Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Episode Spesial - Selamat jalan


__ADS_3

Sore itu, Kania telah selesai di makamkan. Semua yang mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya sudah membubarkan diri.


Haira masih terduduk di samping nisan Kania sambil menatap dengan senyuman yang diiringi dengan air mata.


Aiden dan dokter Rika juga masih di sana, mereka tahu bagaimana perasaan Haira saat ini.


Terlebih lagi Aiden, ia masih penasaran tentang Haira yang sudah mengetahui hal yang telah ia sembunyikan. Pagi tadi, saat Haira hanya menatapnya saja, lalu pergi ke dalam rumah, membantu mempersiapkan pemakaman Kania. Ia belum menjelaskan tentang apapun mengenai hal itu.


Ia duduk di samping Haira, lalu mengusap bahunya perlahan. "Ikhlaskan kepergiannya."


Haira hanya diam saja. Ia kembali menabur bunga di atas makam Kania dan mengusap nisannya pelan.


"Haira, ayo kita pergi, Sayang. Sebentar lagi hari akan gelap," ujar Aiden.


"Kenapa kau memilih menyembunyikan fakta tentang Kania?" tanya Haira tanpa menoleh.


"Aku tidak ingin membuat mu bersedih. Setidaknya di saat-saat terakhirnya kau tidak menunjukkan kesedihan mu."


"Tapi aku berhasil menyembunyikannya."

__ADS_1


"Iya, maafkan aku. Aku tidak mengira Haira ku lebih sangat kuat dan tegar."


"Aku hanya tidak ingin memberikan kenangan pahit dengan menunjukkan rasa sedih ku."


"Aku tahu kau adalah orang yang sangat hebat."


"Haira, sejak kapan kau tahu tentang fakta umur Kania?" tanya Dokter Rika.


"Aku mendengarnya saat kalian mengobrol. Saat itu, aku akan mandi, tapi, aku lupa membawa sabun wajah, sehingga aku kembali ke kamar. Dan tanpa sengaja aku mendengar percakapan kalian." Lihat Bab 127. Episode Spesial - Penderitaan.


"Jadi, sejak itu kau berusaha membuat Kania tersenyum, tidur di kamarnya, dan mengabulkan setiap keinginannya?" tanya dokter Rika.


"Aku yakin kau pasti bisa." Aiden kembali mengusap punggung Haira. Ia pun membimbing Haira berdiri.


Haira melihat nisan Kania sambil tersenyum. "Kau sekarang sudah berada di samping makam ayah dan ibu. Aku harap, jika kalian bertemu, datanglah ke dalam mimpiku. Selamat jalan Kania, aku sangat menyayangi mu. Kau akan menjadi kenangan terindah dalam hidup ku." Menyeka sudut matanya, dan kembali tersenyum.


Mereka pun menabur bunga di atas makam ayah dan ibu Haira. Mendoakannya, lalu setelah itu kembali ke rumah.


Setibanya di rumah, Haira sedikit terkejut melihat lukisan yang pernah ia buat telah terpajang di dinding ruangan beserta foto aslinya dengan balutan bingkai yang indah.

__ADS_1


"Siapa yang menggantungnya di sana?" tanya Haira.


"Itu permintaan terkahir Kania padaku. Dia ingin agar lukisan itu diberikan bingkai. Dia ingin kau menyimpannya," ucap Aiden.


Haira menitihkan air mata. "Ya, aku pasti akan menyimpannya. Tidak, jangan disimpan. Aku akan menggantungnya di kamar kita agar setiap saat aku selalu bisa melihatnya."


"Itu ide yang bagus," ujar dokter Rika.


"Dok, setelah empat puluh hari Kania, ikutlah kami ke kota. Dokter adalah ibu angkat Kania, artinya dokter adalah ibuku juga." Haira memegang tanga dokter Rika.


"Maafkan saya, Haira. Saya tidak bisa ikut. Saya satu-satunya dokter yang ada di daerah ini. Jika saya tidak ada, bagaimana mereka akan berobat dengan biaya murah. Rumah sakit jauh dan mahal. Mereka sudah bergantung pada saya selama ini."


"Haira, setidaknya, jika Dokter Rika di sini, dia pasti akan sering-sering mengunjungi Kania." Aiden menjelaskan.


"Benar juga, kalau begitu, kau harus lengkapi peralatan di klinik dokter Rika," ujar Haira.


"Itu sudah aku pikirkan. Aku akan mensuplai kebutuhan klinik setiap bulan. Gaji dokter Rika juga akan ada sebagai tenaga medis di desa yang menjadi desa kelahiran mu." Beralih menatap dokter Rika dan berkata lagi, "Tolong terima saran saya, Dok, jika tidak, Kania pasti akan kecewa."


Dokter Rika tersenyum lalu mengangguk. "Terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2