Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Episode Spesial - Berjanjilah


__ADS_3

Keesokan paginya, Haira tertidur di samping Kania dengan semua foto yang sudah tertata rapi di kliping buatannya. Ternyata, kopi pun tak mampu menahan kantuknya, hingga saat tengah malam, ia pun terlelap dalam tidurnya.


Alarm berbunyi sebagai tanda sudah pagi. Haira membuka matanya, ia melihat ke samping dan ternyata Kania masih tidur. Ia mematikan alarm tersebut, lalu membangunkan Kania.


Kania terbangun dari tidurnya dengan senyuman manis. Ia menatap Haira yang saat ini sedang melipat selimut yang mereka pakai.


Dengan dibantu Haira, Kania pun membersihkan diri dan melaksanakan sholat berjamaah dengan Aiden dan dokter Rika.


Setelah itu, mereka pun pergi ke taman belakang rumah. Udara pagi masih sangat dingin, sehingga Haira memasangkan jaket tebal, kaus kaki, serta penutup kepala untuk Kania.


Ia berdiri di belakang Kania yang duduk di kursi roda. Karena posisi rumah berada di dataran tinggi, pandangan mereka tidak tertutup apapun sehingga dengan leluasa melihat matahari terbit.


Beberapa menit kemudian, matahari pun mulai muncul. Detik-detik matahari terbit terlihat jelas saat ini. Pancaran sinarnya sangat indah meski menyilaukan mata.


"Lihat, Kania! Itu indah sekali!" Haira menunjuk matahari yang mulai naik ke atas.


"Iya, benar-benar indah," sahut Kania dengan suara pelan.

__ADS_1


"Aku juga belum pernah melihat matahari terbit seperti ini. Ternak sangat indah."


"Haira, maukah kau berjanji satu hal padaku?" tanya Kania dengan suara yang seperti terbata-bata.


"Berjanji apa?"


"Jangan pernah menjadikan ku kenangan yang menyedihkan. Jadikan aku kenangan yang membahagiakan dalam hidupmu." Kania memegang tangan Haira yang masih memegang belakang kursi rodanya.


Haira ingi beralih ke hadapan Kania. Ia berlutut sehingga kini tubuhnya sejajar dengan tubuh Kania. "Aku berjanji." Haira mengangguk seraya tersenyum, namun dengan mata berkaca-kaca.


"Jika kau tidak keberatan, maukah kau memelukku?"


Kania mengusap punggung Haira pelan. "Berjanjilah untuk terus bahagia. Ingatlah aku seumur hidupmu sebagai kenangan yang membuat mu bahagia. Haira aku sangat menyayangi mu."


"Aku juga menyayangi mu, Kakak."


Tepat setelah Haira mengucapkan kalimat tersebut, tangan Kania terulur lemas ke bawah, tiada lagi usapan punggung yang dirasakan Haira.

__ADS_1


Haira melepaskan pelukannya saat merasakan tubuh Kania yang sudah kaku. Mata Kania telah tertutup.


Dengan lembut, Haira mengusap pipi Kania. "Kania, bangun, kenapa tidur lagi?" tanyanya dengan suara serak dan bergetar.


Tidak ada jawaban. "Kania, bagun." Kini mata Haira berkaca-kaca.


Masih tidak ada jawaban. Pelan ia memeriksa denyut nadi dan napas Kania. Dan ternyata, Kania tidak bernapas dan ia tidak merasakan denyut nadi Kania. Kania telah pergi untuk selamanya.


Haira mencium kening, pipi dan tangan Kania. "Aku berjanji, Kania, aku berjanji."


Aiden dan Dokter Rika datang setelah melihat Haira menangis sambil sembari terduduk di depan kursi roda Kania.


Mereka terkejut saat melihat bahwa Kania sudah pergi untuk selamanya. Mereka pun menangis melihat hal ini. Dokter Rika memanggil tetangganya untuk datang membantu mengangkat Kania ke dalam rumah.


"Ha-Haira!" Aiden memegang pundak Haira yang masih terduduk dan menatap ke bawah. Tubuhnya berguncang, namun ia tak mengeluarkan suara tangisan.


"Maafkan aku, harusnya aku katakan padamu sejak awal bahwa,,,,,"

__ADS_1


"Bahwa dokter yang menanganinya telah memvonis bahwa umurnya tidak sampai seminggu?" Haira mengangkat wajahnya sambil mengusap air matanya. Ia berdiri menghadap Aiden dengan tatapan kosong.


__ADS_2