
Keesokan malamnya, ruang makan di rumah Aiden dan Haira sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan lezat.
Sarah juga sudah didandani. Pempilannya sangatlah cantik. Bahkan dia tidak terlihat berusia empat puluh tahun. Malah terlihat seperti baru berumur tiga puluh tahun.
"Apa kau gugup?" tanya Grandma.
"Tidak, nyonya," sahut Sarah.
"Ya jelas sekali kau gugup. Terlihat jelas pada pipimu yang memerah," ucap Grandma yang membuat Sarah semakin salah tingkah.
Tak hanya mereka, Resya dan Dean juga datang untuk meramaikan suasana. Apalagi Dean juga sangat kenal dengan Allen.
Tepat pukul tujuh, sebuah mobil mewah datang. Pengawal yang berjaga di depan rumah itu pun membukakan pintu. Tampak seorang pria berjas masuk ke dalam rumah mewah itu.
"Selamat datang Allen," ucap Grandma sambil memeluk pria itu.
"Terima kasih nyonya," sahut Allen.
"Perkenalkan ini Sarah," ucap Grandma.
Allen mengalihkan pandangan ke Sarah yang terlihat sangat cantik dengan balutan dres panjangnya.
"Aku Allen," ucap Allen sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Aku Sarah." Sarah menyambut uluran tangan Allen dengan agak gugup.
"Apa kabar paman Allen," sapa Aiden.
"Baik, selamat ya atas kelahiran anak kembar mu," ucap Allen.
"Terima kasih paman," sahut Aiden.
"Mari kita ke ruang makan," ajak Grandma.
Semua pun pergi ke ruang makan dan duduk di kursi ruang makan tersebut. Allen tampak terus memperhatikan Sarah dan itu membuat Sarah semakin salah tingkah.
Makan malam pun di mulai. Mereka langsung menikmati makan malam yang telah tersaji sambil mengobrol soal bisnis.
Namun saat itu juga Allen berdiri dan menghampiri Resya yang berjarak satu orang di sebelahnya.
"Kau!" Allen memegang lengan Resya dan itu membuat semua nya terkejut.
"Ada apa paman?" tanya Resya yang takut melihat Allen yang sedang menatap serius padanya. Aiden dan yang lainnya berdiri dari duduknya. Mereka juga penasaran dengan sikap Allen yang seperti itu.
"Paman, ada apa?" tanya Aiden kali ini.
"Kau! Darimana kau dapatkan kalung ini?" Allen menunjuk kalung yang dipakai Resya. Sepertinya saat Resya membungkuk tadi, kalungnya kelihatan.
__ADS_1
"Itu kalung saya, tuan," sahut Dean.
Allen berbalik dan menatap Dean dengan mata berkaca-kaca. "Siapa yang memberikan ini padamu?" tanyanya.
"Kenapa tuan? Apa anda mengenali pemilik asli kalung ini?" tanya Dean.
Allen terduduk di kursi dengan wajah yang amat sangat sedih.
"Kalung itu mirip sekali dengan kalung Alm istriku yang hilang bersama bayi kami dua puluh lima tahun yang lalu," ucap Allen.
"Apa? Hilang? Apa maksudmu Allen?" tanya Grandma.
"Dua puluh lima tahun yang lalu, istriku baru saja melahirkan seorang anak laki-laki. Sangking senangnya, istriku memberikan kalung itu sebagai penanda. Dia takut bayi kami tertukar saat di ruang bayi. Entah pemikiran macam apa itu. Tapi yang terjadi malah lebih buruk. Bayi kami hilang diculik oleh seseorang." Allen menyeka air matanya.
"Apa?" Dean terkejut mendengar cerita Allen.
"Karena itu aku tanya dimana kau mendapat kalung itu?" tanya Allen.
"Ini milikku saat bayi. Orang tuaku membuangku di sebuah panti asuhan di Australia dan meninggalkan kalung ini," ucap Dean.
"Jadi...Kau adalah anakku?" Allen bersiap untuk memeluk Dean namun Dean menepisnya.
"Tidak! Menurut penuturan ibu panti asuhan, aku ditemukan bersama surat yang isinya tidak menginginkan ku. Jangan berbohong, tuan," ucap Dean.
__ADS_1