Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Episode Spesial - Penderitaan


__ADS_3

"Astaga! Harry hentikan!" Resya mendatangi Harry yang masih melukis jari-jari Dean dengan spidol.


Sementara William sedang mencari gambar menarik yang akan dilukis Harry di punggung Dean, tempat yang belum mereka jamah.


"Tapi, Bi, ini sangat seru!" Harry terlihat sangat bersemangat.


"Tapi lihat Paman Dean, dia sangat hancur berantakan karena kalian."


"Sudahlah, Resya, tidak apa-apa yang penting mereka senang." Dean tersenyum pasrah. Membuat Harry semakin bersemangat melukis jari-jari Dean.


"Tidak apa-apa apanya. Kau sudah seperti lukisan berjalan."


"Sudah terlanjur, mau diapakan? Biarkan mereka memuaskan diri mereka. Aku terlalu lelah diajak main kuda-kudaan lagi seperti tadi."


"Aduh, Dean kasihan sekali nasibmu." Resya menatap prihatin kepada Dean.


"Katakan itu juga pada Mike."


"Apa?" Resya langsung mencari keberadaan Mike yang ternyata sedang berada di belakang sofa. Ia tengah mencoreti bagian belakang sofa dengan spidol warna. Dan tak hanya itu, tubuhnya juga penuh dengan coretan yang dibuat William dan Harry.


"Ya ampun! Kalian apakan anak Bibi!" Resya berkacak pinggang sambil memelototi Harry dan William secara bergantian.

__ADS_1


"Maaf, Bi, Mike suka seperti ayahnya, jadi kami gambar dia juga." Harry tertawa cengengesan.


"Dasar anak nakal!" Resya mengejar William dan Harry yang kini berpencar.


Bukannya takut, mereka malah semakin tertawa dikejar seperti itu.


"Astaga! Apa yang kakakku makan saat mengandung kalian!" Resya berhenti dan memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Dia banyak memakan makanan aneh saat hamil," sahut Dean.


"William! Harry! Sini!" Resya memasang wajah serius dan galaknya.


"Harry!" Resya memanggil Harry dengan suara melengking nya. Membuat semua yang ada di situ menutup telinga mereka.


"Jika kalian tidak berhenti, maka Bibi akan menelepon ibu kalian dan menyuruhnya bernyanyi satu album dengan headset yang dipasang di telinga kalian!"


Kini ancaman Resya membuat kedua anak kembar tersebut terdiam dan langsung mendekat.


"Sekarang mandi dan setelah itu tidur siang!"


Kini keduanya langsung menurut.

__ADS_1


Resya akhirnya bernafas lega. Baru saja ia akan duduk, tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada Mike yang sedang mencoreti pipi Ayahnya yang kini sedang meminta digambarkan simbol klub bola kesukaannya.


Resya tidak bisa berkata-kata lagi. Ia memilih diam sambil memelototi ayah dan anak tersebut.


Dean yang menyadari kemarahan Resya yang sudah sampai ubun-ubun, memilih mengajak Mike mandi. Itu hal yang memang harus dilakukan daripada melihat Resya mengamuk.


Setelah mereka pergi, Resya pun memicingkan matanya. Melotot telah membuat matanya menjadi lelah.


"Astaga, Kakak, cepatlah kembali."


*****


"Dokter, bagaimana keadaan Kania sebenarnya?" tanya Aiden saat Haira sedang mandi.


"Kondisinya mulai memburuk. Saya tidak yakin dia bisa bertahan lebih lama lagi." Dokter Rika menyeka sudut matanya. "Yang harus dia lakukan adalah istirahat yang cukup, tapi yang dia inginkan hanyalah menghabiskan waktu bersama Haira."


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Haira saat Kania pergi meninggalkan kita."


"Mereka sama-sama menderita. Yang perlu kita lakukan hanyalah membiarkan mereka menghabiskan waktu bersama selama mereka bisa."


Aiden tak kuasa menahan tangisnya. Bagaimana ia akan melihat Haira nanti. Apakah Haira dapat menerima kenyataan ini? Bagaimana jika dia tidak menerimanya dan terus-menerus merasa sedih? Oh, Aiden sangat takut kehilangan Haira nya yang dulu. Yang selalu ceria dan bahagia, dan membuat hari-harinya penuh warna.

__ADS_1


__ADS_2