
Setelah mereka menyelesaikan makanannya, Harsya, Haira dan sekretaris ayahnya pun memutuskan kembali ke kantor.
"Ayah, bolehkah aku ikut pulang ke rumah ayah nanti. Aiden sedang ada pekerjaan mendadak lagi. Jadi aku ingin istirahat di rumah ayah. Aku juga ingin mengambil beberapa fotoku di kamar lamaku," pinta Haira sambil menyerahkan beberapa lembar berkas dari proyek tadi.
"Tentu saja sayang, ibu pasti senang," sahut Harsya.
Hingga saat jam pulang kantor tiba, Harsya dan Haira pun pulang ke rumah Harsya. Dia disambut hangat oleh ibunya.
"Sayang, bagaimana mangganya? Enak?" tanya Laras sambil merangkul dan membimbing Haira menuju ruang keluarga.
"Enak, bu. Aku suka, ibu beli dimana? Lain kali aku akan menyuruh Aiden membelinya disana," sahut Haira.
"Oh, tidak usah sayang. Ibu akan mengirimi mu dua hari sekali. Kau tau kan, pilihan ibu yang paling tepat. Lihat saja kau sampai ketagihan, hahaha."
"Iya ibu memang mengerti seleraku. Oh ya bu, aku mau mengambil beberapa fotoku untuk ku pajang di kamar ku."
"Ya sudah, pergilah ke kamarmu. Kamar itu selalu dibersihkan setiap hari. Tatanan nya juga tidak berubah."
"Terima kasih bu." Haira melenggang pergi ke kamarnya yang terletak di lantai atas. Saat memasuki kamarnya, dia mencium aroma pengharum ruangan yang sangat segar membuatnya merasa nyaman. Entah hamil seperti apa dia sehingga aroma apapun tak membuat nya merasa mual.
Dia mulai melihat-lihat beberapa fotonya yang tergantung di dinding dengan berbagai motif dibingkai. Setelah mengambil dua foto yang berukuran lumayan besar, dia pun langsung membungkus kedua foto berbingkai itu ke dalam kotak kardus.
Haira melihat jam. "Masih dua jam lagi, sebaiknya aku istirahat saja dulu," gumamnya.
Dengan cepat sebuah dengkuran keras pun terdengar. Tampaknya hari ini dia sangat lelah karena perjalanan tadi.
Samar-samar Haira mendengar suara Aiden sedang berbicara dengan ayahnya di depan kamarnya. Dia melihat jam ternyata sudah sore. Bahkan dia tertidur selama tiga jam. Dengan cepat dia bangkit dari posisinya dan berjalan menuju pintu.
__ADS_1
Saat pintu dibuka, ternyata benar ada Aiden dan ayahnya sedang berbicara.
"Sayang kau sudah bangun? Maaf ya sepertinya suara kami membangunkan dirimu," ucap Harsya.
"Tidak apa-apa, Yah. Aku sudah terlalu lama tidur," sahut Haira.
"Apa fotonya sudah dapat?" tanya Harsya.
"Sudah, Yah. Sayang, tolong angkat ke mobil ya," pinta Haira.
Aiden mengangguk dan segera mengambil kotak kardus yang berisi dua buah bingkai foto Haira.
Setelah berpamitan pada Harsya dan Laras, Aiden dan Haira pun segera pulang.
Sesampainya di rumah, Aiden membawa kotak ke kamar karena Haira ingin memajangnya di kamar.
"Sayang, aku mandi dulu ya," ujar Aiden.
Setelah kepergian Aiden, Haira langsung membuka kotak dan mengeluarkan kedua fotonya. Dia membongkar salah satu foto dari bingkainya. Dia mengambil sesuatu yang ada dibalik foto tersebut. "Ternyata masih ada," ucapnya senang.
Setelah mengeluarkan benda itu, Haira kembali menyusun bingkai dan foto seperti semula dan menyimpan benda itu ke tempat lain.
Aiden sudah selesai dengan mandinya. "Sayang, mandi lah, aku akan memasang paku pada dinding. Di posisi bagian mana yang kau ingin pajang?" tanya Aiden.
Disana dan disitu." Haira menunjuk dinding yang berada atas ranjang mereka.
"Ya sudah, nanti akan aku pasang. Pergilah mandi," ujar Aiden.
__ADS_1
Haira mengangguk dan pergi ke kamar mandi lalu membersihkan dirinya.
Selesai Haira mandi, ternyata Aiden sudah memaku dinding di tempat yang diinginkan Haira.
Haira menunjuk foto dan posisi tempat digantung.
"Cantik," puji Aiden.
"Siapa dulu," sahut Haira dengan bangga.
"Tapi sayang suka mendengkur," sambung Aiden.
"Mendengkur? Mana ada? Kau yang mendengkur," tuduh Haira.
Aiden mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah rekaman video saat Haira mendengkur.
Mata Haira membulat melihat rekaman itu. "Darimana kau dapat? Diedit ya?"
"Jika aku mengeditnya suara dengkuranmu pasti sudah seperti auman harimau."
"Hapus!" Haira memanyunkan bibirnya dan menyilangkan tangannya di dada.
"Iya baiklah. Kenapa sejak hamil kau gampang marah? Apa mereka akan cerewet sepertimu?"
"Memangnya kenapa? Kau tidak suka?"
"Suka sayang, kau marahi aku setiap hari pun aku suka. Kau istirahat lah dulu, aku akan menyiapkan makan malam," ujar Aiden.
__ADS_1
"Tidak, aku mau ke rumah bi Evi dulu, mau mengobrol dengan mereka." Haira melenggang pergi ke luar menuju rumah bu Evi.
"Dan kenapa setelah hamil kau lebih suka berghibah?" Aiden menggelengkan kepalanya.