiwa, patrial lion dan chuan asyik bercakap cakap. Beberapa bimbingan tentang ilmu jiwa chuan dapatkan. Tak lelah patriak lion memberikan pengetahuannya pada chuan. Tanpa mereka berdua sadari pagi sudah datang.


Chuan mengakhiri meditasinya saat terdengar dua orang bercakap cakap dikamarnya.


"oohhh chu fan, sudah lama yaa" tanya chuan saat melihat chu fan sudah datang.


"baru saja" jawabnya.


"berangkat sekarang?" tanya chuan.


"iya, lagian ini sudah agak siang" jawab chu fan.


"ooohhh, tak kira masih gelap" ucap cuan.


"yeahh,,, cuci muka dulu biar terang otakmu" ucap chu fan.


"hahaha" chuan hanya tertawa lalu beranjak kekamar mandi.


Dengan senyum khasnya dia muncul diantara keduanya.


"ayo nek" lanjut chuan mengajak keserikat dagang.

__ADS_1


"itu jatah makanmu" ucap nenek hong.


__ADS_2