
Resya sudah merasa lebih tenang setelah ibunya datang dan menenangkan nya. Ayahnya tidak tau tentang ini karena sudah pergi bekerja.
Sedangkan Dean sedang sibuk membantu pelayan membersihkan kamar itu. Sebenarnya dia tidak benar-benar membersihkannya. Dia sedang mencari keberadaan kalung itu.
"Bu, apa aku sehina itu?" tanya Resya yang masih berada di pelukan ibunya.
"Tidak sayang, kau ini berlian yang sangat berharga. Tidak ada yang boleh mengatakan hal itu," sahut Laras sambil terus membelai rambut Resya.
"Apa ini karma untukku karena aku sudah menghianati kakak?" tanya Resya lagi.
"Tidak sayang, kakak sudah memaafkanmu. Ini semua hanya cobaan," ucap Laras.
Dean akhirnya menemukan kalung itu.
"Buang!! Buang kalung itu!!" Resya berteriak sambil kembali menangis.
"Dean, tolong buang ya," pinta Laras.
"Baik, nyonya." Dean segera keluar dari rumah itu. Dia sudah memasukkan tangannya di tong sampah di depan gerbang rumah itu. Namun dia tidak melepasnya. Dia tetap meggenggamnya dan memasukkan kalung tersebut ke kantong celananya.
__ADS_1
Saat kembali ke kamar Resya, Dean melihat Resya yang sudah tertidur pulas. Laras terlihat sedang menyelimutinya. Terlihat raut lelah di wajah Resya. Tampaknya emosinya tadi telah menghabiskan sebagian besar energinya.
"Dean, sebaiknya kau pulang saja. Resya belum mau bertemu dengan siapapun. Besok kau bisa kembali," ucap Laras.
"Baik nyonya, kalau begitu saya permisi." Dean membungkukkan badannya dan pergi ke luar.
Sesampainya di rumah, Dean langsung mengeluarkan kalung itu dan memperhatikannya dengan seksama.
Dia melihat belakang kalung yang tertulis inisial namanya, yaitu MD yang merupakan kepanjangan dari Micheal Dean.
Dean menghela nafas panjang dan menyandar ke sofa. "Apa yang sudah aku lakukan? Karena aku Resya menjadi hancur begini. Aku sudah melakukan kesalahan fatal padanya. Bagaimana ini." Mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tidak, aku tidak boleh begini. Aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku pada Resya." Kembali bangkit dari posisi rebahannya.
"Sebaiknya aku mendekati dan mencari simpati darinya. Jika dia sudah menyukaiku, pasti dia akan menerimaku meski aku si pria itu."
"Sepertinya ini semua sudah takdir. Aku akan menyusun rencana jadwal sehari-harinya agar dia tidak kepikiran terus," gumam Dean.
Setelah puas berbicara sendirian seperti orang gila, Dean pun mulai menyusun jadwal untuk Resya lakukan besok.
__ADS_1
*****
Di kediaman Aiden dan Haira.
Pada malam harinya, Haira dan Aiden sedang mengobrol di balkon kamar mereka.
"Sayang, kenapa kau menyuruh Dean menjadi asisten pribadi Resya?" tanya Aiden.
"Agar Resya bisa menyuruhnya sesuka hati. Aku tau dulu Dean sering mengatainya. Mulutmu dan mulut nya kan sama saja. Sama-sama tajam," sahut Haira.
"Apakah itu bentuk pembalasan dendam?" tanya Aiden.
"Sebut saja begitu," sahut Haira.
"Adakah alasan lain?" tanya Aiden.
"Aku juga ingin menjauhkannya darimu. Aku juga ingin membuktikan apakah dia normal atau tidak? Resya itu cantik, semok, dan centil," ucap Haira.
"Kau juga semakin montok." Aiden memperhatikan tubuh Haira yang semakin berisi karena kehamilannya yang semakin membesar.
__ADS_1
"Kenapa kau masih mesum begini padahal kita sudah lama menikah," gerutu Haira.
"Mesum kepada istri sendiri kenapa dilarang. Ayo bersenang-senang." Aiden menggendong Haira menuju ranjang dan memulai pertempuran malam itu.