Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Bonus Chapter - Teror


__ADS_3

"Maaf, apa kedua anak ini cucu Ibu Haira?" tanya dokter.


"Tidak, dok, mereka anak-anak kami. Haira itu istri saya," sahut Aiden dengan tatapan kosong.


"Tetapi Ibu Haira berumur lima puluh tahun."


Aiden mengernyitkan dahinya. Cepat-cepat ia menghapus air matanya. Benarkah ada kesalahan?


"Tidak, Dok. Istri saya berumur hampir tiga puluh tahun."


Dokter kembali membuka data pasien. "Namanya Ibu Hairani Fitria. Apa itu nama istri anda?" tanya dokter lagi.


"Tidak, Dok. Nama istri saya Haira Pramana."


Tak jauh dari mereka ada beberapa orang seusia Aiden datang dan menangis sambil menyebut-nyebut ibu mereka.


"Ibu!!! Ibu!!!"


Saat mereka sampai di depan ruang UGD, mereka langsung menanyakan perihal ibu mereka pada dokter.


"Apa ibu kami bisa diselamatkan, dok?" tanya salah seorang pria dengan perawakan tinggi besar.

__ADS_1


"Apakah nama Ibu anda Hairani Fitria? Korban tenggelam di danau?" tanya dokter.


Mereka kompak mengangguk.


"Maaf, Ibu Hairani dinyatakan meninggal lima menit yang lalu."


"Ibu!! Ibu!! Tidak!!!" Mereka pun menangis histeris. Aiden juga merasa sedih. Biarpun yang meninggal bukan Haira nya, namun Haira yang ini juga memiliki orang-orang yang mengasihinya. Dan dia masih belum mengetahui keadaan Haira saat ini. Si kembar yang sudah memahami situasi salah nama itu pun ikut terdiam meski isakan mereka masih ada akibat menangis terlalu kencang.


Bertepatan dengan itu, jenazah orang yang bernama Hairani pun dikeluarkan guna dipindahkan ke ruang jenazah. Keluarganya juga turut ikut.


"Lalu bagaimana dengan Haira Pramana?" tanya Aiden tidak sabar.


"Maaf, yang menangani Ibu Haira itu dokter Ibrahim, bukan saya."


"Dok, bagaimana dengan keadaan Haira Pramana yang berusia tiga puluh tahun?" tanya Aiden penuh harap.


"Ibu Haira sudah melewati masa kritisnya. Sekarang keadaan beliau sudah stabil. Hanya tinggal menunggu siuman saja. Lain kali, jangan biarkan Ibu Haira makan sambil berbicara atau tertawa. Itu bisa membahayakan nyawanya," ujar Dokter Ibrahim.


"Baik, Dok." Aiden mengangguk.


"Kapan kami bisa bertemu ibu?" tanya William.

__ADS_1


"Ibu kalian akan dipindahkan ke ruang rawat sebentar lagi. Sabar ya." Dokter Ibrahim tersenyum lembut sambil mengusap kepala William.


*****


Di ruang rawat, Haira terbaring dengan selang infus di tangannya dengan wajah pucat dan mata yang masih terpejam.


"Ibu, bangun," bisik Harry sambil membelai rambut Haira.


"Iya, Bu. Kami janji tidak akan bertengkar lagi. Ibu jangan tinggalkan kami." William yang berada di sisi lain Haira juga turut membelai pipinya.


Aiden berdiri di ujung ranjang rawat Haira sambil terus memandangi wajahnya. 'Aku bisa mati karena mu,' batinnya sambil menghapus air matanya.


Aiden pun teringat dengan penelpon yang membuat Haira terkejut hingga tersedak. Ia pun lantas memeriksa ponsel Haira dan menemukan riwayat panggilan masuk dari nomor tak dikenal.


Ia pun kini yakin memang ada yang mencelakai Haira. Untungnya dia sudah mengantisipasinya sejak awal dimana ia membuat semua panggilan yang masuk terekam otomatis di ponsel Haira.


Ia pun mendengarkan rekaman suara si penelpon. Terdengar bahwa yang menelepon adalah seorang pria dengan suara yang seperti ditutupi sesuatu. Halo, Nyonya Haira, Dean dan Resya mengalami kecelakaan di jalan tol. Halo, Halo.


"Pantas saja Haira langsung terkejut dan tersedak. Baiklah! Kita akan lihat seberapa pintar dirimu. Aku tidak akan melaporkan hal ini pada polisi karena aku yakin mereka akan bekerja dengan sangat lambat. Aku akan mencari mu dengan caraku sendiri." Menatap ponsel itu dengan tajam.


Tak berselang lama, datanglah Sean dan juga Viana. Mereka mendapat kabar dari manajer restorannya.

__ADS_1


*****


Bagi yang nggak suka karakter Haira silakan out tanpa meninggalkan komen jelek. Aku sedang berusaha bertahan di NT. Jangan bikin aku pergi lagi 😊


__ADS_2