
"Bu, cukup. Kenapa ibu semakin memojokkan aku." Harry menatap dengan sedih.
"Maaf, sayang. Sini,,,sini,,peluk." Haira merentangkan kedua tangannya. Harry berlari dan memeluknya. "Maafkan Ibu ya, sayang."
"Iya, Bu. Tapi tadi aku ketakutan saat ibu menyamar menjadi hantu."
"Ya sudah, maafkan ibu lagi ya, Nak." Haira mengusap kepala Harry.
"Harry, maafkan aku, ya karena sudah membuatmu takut. Tapi aku puas, karena ibu sukses menakutimu." William tertawa kecil.
"Penyamaran ibu sangat seram. Bagaimana aku tidak takut. Ayah saja takut sampai tubuhnya bergetar saat memelukku."
"Harry, jangan membongkar aib orang," ucap William.
"Maaf, Yah, hehe."
"Ya sudah, sekarang semua sudah berbaikan. Ayo kembali ke kamar masing-masing. Ayah dan ibu akan melanjutkan,,,,,,,tidur."
"Iya, ya sudah Will, ayo. Tapi tolong bantu aku membereskan kamar ku, ya. Besok aku akan membantu mu membersihkan kamarmu," pinta Harry.
"Kamarku selalu bersih, apa yang mau kau bersihkan?"
"Aku bisa membersihkan hawa kaku yang ada di kamarmu," bisik Harry.
"Enak saja kalau bicara, aku ini kan orangnya,,,,,"
Obrolan mereka pun tak terdengar lagi karena sudah keluar dan menjauh.
"Sayang, ayo kita lanjutkan yang tadi." William mendekati Haira dan memeluk tubuhnya dengan mesra.
"Setelah ketakutan seperti anak kecil, sekarang kau malah ingin buat anak? Yang benar saja?"
"Jangan begitu, sayang. Ayolah, aku sangat ingin."
"Pastikan dulu mereka tidur lalu kita bisa melakukannya."
__ADS_1
"Ya sudah, aku akan menyuruh Harry membersihkan kamarnya besok saja."
"Tidak, jangan besok. Harus hari ini. Dan jika kau tidak ingin diganggu lagi, maka kau harus membantu mereka agar cepat selesai." Haira melirik pintu agar Aiden segera keluar.
"Apa? Kenapa mau mantap-mantap harus banyak syarat, sih." Aiden mengusap wajahnya lalu pergi keluar menuju kamar Harry.
"Ayah! Kenapa kesini?" tanya Harry dan William saat melihat William masuk ke dalam kamar mereka.
"Ayah mau membantu kalian agar cepat selesai." Aiden berkata dengan malas.
"Wah, asyik, ada bantuan lagi!"Harry bersorak sorai.
"Sudah, ayo kita bereskan." Aiden mulai membantu kedua anaknya membereskan kamar Harry.
"Kenapa kamarmu bisa se-kacau ini, sih. Memangnya kau suka kamarmu jadi sarang laba-laba?" gerutu Aiden.
"Tidak, Yah. Aku hanya tidak sempat membersihkannya."
"Tidak sempat atau malas?" sindir William.
"Haha,,,,,ha,,,,,ha,,,,,ha." Perlahan tawa itu meredup.
"Sudah sering buat onar, bercandaannya garing pula, iya 'kan, Yah," ucap William.
"Benar, garing sekali."
Harry hanya bisa terdiam. Padahal ibu dan teman-temannya pasti tertawa mendengar lelucon itu. Namun dua orang di depannya ini tidak bereaksi sama sekali.
'Bukan aku yang garing, tapi kalian.' batin Harry.
Saat mereka sudah hampir selesai beres-beres, tiba-tiba terdengar suara angin kencang beserta suara tawa cekikikan hantu berdaster.
"Ayah, apa itu suara Ibu?" tanya Harry yang langsung memeluk Aiden, William juga memeluknya.
"Setahu Ayah tidak, Nak. Dan kenapa ada suara angin tetapi tidak ada angin, ya."
__ADS_1
Dan tiba-tiba,,,,, Brakkk.
Pintu terbuka sendiri dan angin pun masuk ke dalam ruangan itu diikuti tawa kencang khas hantu berdaster.
Aiden dan kedua putranya langsung berteriak sambil bersembunyi dibawah selimut.
"Ayah, apa salah kita?" tanya William.
"Salahmu karena tadi menakut-nakuti Harry dengan menyamar sebagai hantu. Lihat sekarang, hantunya benar-benar muncul."
Tawa hantu berdaster pun terdengar lagi dan kini semakin terdengar mendekat dan,,,,,,
"Aaaaaaaaaaa." Teriakan mereka terdengar saat selimut dibuka.
"Ibu!" Aiden, Harry dan William kompak berseru. Mereka melihat Haira memegang kipas angin yang lumayan besar dan berangin kencang. Juga sebuah speaker.
"Jadi Ibu yang menakut-nakuti kami?" Harry.
"Ibu bosan di kamar sendirian, makanya Ibu mengerjai kalian, hahaha."
"Ya, sepertinya kita tahu darimana sifat usil Harry berasal." Aiden menatap Haira sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya, sudah. Anak-anak, kalian tidurlah," ujar Haira.
Mereka berdua mengangguk.
"Ayah, ayo kita lanjutkan TIDUR kita yang tadi sempat tertunda." Haira memainkan matanya pada Aiden.
Mendengar ucapan Haira, wajah Aiden langsung sumringah. Ia pun melangkah mendekati Haira dan berjalan kembali ke kamar.
"Apa-apaan Ayah. Diajak tidur saja senang sekali," cibir Harry.
"Mungkin Ayah sudah sangat lelah. Ya sudah, aku akan kembali ke kamarku. Jangan berantakan kamarmu lagi." William berjalan keluar menuju kamarnya.
Suasana pun kembali hening. Hanya terdengar suara desahan di dalam kamar Aiden dan Haira namun hanya mereka saja yang dapat mendengarnya.
__ADS_1
Sementara itu, Lim, sang kepala pengawal yang sejak tadi berjaga di samping tangga hanya bisa geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, ia menjadi saksi kelakuan keluarga itu. Berlari-lari kesana-kemari, memakai kostum hantu, berteriak tidak jelas. Dia yang menyadari itu hanya tipuan, hanya bisa diam menyaksikan sejak pertunjukan dimulai.