Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Episode Spesial - Matahari


__ADS_3

Pada malam harinya, Kania dan Haira sedang duduk santai di atas ranjang kamar. Mereka sedang membaca sebuah novel bergenre komedi di sebuah aplikasi berwarna biru.


Sedari tadi, Haira terus saja cekikikan sambil membaca kata demi kata yang tertulis di novel tersebut.


Sedangkan Kania hanya tersenyum geli. Bukan karena membaca novel, tetapi karena melihat tingkah Haira yang sangat menggemaskan dan lucu. Terkadang serius membaca, terkadang juga tertawa terbahak-bahak sampai memukul-mukul bantal.


"Ah, sudahlah, aku lelah tertawa. Aku akan membaca lagi nanti." Haira meletakkan bukunya di atas nakas, lalu menyeka sudut matanya yang basah karena tertawa terus. Namun, air matanya tak kunjung berhenti juga.


Hal itu membuat Kania heran. "Haira, sudahlah, kenapa menangis terus, ceritanya kan lucu."


"Hahaha, aku hanya keterusan, hahaha." Air mata Haira semakin mengalir deras, dan kini ia menangis sesenggukan. "Aku tidak apa-apa, huuuuu."


"Haira, kenapa menangis? Ada apa?" Kania semakin bingung.


"Tidak apa-apa, aku memang seperti ini kalau membaca cerita yang terlalu lucu. Tanya saja pada Aiden." Haira yang mulai menguasai dirinya lagi, mengambil tisu, lalu menghapus air matanya.


"Kau ini memang sangat unik dan lucu, tapi itulah yang aku sukai." Kania tersenyum lembut.

__ADS_1


"Hahaha, aku memang seperti ini. Kalau kata orang tua Resya, aku menurun sifat ibu, sedangkan kau menurun sifat ayah."


"Benarkah? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi ayah, pasti hidupnya sangat bahagia."


"Benar, ayah memang sangat bahagia hidup dengan ibu." Haira mengangguk setuju.


"Seperti halnya aku yang bahagia Hidup bersama mu." Kania memegang tangan Haira.


Bibir Haira kembali bergetar setelah mendengar ucapan Kania. Matanya kembali berkaca-kaca, tapi ia langsung mengusapnya dengan tisu.


"Hahaha, begitulah aku jika habis tertawa dan diajak bicara serius."


"Sudahlah, jangan banyak tertawa, nanti Aiden tidak konsentrasi lagi."


"Tenang saja, tadi aku sudah memberikan penyumbat telinga padanya."


"Oh, pantas saja." Kania manggut-manggut.

__ADS_1


"Oh ya, apa keinginan terbesar dalam hidup mu?" tanya Haira tiba-tiba.


Kania tampak berpikir. "Hmmm, apa ya. Sepertinya semua keinginan ku telah terpenuhi. Ah, ada satu hal lagi, aku ingin melihat matahari terbit bersamamu."


"Wah itu ide yang bagus, bagaimana kalau besok kita melihat matahari terbit di belakang rumah ini." Haira mengusulkan.


Kania langsung mengangguk setuju, namun tiba-tiba saja, ia kembali merasakan sakit di tubuhnya. Ia terlihat meringis kesakitan saat Haira tidak melihat ke arahnya. Namun saat Haira menoleh, ia langsung memasang senyuman.


"Ya sudah, sebaiknya kau istirahat, besok, setelah sholat subuh, kita akan melihat matahari terbit," ujar Haira.


"Iya, aku sangat tidak sabar menantikannya." Kania pun berbaring dibantu Haira.


Setelahnya, tidak ada pembicaraan lagi, mereka pun tertidur. Selang setengah jam kemudian, Haira kembali bangun dan duduk kembali. Ia menatap wajah Kania yang sudah tertidur lelap. Sejenak ia menitihkan air matanya, namun setelahnya ia pun kembali menghapusnya.


Ia pun memutuskan untuk membuat kopi supaya tidak tidur malam ini demi menjaga Kania. Karena sedetikpun, ia tidak ingin berpaling dari Kania, orang yang paling ia cintai saat ini.


Ia memutuskan untuk membuat sebuah kliping berisi foto-foto mereka selama ini untuk menjadi kenang-kenangan.

__ADS_1


__ADS_2