Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Kamar Pengantin


__ADS_3

Malam ini rumah Alexander menjadi lebih ceria. Biasanya malam hanya dilalui dengan malam yang gelap dan sunyi. Sekarang rumah itu kembali terang dan lebih hangat karena keberadaan nona muda mereka.


Haira tengah memperhatikan semua makanan yang terhidang di meja makan. Semua adalah menu makanan kesukaannya.


"Sayang, jangan dilihat saja, ayo makan," ujar Aiden.


Haira mengangguk. Dikehamilan bulan kedua ini, nafsu makannya sudah kembali. Seolah tidak perlu menunggu trimester kedua, belum selesai trimester pertama pun dia sudah mulai doyan makan.


Dengan penuh semangat, Haira mengambil sedikit demi sedikit setiap menu makanan yang ada di meja hingga piringnya penuh lauk makanan.


Haira melayangkan sendok dan garpu lalu memakan semuanya dengan lahap. Aiden yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


Selesai makan, mereka pun pergi ke kamar yang sudah dihias sedemikian rupa seperti kamar pengantin.


Haira melihat taburan kelopak bunga mawar di atas ranjang berukuran king size. Lampu-lampu hias menyinari seisi kamar.


"Wah indah sekali." Haira berdecak kagum.


"Kau suka?" Aiden memeluk Haira dari belakang.


"Aku sangat suka. Bagaimana kau bisa hidup tanpa semua ini? Kau meninggalkan kemewahan dan hidup pas-pasan."


"Entahlah. Tetapi sejak kedatanganmu dalam hidupku, seolah aku ingin hidup pas-pasan seumur hidupku. Bagaimana kau bisa sesempurna ini? Cantik, baik, rela hidup susah bersamaku," ucap Aiden yang semakin mempererat pelukan nya.


"Hei jangan lupakan kedua anakmu sayang," ucap Haira.

__ADS_1


"Eh maaf, aku lupa." Aiden merenggangkan pelukan nya.


"Mungkin aku memang ditakdirkan menjadi pendamping mu dikala kau susah. Ah tidak, izinkan aku memperbaiki kata-kataku. Mungkin aku ditakdirkan menjadi pendamping mu saat kau menyamar jadi orang susah, miskin, pas-pasan, jadi bahan hinaan...."


"Cukup sayang, jangan terlalu jujur. Sudahlah, aku mencintaimu." Aiden membalikkan tubuh Haira hendak mencium bibirnya. Dia mengerucutkan bibirnya di depan bibir Haira.


Haira juga mengerucutkan bibirnya.



"Sayang, aku jijik." Haira memundurkan wajahnya.


"Ya sudah, ayo berciuman seperti biasa lalu lakukan hal yang lebih enak setelah nya."


"Iya sayang, ayo cepat."



Ketika keduanya sudah polos, Haira menahan tubuh Aiden yang hendak memasukkan senjata keagungannya.


"Kenapa sayang, aku sudah tidak tahan," ucap Aiden ditengah deru nafasnya yang sudah tidak beraturan.


"Pelan-pelan ya. Aku kan sedang hamil."


"Memangnya aku pernah berlaku kasar saat mantap-mantap dengan mu. Bahkan kau yang selalu mendesah."

__ADS_1


"Hah masa sih. Ya sudah, lakukan."


Aiden kembali mengarahkan senjata nya ke sasaran. Namun lagi-lagi Haira menahannya.


"Apa lagi sayang." Aiden terlihat frustasi.


"Aku belum minum setelah makan hidangan pencuci mulut."


"Sayang aku berjanji, aku akan membawakan satu pam berisi air minum untukmu."


"Janji ya."


"Aku berjanji."


Aiden kembali mengarahkan namun lagi-lagi Haira menahannya.


"Apa lagi!" Aiden mulai kesal.


"Kau belum menceritakan tentang Grandma mu. Kau hanya bercerita tentang orang tuamu."


"Astaga apa itu penting sekarang?"


"Mu-mungkin tidak. Ya sudah mulai sekarang. Jangan ajak aku bicara lagi."


Aiden menarik nafas pelan lalu mengeluarkannya perlahan. 'Sabar Aiden, ini pasti bawaan ibu hamil. Sepertinya kedua anak kembar kami lebih suka merepotkan ayahnya' Batin Aiden.

__ADS_1


Dan akhirnya pertempuran malam itu pun terjadi. Malam ini, kamar pengantin di rumah itu akhirnya terpakai juga sesuai keinginan sang pemilik.


__ADS_2