Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Episode Spesial - Cerita


__ADS_3

Pada malam harinya, Haira membawa bantal dan guling dari kamarnya.


"Sayang, mau kemana?" tanya Aiden yang sedang bekerja dengan laptopnya di ruang tamu.


"Aku akan tidur di kamar Kania."


"Tidur di kamar Kania? Kenapa?"


"Tidak ada alasan untuk aku tidur dengannya. Dia saudara ku, aku hanya ingin tidur dengannya."


"Haira, kau tidak pernah tenang saat tidur. Bagaimana kalau Kania kau dorong-dorong seperti aku dulu? Kau ingat? Aku sampai jatuh dari ranjang karena dorongan kakimu. Belum lagi tanganmu yang suka merajalela itu sering mendarat keras di wajahku." Aiden mencoba mengingatkan.


"Aku akan berusaha untuk mengingat bahwa aku tidur dengan Kania."


"Tapi, Haira,,,,"


"Biarlah, Aiden, dia hanya ingin tidur dengan Kania." Dokter Rika yang datang langsung mengiyakan.


"Terima kasih, Dok." Haira tersenyum senang.


"Tapi saya juga tetap di sana, untuk ikut menjaga Kania apabila dia haus dan ingin buang air di tengah malam."


"Tidak perlu, Dok, aku yang akan menjaganya dan membantunya jika dia ingin melakukan sesuatu."


"Ya sudah, saya yakin Haira bisa menjaga Kania." Dokter Rika tersenyum.

__ADS_1


"Oh ya, Haira, se-sepertinya kau belum bisa membawanya ke kota karena kondisinya. Harap bersabar, ya."


"Aku akan bersabar." Haira tersenyum, lalu datang ke kamar Kania.


Setelah ia membuka pintu, ia melihat Kania sedang tertidur pulas. Dengan perlahan, Haira melangkah, lalu meletakkan bantal dan guling di sebelah Kania.


Haira terus memandangi wajah Kania yang damai. Meski pucat, tetap saja dapat dilihat betapa damai dan bahagianya ia saat ini.


"Kita tidak begitu mirip mungkin karena kau sedang sakit."


"Uhhh." Kania tiba-tiba merintih dengan mata yang masih tertutup.


"Kania, kenapa?" tanya Haira dengan wajah cemas.


"Sebentar, aku akan panggilkan Dokter Rika." Haira hendak pergi, namun Kania menahan tangannya.


"Jangan pergi, temani aku saja."


"Kania, kau butuh obat."


"Tidak, aku hanya butuh dirimu saja. Temani aku di sini, Haira, aku mohon," tatap Kania dengan penuh permohonan.


"Baik, tapi kau memang membutuhkan obat."


"Haira, aku mohon. Jangan kecewakan aku." Kania masih menahan tangannya.

__ADS_1


"Sekarang katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar rasa sakit mu berkurang."


"Ceritakan padaku bagaimana si kembar William dan Harry."


Haira merasa aneh dengan permintaan Kania. Tapi ia tetap mengangguk dan mulai bercerita.


"William itu mempunyai sifat seperti ayahnya. Pendiam, irit bicara, tapi sangat pintar. Sedangkan Harry lebih mirip diriku. Tidak bisa diam, selalu banyak bicara, dan agak ceroboh. Meskipun mereka mempunyai karakter yang berbanding terbalik, mereka tetap saling menyayangi. Keisengan Harry yang suka mengerjai William menjadi bumbu keceriaan di rumah kami." Haira menyudahi ceritanya.


Kania sedikit terkekeh mendengar cerita Haira. Ia dapat membayangkan bagaimana bahagianya keluarga kecil Haira.


"Lalu, bagaimana dengan adik sepupu kita?"


"Resya? Dia itu sekarang sangat cerewet. Bahkan anak-anakku terkadang takut dengannya. Apalagi sekarang, saat si kembar ada di sana. Saat melakukan panggilan video, aku melihat mereka membuat suami Resya seperti lukisan berjalan. Dicoret dengan spidol warna."


"Hahaha, mereka sangat lucu. Sayang sekali aku tidak bisa bertemu dengan mereka." Kania menatap sendu.


"Kau bisa bertemu dengan mereka di kota nanti." Haira mencoba menghibur Kania.


"Aku tidak ingin menjadi beban mu, Haira."


"Kau itu saudara kandungku. Kau adalah,,,,,, tunggu, siapa kakaknya?" Haira baru ingat bahwa ini salah satu pertanyaan yang ingin ia tanyakan.


"Aku," sahut Kania.


"Nah, kau kakakku, sudah menjadi tanggung jawabku merawat mu. Kita berpisah puluhan tahun, dan ini saat yang tepat untuk aku menjagamu." Haira memegang erat tangan Kania dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2