
Ada penyesalan diraut wajahnya.
"tak masalah buatku" ucap Chuan.
"terimakasih" balasnya.
"aku seorang pengelana dan tak punya kenalan disini, jadi mustahil ada yang mencariku" jelas Chuan.
"baik, silahkan beristirahat" ucap pelayan tersebut. "terimakasih" balas Chuan lalu masuk kamar dan menutup pintunya.
***
Diruang kepala cabang balai lelang, seorang wanita pucat pasi dimarahi pimpinannya. Apel emas yang diberikan Chuan menimbulkan pertanyaan yang tak bisa dijawabnya.
Siapa namanya?
Dimana tinggalnya?
Berapa dia mau jual?
Siapakah dia???
Semua pertanyaan dijawab dengan kata "maaf".
"saat banyak pemuda yang menggodamu ketika datang kesini, kau jadi semakin sombong" ucap pimpinan balai lelang. Dia tahu watak anak buahnya, yang sebenarnya adalah anak angkatnya. Namun karena termasuk salah satu daya tarik balai lelang, dan juga membenahi kesalahannya karena terlalu dimanja, maka dia mendiamkan saja.
Saat ini rasa kecewanya cukup besar, peluang kerjasama hancur begitu saja.
__ADS_1
"tiga hari ada lelang bulanan, kau siapkan ini sebagai salah satu barang utama" ucap pimpinan balai lelang. "baik tuan, sekali lagi mohon maaf" ucap pelayan.
"iya, dan diam diam cari orang itu" ucapnya masih dengan sedikit kecewa.
Penyesalan tak pernah didepan, pasti ada dibelakang. Pelayan itu mengingat ingat, bagaimana pemuda miskin dan jelek memandangnya datar, saat semua pemuda tertegun dengannya. Malah dia cuek dan tidak menghiraukannya. Tidak ada kata kata usil terucap. Tetap tenang saat dia mengusirnya.
"ohhh" desahnya. Andai dirinya tidak bersikap seperti itu, pasti tidak ada kejadian ini.
****
Malam mulai merayap, sementara Chuan asyik menata taman obatnya dengan patriak lion. Pengelompokan tanamannya sudah selesai dikerjakan. Masih terdapat banyak tempat yang kosong.
Menurut Patriak Lion, tempat ini akan penuh dengan tanaman obat berupa rerumputan. Bahkan rumput emas nantinya akan mudah didapatkan. Bermacam impian terucap dengan adanya taman obat tersebut.
Bukan hanya menyelamatkan sekte pasir putih, bahkan membuat kota sendiri akan mampu mereka kerjakan. Patriak Lion juga menyinggung tentang dua sekte yang chuan jarah pagi tadi.
Sedang diklan chu, sekte pasir darah mulai menancapkan pengaruhnya melalui anak kedua walikota, yang dibantu sekte bunga racun.
Sakitnya walikota juga karena racun yang dikonsumsi setiap hari tanpa dia sadari. Istri kedua walikota yang menaruh racun dimakanan dan minumannya.
Saat ini, kedua sekte sibuk berbenah dan bangkit. Karena harta benda mereka sudah Chuan ambil, maka perlu waktu yang lama untuk itu.
Para tetua sekte tiba disekte mereka dengan penuh penyesalan. Mereka berpikir kalau lonjakan energi yang dirasakannya, hanyalah pancingan agar mereka meninggalkan sektenya.
Patriak Lion melarang Chuan membunuh murid sekte karena demi keseimbangan. Kalau kedua sekte dimusnahkan malah memicu munculnya kekuatan baru.
Dikarenakan persaingan sekte aliran hitam yang begitu kejam.
__ADS_1
"darimana guru mengetahui hal tersebut" tanya Chuan penasaran.
"saat kau sibuk dengan anak anak" ucap Patriak Lion.
Dikarenakan kebosanannya, maka dia keluar dari cincin naga. Dirinya yang berujud roh, memudahkannya menyelidiki keadaan yang terjadi. Bahkan dengan bebas dia dapat menyusuri rumah walikota.
"maaf guru" ucap Chuan merasa telah mengabaikan gurunya.
"hahaha, tak apa apa Chuan" tawa Patriak Lion.
Karena energi mustika langitlah dia bisa dengan mudah menelusuri banyak tempat. Kecepatan rohnya sekarang laksana kilat.
Kalau Chuan tidak menyembunyikan tahap kultivasinya maka bisa menyamainya. Ketika menekan tahap kultivasi juga mengurangi sedikit kemampuannya.
"didepan kamar ada yang datang" ucap Patriak Lion menyudahi penjelasannya.
"ohhh" guman Chuan sambil tersenyum.
Setelah keluar ruang dimensi, dia lalu membuka pintunya. "jatah makan malam, dan tadi ada yang mencari tuan" ucap pelayan.
"masuklah dan silahkan duduk" ucap Chuan lalu dia duduk santai ditempat tidur.
Setelah meletakkan makanan dimeja, pelayan tersebut duduk dikursi.
"siapa yang mencari" tanya Chuan.
"dua orang dari balai lelang" jawabnnya.
__ADS_1