Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Bonus Chapter - Duet


__ADS_3

Satu setengah bulan kemudian, Haira dan Aiden menghadiri pesta penamaan anak Resya.


Pesta itu diselenggarakan di rumah Dean dan Resya yang sangat luas itu.


Mereka mengundang rekan bisnis mereka saja. Ada Reyza Armadja, Sevina, dan David. Juga para orang tua mereka yang merupakan pebisnis hebat. Penyanyi terkenal juga turut hadir diacara itu.


Lantunan lagu dangdut menggema di ruangan itu. Hingga saat penyanyi mempersilakan keluarga pelaksana acara naik ke panggung dan bernyanyi, Haira langsung menggandeng tangan Aiden menuju ke sana.


"Sayang, aku malu," bisik Aiden.


"Aku akan lebih malu jika kau turun dari panggung ini."


Haira mengisyaratkan Aiden untuk diam. Ia mendatangi penata musik dan meminta menyanyikan lagu yang berjudul Mabuk Janda yang merupakan lagu kesuksaannya.


"Tidak, Haira. Jangan lagu itu. Orang-orang akan berpikiran berbeda jika yang menyanyi adalah istri seorang Alexander," bisik Aiden.


"Lalu kau mau lagu apa?" tanya Haira setengah kesal.


"Bagaimana kalau lagu Endless Love," ujar Aiden.


"Hmmm boleh juga."


Haira meminta pemutar musik untuk lagu itu. Musik pun mulai terdengar. Dengan pelan mereka mulai berduet menyanyikan lagu romantis yang sebenarnya lagu lawas.

__ADS_1


Hingga ketika mencapai duet bersama, mereka saling mengaitkan tangan hingga keduanya terlihat sangat mesra. Bahkan Haira memegang leher Aiden sambil terus bernyanyi.



Tak ada yang menduga kalau seorang Aiden Alexander mau bernyanyi di depan umum demi istri tercintanya yang masih sangat kelihatan cantik dan langsing meski sudah pernah melahirkan dua anak sekaligus.


Dan tak ada yang menduga juga jika Aiden memiliki suara yang lumayan bagus. Sedangkan suara Haira begitu cempreng. Namun, suara bagus Aiden mampu menutupinya.


Selesai bernyanyi, semua bertepuk tangan untuk mereka berdua. Haira turun dengan bangganya. Ia sangat yakin bahwa tepuk tangan itu sebenarnya untuk suaranya yang MENURUTNYA bagus.


"Wah, aku tidak menyangka suara kakak ipar sangat bagus." Resya berdecak kagum melihat Aiden.


"Ah tidak juga."


"Ya begitulah jika tidak pernah tampil di depan umum. Sekalinya tampil membuat orang berdecak kagum." Dean menambahkan.


"Suara kakak, seperti biasa, juga bagus."


"Tidak usah begitu. Aku jadi malu." Haira menutup mulutnya sambil tertawa kecil.


"Mana si kembar?" tanya Resya.


"Mereka aku tidurkan di salah satu kamar di rumah ini. Sepertinya mereka lelah karena sepanjang perjalanan tadi Harry terus mengacau dan William menangis karena diganggu Harry."

__ADS_1


"Siapa yang menjaga mereka?"


"Susi dan Lena pelayan ku."


Resya mengernyitkan dahinya. "Suzzy dan Lieuna mungkin."


"Ya, itu hampir mirip. Aku tidak mau membuat hidupku terbebani hanya karena nama seseorang yang rumit. Apalagi nama suami mu yang sulit itu." Haira mencibir.


"Ya, itu sedikit rumit memang." Resya mengangguk setuju.


"Oh ya kak, aku dengar pak Feri sudah dipecat ya?" tanya Resya.


"Ya, dia terbukti menjual data perusahaan Aiden. Bahkan sekarang dia kehilangan semua harta bendanya untuk mengganti semua kerugian perusahaanku." Haira mendengkus kesal.


"Sayang sekali ya, padahal posisinya sudah tinggi." Resya.


"Ya, tapi dengan bodohnya, kakak iparmu ini malah meminjami dia uang untuk memulai usaha baru." Haira menyikut lengan Aiden yang seperti tidak ingin mendengarkan.


"Sudahlah, aku yakin dia sudah berubah kok. Aku kasihan melihatnya mereka hidup sengsara seperti itu. Dia melakukan itu juga karena dipaksa keadaan. Sudahlah jangan bicarakan lagi."


"Lihatkan? Masih salah saja dibela."


"Sepertinya kakak ipar masih tidak suka pada seorang peminjam uang." Dean menambahkan.

__ADS_1


"Sepertinya kau punya pengalaman dengan itu." Haira menatap Dean dan menaik-naikkan alisnya.


Dean hanya bisa terkekeh. Dia masih ingat betul bagaimana dulu Haira sering menuduhnya sebagai tukang pinjam uang, bahkan dituduh juga sebagai pelakor.


__ADS_2