
"Ayo, anak-anak, cepatlah!" Haira berteriak memanggil kedua anaknya yang masih berada di dalam kamar.
"Sebentar, Bu!" teriak William.
"Mereka sedang apa, 'sih kenapa lama sekali." Haira menapaki anak tangga untuk melihat kedua anaknya yang entah sedang ada.
Jeglekk. Haira membuka pintu kamar William.
"Berikan padaku!" teriak Harry sambil menarik sebuah handuk dari tangan William.
"Tidak! Ini milikku! Kau pakai saja yang itu!" Menunjuk handuk berwarna pink dengan motif Hello kitty yang ada di atas ranjang William.
"Ya ampun. Jadi ini yang kalian ributkan sehingga membuat lama begini?" Haira berkacak pinggang. Membuat kedua bocah berwajah sama itu langsung berhenti berebut handuk.
"William, katakan apa yang sebenarnya terjadi." Haira menatap William menunggu jawaban.
"Bu, tiba-tiba Harry datang dan menukar handuknya dengan handuk milikku." William menunjuk kembali handuk berwarna pink tadi.
"Bu, aku tidak mungkin memakai handuk anak perempuan seperti itu."
"Memangnya selama ini kau pakai handuk yang mana?" tanya Haira.
__ADS_1
"Handuk berwarna hitam dengan motif Spiderman. Tapi handuk itu kotor setelah jatuh ke luar dan mendarat tepat di kubangan air bekas hujan kemarin."
"Hah!" Haira pun melangkah ke arah jendela. Melihat keluar dan benar saja, handuk Harry jatuh diatas kubangan air bekas hujan. Haira langsung menyuruh pelayan untuk mengambil dan mencucinya.
"Katakan, kenapa handuk mu berada disana!" Haira menatap Harry penuh curiga.
"Iya, Bu iya. Tadi aku berniat mengerjai William. Menyabet handukku ke jam tangan barunya. Tapi dia malah menghindar. Dia menarik handukku dan tanpa sengaja handuknya terlempar ke luar jendela." Harry menunduk karena ia tahu bahwa ia yang salah.
"Harry!" Haira memegang pundak Harry dan menatapnya dengan serius. "Pakailah handuk pink itu atau kau tidak perlu mandi di kolam spesial yang ayah buatkan untuk kalian yang hanya bisa kalian nikmati sekali dalam lima tahun. Anggap saja itu hukuman atas kenalakan mu pada kakakmu."
"Tapi aku tidak bisa memakai handuk berwarna pink, Bu. Bagaimana kalau ada gadis yang melihatku?"
Haira menutup mulut dengan kedua tangannya. Tidak menyangka Harry akan berpikiran seperti itu.
"Ibu, Harry, William, kenapa lama sekali?" Aiden masuk ke kamar William karena sejak tadi ia menunggu mereka seperti seorang supir menunggu majikan.
"Bagaimana, Harry? Mau ikut atau tidak?" Haira kembali bertanya pada Harry.
"Lho, memangnya kenapa? Harry tidak mau ikut? Tumben." Aiden menatap heran pada Harry.
"Handuknya kotor dan tersisa handuk warna pink." Haira menjelaskan.
__ADS_1
"Oh ya sudah pakai handuk ayah saja. Ayah kan tidak mandi." Aiden menawarkan.
"Bolehkah, Yah?" Harry menatap antusias.
"Tentu! Ayo kita pergi. Ayah akan mengambil handuknya."
Mereka semua mengangguk setuju lalu pergi ke mobil.
*****
Di perjalanan, Harry terus memasang wajah cemberut.
"Kenapa lagi, Harry? Kau kan sudah dapatkan handuk Ayah," ucap Aiden.
"Ya, tapi kenapa Ayah tidak bilang handuk Ayah berwarna pink dengan motif kupu-kupu." Harry semakin kesal saat mengucapkan kalimat itu. "Sudah warnanya pink, ukurannya besar. Aku jadi seperti memakai selimut." Melipat tangannya di dada.
"Hahaha, maaf. Ayah lupa memberitahu mu. Mau bagaimana lagi. Ibu membawa semua handuknya, sedangkan handuk Ayah tidak dibawa. Jadilah Ayah memakai handuk ibu."
"Tapi kan kita bisa beli disini, Yah."
"Tidak bisa. Handuk kita berbeda. Apa kau mau memakai handuk yang tidak menyerap air, kasar, dan berkuman? Apa kau kira handuk baru itu tidak berkuman? Makanya Ayah mau memakai handuk ibu. Untungnya itu handuk baru yang belum dipakai ibu."
__ADS_1
"Ya, ibu membelinya di Australia. Ayah kalian ingin yang terbaik untuk kalian. Makanya ayah tidak mau sembarangan memberikan kalian handuk," sambung Haira.
"Ya sudahlah, Hanya karena handuk saja bisa panjang begini." Harry menghela nafas pasrah. Sedangkan William hanya bisa tersenyum geli. Sebenarnya ia punya handuk lebih dari satu, tetapi ada kalanya Harry mendapatkan pelajaran berharga agar tidak sesuka hati berbuat nakal.