
Keesokan harinya, kondisi Kania sudah lebih baik. Ia dan Haira lebih banyak menghabiskan waktu di ruang keluarga sambil menonton televisi. Haira yang menyukai kartun, memilihkan serial yang menceritakan tentang hewan-hewan laut dengan banyak karakter dan kepribadian yang aneh-aneh. Sepanjang menonton, Haira dan Kania hanya tertawa geli. Mereka menikmati keindahan dan momen yang selama ini tak pernah mereka rasakan.
Serial kartun sudah selesai, Haira langsung mematikan televisi tersebut.
"Kania, apa yang ingin kau lakukan hari ini?" tanya Haira.
"Kalau kemarin kita melukis, bagaimana kalau hari ini kita bernyanyi bersama," ujar Kania.
Mendengar kata bernyanyi, mata Haira seketika berbinar-binar. Sudah lama ia tidak bernyanyi. Dan sekarang Kania memintanya bernyanyi.
"Boleh sekali, tapi,,,,,suaraku sangat jelek. Selama ini hanya Aiden dan anak-anak yang ku biarkan mendengarkan suara nyanyian ku. Mereka sudah tahan mental," ucap Haira dengan senyum malu-malu.
"Hmmm, aku mengerti. Tapi, masa hanya mereka yang dengar, masa aku tidak boleh?"
"Bukan tidak boleh, aku hanya takut kau terkejut dan sakit mu semakin parah ketika mendengar suaraku."
"Itu jika kau bernyanyi dengan suara keras, sekarang, ayo bernyanyi dengan suara yang pelan."
"Ya sudah, tapi aku suka lagu dangdut."
"Tidak masalah, bernyanyi lah." Kania mengangguk.
Haira pun mulai bernyanyi.
Putus lagi cintaku
Putus lagi jalinan kasih
Sayangku dengannya
__ADS_1
Cuma karena rupiah
Lalu engkau berpaling muka
Tak mau menatap lagi
Kecewa, kecewa hatiku
Terluka karena cinta
Kalau terbakar api
Kalau tertusuk duri mungkin
Masih dapat ku tahan
Tapi ini sakit, lebih sakit
Jangankan diriku
Semut pun 'kan marah
Bila terlalu sakit begini
Daripada sakit hati
Lebih baik sakit gigi ini
Biar tak mengapa
__ADS_1
Rela, rela, rela, aku relakan
Rela, rela, rela, aku rela,,,,,,,
Haira terus bernyanyi dengan diiringi musik karaoke dari satu aplikasi berwarna merah lengkap dengan liriknya.
Kania yang mendengar suara Haira ingin sekali tertawa, tetapi, itu hanya akan membuat Haira berhenti bernyanyi karena malu jika ia tertawakan.
Selesai bernyanyi, Haira menatap Kania yang sepertinya baik-baik saja. Tadinya ia takut kalau Kania kenapa-kenapa. Namun nyatanya tidak, Kania baik-baik saja.
"Bagaimana? Jelek kan?" tanya Haira.
"Bagus sekali, aku senang mendengar suaramu. Aku suka, ayo, bernyanyilah lagi." Kania tampak bersemangat.
"Kania, kalau aku boleh jujur, kaulah orang pertama yang memintaku bernyanyi lagi setelah mendengar suara ku. Mau dinyanyikan lagu apa?"
"Terserah kau saja, apapun yang kau nyanyikan pasti bagus."
Haira menyeka sudut matanya yang basah. "Terima kasih, pujian mu hari ini, akan aku ingat sampai kapanpun."
"Haira, kau ini lucu sekali, sangat menggemaskan." Kania tersenyum melihat kelucuan Haira.
Haira pun mencari lagu-lagu favorit untuk ia nyanyikan.
Sementara itu, Aiden yang sedang bekerja di kamarnya, merasa sedikit terusik dengan suara Haira yang jelas terdengar karena jarak kamar dan ruang keluarga sangat dekat. Terlebih lagi kamar itu tidak kedap suara, membuat apapun yang berbunyi akan terdengar jelas.
Namun ia tidak bisa melarang Haira, karena bagaimanapun, hari-hari yang dilalui Haira dan Kania adalah saat-saat yang sangat berharga. Karena mereka tidak akan bisa mengulang semuanya ketika Kania pergi untuk selamanya.
*****
__ADS_1
Nb : Akhir bulan, novel ini tamat 😊