Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Episode Spesial - Kania


__ADS_3

Setelah beberapa jam melakukan perjalanan, akhirnya Haira dan Aiden sudah sampai di rumah yang merupakan tempat tinggal Kania.


Namun, mereka melihat pemandangan yang kurang menyenangkan. Terlihat di depan rumah itu terdapat sebuah bendera kuning dengan banyak orang yang memakai pakaian seperti orang yang akan melakukan prosesi pemakaman.


Jantung Haira langsung berdegup kencang. Berbagai pikiran buruk mulai masuk ke otaknya. Aiden sendiri pun terkejut dengan penampakan ini. Padahal, kemarin ia sudah mengatakan pada dokter yang merawat Kania bahwa mereka akan ke sini.


Aiden pun mengecek ponselnya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Dokter Rika. Jantungnya kini berdegup kencang. Wajahnya tampak sangat tegang. Apakah Kania meninggal?


Haira yang sudah tidak bisa meredam pikiran buruknya langsung turun. Aiden pun mengejarnya.


"Kania!! Kaniaaa!!!" Haira berteriak histeris sambil berlari. Ia membuat para pelayat terkejut dan menatapnya dengan heran.


Haira tak memperdulikan tatapan mereka. Ia menerobos kerumunan untuk bisa masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam, ia melihat seseorang ditutupi kain berada di tengah-tengah orang yang sedang membacakan surat Yasin.


Haira langsung berlari menghampiri jenazah itu dan memeluknya sambil menangis.


"Kenapa kau meninggalkanku secepat ini! Aku bahkan belum mengatakan apapun! Aku belum meminta maaf, aku belum menceritakan bagaimana kehidupan ku selama ini tanpamu." Haira menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Para pelayat terkejut dengan ucapan Haira. Mereka pun saling berbisik dan menatap iba ke arah Haira.


"Ku mohon jangan pergi. Jangan meninggalkan ku dengan kehampaan tanpa kehadiran mu. Aku sangat menyayangi mu."


Aiden yang baru masuk langsung menghampiri Haira dan menenangkannya. "Haira, tenanglah, ini,,,,,"


"Bagaimana aku bisa tenang. Dia pergi meninggalkan ku tanpa mengatakan apa-apa. Bagaimana aku bisa tenang kalau orang yang aku cintai pergi bahkan sebelum aku bertemu dengannya!"


"Haira, dengarkan aku, dia,,,,,,"


"Semua ini adalah salahmu! Karena kau merahasiakan dirinya dariku, sehingga aku tidak bisa bertemu dengannya."


"Istri? Istri siapa? Istrinya?" Menunjuk Aiden. "Dia tidak akan hidup sampai sekarang jika mempunyai lebih dari satu istri."


"Bukan, Mbak. Maksudnya, Mbak ini istri Mbah Giono yang ke berapa?" tanyanya lagi.


"Apa? Mbah Giono? Siapa dia?" Haira mengernyitkan dahinya. Kenapa mereka malah menanyakan perihal pria tua di depan jasad Kania?

__ADS_1


"Yang meninggal ini adalah Mbah Giono. Beliau ini suami kami berlima." Wanita muda itu menunjukkan empat orang wanita yang berbeda-beda usia dengan mata sembab.


"Jadi yang meninggal bukan wanita?"


"Bukan, Mbak. Yang meninggal suami kami. Sepertinya Mbak salah orang."


"Oh, ka-kalau begitu maafkan aku. A-aku turut berdukacita atas meninggalnya suami kalian. Maaf, maaf, permisi." Haira pun berdiri, lalu pergi bersama Aiden.


Sesampainya di mobil, Haira menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan. "Bagaimana aku bisa salah orang? Aku malu sekali karena dianggap istri oleh seorang pria tua yang beristri banyak."


"Tadi aku mau mengatakan kalau dia bukan Kania." Aiden menambahkan.


"Apa yang terjadi?"


"Tadi aku baru membaca pesan dari Dokter Rika. Katanya dia lupa memberi tahu kalau alamat mereka tidak di sini lagi. Mereka tinggal tak jauh dari villa kita."


"Oh begitu, syukurlah. Tapi kenapa mereka tidak tinggal di villa kita saja?"

__ADS_1


"Kata Dokter Rika rumah yang mereka tempati sekarang ini sudah sangat bagus dan cocok untuk Kania. Kania sendiri pun menolak pindah."


"Ya sudah, ayo kita lekas pergi. Aku malu sekali." Haira menutup wajahnya. Hal tadi benar-benar memalukan. Jelas sekali ia sudah merusak suasana sedih para istri yang ditinggalkan. Meskipun ia tahu, para istri yang ditinggalkan, setelah ini akan menjadi janda kaya di desa itu.


__ADS_2