
Keesokan harinya, Aiden sekeluarga pun bersiap kembali ke kota. Tak lupa mereka singgah ke pemakaman untuk berpamitan kepada Alm orang tua Haira.
Sepanjang perjalanan, Haira terus mengembangkan senyuman. Ia merasa bahagia dan sangat beruntung mempunyai suami seperti Aiden.
"Apa kau bahagia?" Aiden mengusap pelan kepala Haira.
"Aku tidak pernah sebahagia ini. Terima kasih." Haira memeluk Aiden meski Suzzy dan Icha duduk di belakang mereka.
Lima jam kemudian, mereka sampai di rumah. Suasana tampak aneh karena semua pengawal berjaga di setiap sudut rumah dan halaman. Biasanya mereka tidak akan berjaga seketat itu kecuali jika ada acara penting di rumah mewah itu.
Walaupun Haira merasa curiga, ia tetap mengikuti Aiden masuk ke dalam rumah. Namun, sesampainya di dalam, tidak ada yang aneh.
'Mungkin hanya perasaanku saja.' Batin Haira.
"Oh ya sayang. Ayo temani aku mengecek burung peliharaanku di belakang," pinta Aiden.
"Tentu saja. Susi dan Icha, tolong bawa si kembar ke kamar ya. Sepertinya mereka kelelahan lagi," ujar Haira.
Suzzy dan Icha pun mengangguk. Mereka membawa William dan Harry yang sudah tertidur sejak mereka dalam perjalanan ke dalam kamar.
__ADS_1
Haira mengikuti Aiden menuju belakang rumah. Namun, saat Aiden memegang handel pintu, Haira menahannya.
"Tunggu! Kau kan tidak punya burung peliharaan?"
"Ada, aku baru membelinya tanpa sepengetahuan dirimu."
"Aku tidak percaya. Lagipula kau kan tidak suka menghabiskan waktu dengan hewan peliharaan. Dengan si kembar saja jarang, apalagi dengan burung."
"Sudahlah, Haira. Ayo ikut." Aiden pun memaksa Haira untuk keluar saat ia sudah membuka pintu itu.
"KEJUATAN!!!"
"Kalian? Ada apa ini?" Haira masih heran melihat mereka.
"Kami sengaja kesini untuk membuat kejutan untukmu." Alea menghampiri Haira lalu membimbingnya ke taman belakang rumah itu.
Disana terdapat banyak sekali meja dan kursi yang sudah dihias. Lengkap dengan hidangan dan beberapa dekorasi pesta.
"Terima kasih, aku tidak menyangka kalian akan mempersiapkan ini semua. Padahal ini bukan hari spesial." Haira menyeka sudut matanya.
__ADS_1
"Bukan hari spesial? Haira, ini hari ulang tahunmu." Sevina mengingatkan.
"Hah? Benarkah?" Haira mengecek ponselnya untuk melihat tanggal.
"Benar, ini hari ulang tahunku. Astaga, aku semakin pelupa saja." Haira mentertawai dirinya sendiri.
"Kami tidak heran kok. Kau kan memang pelupa." Sevina menepuk punggung Haira sambil tertawa.
"Dan karena kami tahu kau tidak suka pesta meriah, makanya kami membuatkanmu pesta sederhana ini. Kami juga sudah mengundang Resya dan Dean. Mungkin mereka sedang dalam perjalanan." Alea menjelaskan.
"Terima kasih, kalian sangat mengerti aku." Haira menyeka sudut matanya karena terharu dengan kejutan dari teman-temannya.
"Kau harus ingat, tidak semua ibu-ibu hanya membicarakan tas mahal saja. Aku justru suka hal yang sederhana." Sevina merangkul Haira dengan begitu bersahabat.
"Ya sudah, ayo makan. Aku lapar." Reyza pun membuka suara.
"Iya,,,iya baiklah. Aku juga lapar." Aiden menambahkan.
Mereka pun segera duduk di kursi dengan meja yang penuh dengan makanan. Dan tak berselang lama, Resya dan Dean pun datang. Mereka ikut berbaur dan makan bersama. Sesekali mereka tertawa saat mendengar lelucon dari Resya dan Sevina.
__ADS_1
Haira merasa sangat bahagia. Ia tidak menyangka jika teman yang ia kira hanya sebatas rekan bisnis bisa membuat kejutan yang sangat ia idamkan seperti ini. Makan bersama, bercanda ria, dan tertawa lepas.