Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Episode Spesial - Bayi kembar


__ADS_3

Tiga puluh tahun yang lalu, lahirlah sepasang anak kembar yang berjenis kelamin perempuan di sebuah desa kecil. Namun sayang, salah satu anak kembar itu menderita kelumpuhan sejak dilahirkan. Sedangkan yang satunya sehat dan sempurna.


Meskipun begitu, orang tua mereka tetap bersyukur atas kelahiran anak kembar mereka. Setiap hari mereka dengan sabar merawat si kembar dengan penuh kasih sayang.


Namun nahas, belum lama mereka mendapatkan kasih sayang orang tua, tiba-tiba saja, Harsya yang merupakan kakak laki-laki dari ayah mereka datang dan membunuh mereka. Bayi yang sehat dibawa kabur, sedangkan yang lumpuh mereka buang di persawahan berharap bayi itu meninggal.


Namun takdir berkata lain, bayi lumpuh itu diselamatkan oleh seorang calon dokter yang sedang magang di desa itu. Mahasiswa yang merupakan seorang wanita mengadopsi dan merawatnya di kota. Hal itu diketahui Harsya, namun ia tidak memperdulikan karena yang terpenting ia sudah mendapatkan bayi yang sehat itu.


Sejak saat itu, sepasang saudara kembar itu pun terpisah. Bayi yang sehat diberi nama Haira, sedangkan bayi yang lumpuh diberi nama Kania.


"Begitu ceritanya." Aiden mengakhiri ceritanya.


Haira tampak mengusap air matanya. Ia menatap Aiden dengan tatapan penuh harapan. "Aiden, aku ingin bertemu dengannya. Bawa aku ke sana." Memegangi tangan Aiden dengan erat.

__ADS_1


"Maafkan aku, tapi Kania tidak ingin bertemu denganmu. Katanya, dia tidak mau membuat orang lain bersedih karena dirinya."


"Lalu kenapa kau menyimpan foto-foto dan juga cerita hidupnya di sini?"


"Aku sedang berupaya memperjuangkan hidupnya. Jika ada obat yang dapat menyembuhkan dirinya, mungkin takdir bisa berubah. Tapi aku terlalu naif, Allah yang menentukan takdir hidup kita. Karenanya, Kania didiagnosa mengidap leukimia saat aku baru menemukan dokter yang mungkin dapat menyembuhkan dirinya. Maafkan aku."


Haira tak kuasa menahan tangisnya. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana kehidupan saudara kembarnya selama ini.


"Aku mohon, bawa aku padanya. Aku ingin bertemu dengannya meski untuk terakhir kali. Dan bukankah jika aku saudara kembarnya, maka tubuhku dapat menolongnya?"


Haira kembali terpaku. Ia bahkan berlutut dan memohon di kaki Aiden. "Aku mohon, bawa aku ke sana!"


"Haira, Sayang, jangan begini." Aiden menarik Haira agar ia kembali berdiri. Ia pun memeluknya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Haira tak dapat menahan suaranya lagi. Kini ia menangis meraung dalam pelukan Aiden.


Untuk beberapa saat, Aiden membiarkan Haira menumpahkan kesedihannya. Ia tahu memang ini yang Haira butuhkan.


"Maafkan aku. Aku kira menyembunyikan ini darimu akan membuat semuanya baik-baik saja. Harusnya aku tidak mendengarkan Kania." Mengusap rambut Haira dengan lembut, lalu mencium pucuk kepalanya.


"Bawa aku, Aiden."


"Baik, besok pagi-pagi sekali kita akan ke sana. Sekarang istirahatlah dulu. Hindari pandangan anak-anak. Aku takut mereka khawatir padamu."


Haira mengangguk mengerti, lalu mereka pun keluar dari ruang rahasia itu.


Haira merebahkan dirinya ke atas ranjang. Aiden pun langsung menyelimutinya. "Jangan pikirkan apapun. Aku akan mempersiapkan keberangkatan kita besok. Kita tidak pergi satu atau dua hari, tetapi satu Minggu. Semoga saja kita dapat membawanya ke sini dan mendapatkan izin dari ibu angkatnya."

__ADS_1


"Terima kasih." Haira mengangguk dan tersenyum. Ia pun segera memejamkan matanya. Menangis memang telah membuatnya kelelahan sehingga ia langsung terlelap.


__ADS_2