
Sebulan kemudian.
"Sayang, sudah selesai belum? William sudah sangat haus ini!" panggil Aiden yang tengah menggendong William yang tengah menangis.
"Iyaaaaa." Haira berjalan cepat dari arah kamar mandi.
"Sini sayang." Haira menggendong William dan menyusuinya. Sedangkan Aiden mendatangi box Harry untuk memastikan dia tidak bangun karena tangisan kakaknya.
Setelah memastikan Harry masih tertidur lelap, Aiden mendekati Haira yang masih menyusui William. Dia memijat bahu Haira dan mencium pucuk kepala Haira.
"Dia tampan sekali ya," ucap Aiden sambil memperhatikan wajah William yang sudah memejamkan mata namun bibirnya masih mengenyot asi ibunya.
"Dia keturunan Alexander. Tentu dia sangat tampan," sahut Haira.
Selesai menyusui, Haira meletakkan William ke dalam boxnya.
"Sebaiknya kau istirahat saja," sahut Aiden.
"Iya, aku sangat lelah. Tadi malam hanya bisa tidur dua jam itu pun di cicil. Kau juga istirahat, kau juga bergadang membantuku mengurus si kembar," ujar Haira sambil menguap.
"Ya sudah ayo istirahat. Di kamar sebelah saja, biar kalau kau mendengkur si kembar tidak terganggu," ujar Aiden.
"Tapi bagaimana kalau mereka bangun?" tanya Haira.
"Biar bibi dan Grandma yang menjaga mereka," sahut Sarah yang baru memasuki kamar mereka bersama Grandma.
"Iya, lagi pula kan ada susu formula. Jadi ketika mereka bangun, kami akan berikan," ucap Grandma.
__ADS_1
"Jangan ragu. Meskipun bibi tidak pernah punya anak, tapi dulu bibi pernah bekerja jadi baby sitter," ucap Sarah.
"Dan apa kalian meragukanku?" Grandma menatap sinis.
"Eh, tidak Grandma. Kan Grandma yang mengurusku sejak bayi," ucap Aiden.
"Ya sudah sana istirahat," ujar Grandma.
Aiden dan Haira mengangguk. Mereka pergi ke kamar sebelah dan segera tidur dengan suara dengkuran yang bersahut-sahutan. Mereka memang sangat lelah karena si kembar sering bangun malam dan mereka bergantian menjaganya.
Grandma memandangi wajah si kembar dengan penuh cinta. "Andai saja William masih hidup, pasti dia akan sangat senang memiliki cucu kembar yang sangat mirip dengannya saat masih bayi."
"Keturunan tuan William memang sangat tampan, nyonya," sahut Sarah.
"Tentu saja, ayah William dulu adalah pujaan para gadis-gadis kaya. Namun hatinya hanya terlambat untukku. Sayang, dia harus meninggal saat tugas militer di Australia." Grandma menyeka air matanya. Baik William dan Aiden sama-sama merasakan kehilangan ayah di usia dini.
"Oh ya, ini tanggal berapa?" tanya Grandma.
"Tanggal 31 januari, Nyonya," sahut Sarah.
"Berarti mereka sudah diesksekusi pagi ini. Kita hanya tinggal menunggu konfirmasi dan pemberitaan di media," ucap Grandma.
"Mereka memang pantas mendapatkannya. Mereka sudah membuat dua anak tak berdosa menjadi yatim piatu dan membuat dua saudara kembar kembali berpisah padahal baru bertemu," ucap Grandma.
"Mereka memang tidak berhati dan tidak pantas untuk hidup," sahut Sarah.
"Oh ya apa kau tidak berencana untuk menikah?" tanya Grandma.
__ADS_1
"Hahaha Nyonya ada-ada saja. Saya sudah kepala empat. Rasanya akan sangat malu untuk menikah sekarang," ucap Sarah.
"Tidak ada pernikahan yang memalukan. Ada pria yang ingin melamarmu. Apa kau bersedia?" tanya Grandma.
"Nyonya jangan bercanda. Mana ada laki-laki yang mau dengan wanita tua seperti saya," sahut Sarah.
"Namanya Allen, pria asal Australia yang merupakan teman bisnis Aiden. Umurnya lebih tua beberapa tahun darimu. Dia duda tanpa anak. Istri nya meninggal sepuluh tahun yang lalu. Katanya saat melihat mu di persidangan yang disiarkan secara langsung, dia langsung tertarik padamu. Lihatlah dirimu, jika di perhatikan wajahmu masih cantik, tubuh mu masih bagus," ucap Grandma.
"Nyonya, saya rasa...."
"Jika aku setuju, maka sudah dipastikan dia pria yang baik. Lihat bagaimana Aiden bahagia dengan Haira, pilihanku. William dengan Jessy, pilihanku," jelas Grandma.
"Baiklah nyonya. Mungkin perkenalan dulu lebih baik," ucap Sarah.
Grandma tersenyum mendengarnya. Dengan begitu Sarah bisa merasakan kebahagiaan dengan menikah dengan Allen Elordi. Pembisnis hebat asal Australia.
Sementara itu...
"Apa? Jadi sarah setuju bertemu dengan saya nyonya?" dalam sambungan telepon.
"Datanglah besok malam dalam jamuan makan malam di rumah kami. Sekalian kau silaturahmi dengan Aiden dan Haira," ucap Grandma.
"Baik nyonya. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih."
*****
Bonus visual Resya
__ADS_1