
Ditengah kegiatan makan siang mereka, Naumi mulai membuka pembicaraan.
"Haira, kenapa anak kembar kalian tidak dibawa?" tanya Naumi.
"Tidak baik membawa balita saat ayahnya sedang rapat. Mereka sedang tidur saat aku pergi tadi," sahut Haira.
"Jika aku jadi seorang ibu, tentu aku sangat bahagia mempunyai anak kembar yang menggemaskan seperti mereka. Aku tidak akan meninggalkan mereka barang sedetikpun. Karena setiap detik pertumbuhan anak, sangatlah penting bagi orang tua mereka." Naumi tersenyum penuh ejekan namun itu hanya bisa dilihat Haira saja. Sedangkan Aiden tidak begitu menanggapi senyuman Naumi.
"Kau benar. Tapi sayangnya kau belum menjadi ibu. Kau tau? Aku merasa sangat beruntung. Punya suami yang perhatian dan penyabar. Punya anak kembar tampan yang menggemaskan." Haira membalas senyum ejekan Naumi.
"Ya mau bagaimana lagi. Pria yang aku suka belum mengakui perasaannya." Naumi menatap Aiden yang masih sibuk dengan makanannya.
"Kalau begitu untuk apa menunggu? Cari saja pria yang menyukaimu. Aku yakin banyak. Kau kan pintar, cantik, dan wanita BAIK-BAIK."
"Terima kasih, tapi aku masih menunggunya. Sekeras apapun dia, aku yakin dia akan luluh kepadaku. Dia hanya belum sadar ada wanita yang sedang menunggunya." Naumi menopang dagunya dan tersenyum menatap Aiden yang masih saja sibuk dengan makanannya.
'Dasar wanita sinting!' Batin Haira sambil mengepal erat tangannya.
"Ya semoga saja tidak bertepuk sebelah tangan ya. Kau tau? Rasanya akan sangat menyakitkan." Haira menatap prihatin ke arah Naumi.
"Terima kasih sudah mendoakan ku. Semoga hubungan kalian langgeng sampai tua ya. Semoga tidak ada pengganggu di dalam hubungan kalian. Kau tau? Rasanya akan sangat sakit." Naumi menggeleng sambil menatap prihatin.
"Sepertinya kalian jadi sangat dekat ya. Kalau begitu aku akan sering-sering mengajak Haira saat meeting bersamamu ya, Naumi." Aiden yang baru saja menyelesaikan suapan terakhirnya, akhirnya berbicara.
Wajah Naumi berubah saat mendengar itu semua.
"Ah sayang, jangan begitu. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu." Haira memegang tangan Aiden dan tentu saja itu membuat Naumi merasa jengkel.
"Kau tidak pernah mengganggu." Aiden juga memegang tanga Haira.
'Dasar kurang ajar mereka! Bisa-bisanya berpegangan tangan di depanku.' Gerutu Naumi dalam hati.
__ADS_1
"Benar Tuan Aiden, Haira kan harus menjaga anak-anak. Kasihan kan kalau keseringan ditinggal. Haira kan ibu yang baik. Betulkan, Haira."
"Terima kasih, Naumi. Kau sama seperti suamiku ini. Tiada hari tanpa memuji baginya." Haira menatap Aiden dengan penuh cinta.
"Apapun untukmu, sayang." Aiden mengusap kepala Haira dengan gemas.
Naumi semakin terbakar cemburu. Tangannya yang berada dibawah meja pun mengepal erat karena melihat hal tersebut.
Setelah cukup dengan obrolan, mereka pun berpisah. Aiden mengantar Haira pulang terlebih dahulu lalu kembali ke kantor karena Dean sudah menunggu.
*****
"Aku lihat kakak ipar semakin cantik, ya," ucap Dean saat mereka sudah selesai dengan pembicaraan soal bisnisnya.
Aiden hanya tersenyum mendengar ucapan Dean.
"Apa kau tidak merasa ada hal yang membuat kakak ipar berubah?" tanya Dean.
"Benarkah? Hebat sekali."
"Istriku memang hebat." Aiden tersenyum penuh kebanggaan.
"Tentu saja, kau adalah suami yang setia." Dean menepuk pundak Aiden.
"Kenapa kau mengatakan hal itu?" tanya Aiden.
"Aku,,,,,,"
Tiba-tiba ponsel Dean berdering.
"Sebentar ya." Dean mengangkat panggilan tersebut.
__ADS_1
"Halo, iya sayang."
..................
"Iya, aku sedang bersama Aiden."
..................
"Apa? video call? Apakah harus?"
.................
"Baiklah. Sebentar."
Dean mengangkat ponselnya lalu mengarahkan ke wajahnya dengan Aiden di belakangnya.
"Sekarang kau percaya kan?"
"Iya aku percaya."
"Tenanglah Resya, jika suamimu macam-macam aku akan meninjunya sampai semua giginya rontok," celetuk Aiden.
"Jangan kak, nanti dia jelek. Tinju saja wajahnya, tapi jangan mengenai giginya. Luka lebam hanya membekas beberapa hari saja."
"Hahaha, siap Tuan Putri." Aiden memberi hormat.
Setelah itu Dean mematikan panggilannya. Ia menghela nafas panjang. "Sejak melahirkan, Resya jadi over posesif."
"Itu wajar saja. Lihat saat anakmu bertambah besar dan dia akan megabaikanmu."
Dean hanya tersenyum simpul.
__ADS_1