Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Teman


__ADS_3

Puas bermain, Dean dan Resya makan di tempat makan dalam mall tersebut.


"Enak ya jadi kak Aiden, sudah kaya, bisa melakukan segala nya. Sultan sih bebas," ucap Resya.


"Dia memang sudah kaya sejak lahir," sahut Dean.


"Sejak kapan kau bekerja padanya?" tanya Resya.


"Sudah lama sekali, bahkan saya lupa kapan itu, nona," jawab Dean.


"Jangan panggil nona. Panggil saja Resya dan jangan terlalu formal," ujar Resya.


"Baik, Resya," sahut Dean.


"Kau terlihat begitu pengalaman dalam hal penjadwalan. Kau bahkan membuat jadwal yang tidak membosankan," puji Resya.


"Aku hanya melakukan hal yang tidak akan membuat tuan Aiden merasa bosan," ucap Dean.


"Oh ya, berapa umurmu?" tanya Resya.


"Dua puluh lima tahun," sahut Dean.


"Wah sudah matang dong. Kenapa kau tidak menikah saja?"


"Kau sendiri terlalu muda untuk menikah," ucap Dean.

__ADS_1


"Aku dijodohkan," sahut Resya.


"Jika tidak dijodohkan, apa yang akan kau lakukan? Aku lihat kau sangat menyukai sejarah. Kenapa tidak jadi guru saja? Aku yakin guru sejarah sepertimu akan membuat murid di dalam kelas betah berlama-lama meski pelajarannya membosankan," ujar Dean.


"Kenapa begitu? Ada apa dengan ku?"


"Kau cantik dan ceria. Apalagi anak sekolah jaman sekarang pasti suka guru yang masih fresh sepertimu," ucap Dean.


"Aku memang suka sejarah. Tapi menjadi guru bukan keinginkanku. Lagipula mana pantas wanita seperti aku jadi guru. Aku tidak pantas untuk ditiru. Aku sudah sangat hina dimata masyarakat," ucap Resya lirih.


"Kau hanya korban," sahut Dean.


"Apa? Darimana kau tau? Aku bahkan tidak bercerita apapun padamu," ucap Resya dengan tatapan heran.


"Eh, maksudku bukan begitu. A...aku lihat saat kau memandang kalung dengan penuh kebencian dan menyuruh membuang nya. Aku kira kau punya masalah dengan hal itu," ucap Dean.


"Apa yang terjadi?" tanya Dean.


Resya masih diam dan menunduk.


"Anggap saja kita teman. Kau bebas menceritakan apa saja. Kau tau kan bagaimana murkanya tuan Aiden jika aku membuat kesalahan?"


Resya mengangkat wajahnya. "Semua terjadi saat aku pergi liburan ke Australia." Resya mulai bercerita panjang lebar mengenai peristiwa malam itu. Meski Dean sudah tau, namun dia tetap mendengar cerita itu dari sisi Resya.


"Kenapa kau tidak mencarinya?" tanya Dean.

__ADS_1


"Aku terlalu takut bertemu dengannya. Dan saat itu aku masih delapan belas tahun. Mana mungkin aku menikah di usia semuda itu. Karena hal itulah aku tidak jadi melanjutkan kuliahku. Aku berpikir untuk apa aku kuliah, toh aku hanya seorang gadis yang sudah kotor."


Tenggorokan Dean tercekat mendengar hal itu. Begitu besar kesalahan yang telah ia lakukan hingga wanita di depannya ini kehilangan masa depannya.


"Lalu sekarang, jika pria itu datang dan ingin bertanggung jawab, apa kau akan menerima nya?" tanya Dean dengan ragu.


"Kau tau aku sangat membenci dirinya kan? Jika saja dia datang sebelum aku mengenal Ziko mungkin aku bisa mentolerirnya. Tapi sekarang rasanya tidak ada gunanya lagi. Namaku sudah terlanjur jelek dan semua orang memandang rendah diriku," sahut Resya.


"Tapi, apa membencinya akan membuatmu merasa lebih baik?" tanya Dean.


Resya menggelengkan kepalanya. "Tapi akan lebih baik jika aku tidak bertemu dengannya dan membuka luka lama."


Dean berusaha tersenyum dan mengangguk. Terlihat jelas raut wajah bersalahnya.


Setelah puas, mereka pun pergi meninggalkan ma tersebut dan kembali ke rumah.


"Dean, pulanglah. Aku ingin istirahat. Terima kasih untuk hari ini," ucap Resya.


Namun hujan malam turun dengan derasnya.


Resya langsung mengambil payung dan memberikannya pada Dean. "Ini pakailah. Mobilmu masih di luar gerbang rumah, nanti kau bisa basah."


"Terima kasih." Dean tersenyum lalu mengambil payung tersebut. Dia pun melangkah meninggalkan Resya yang masih berdiri di ambang pintu.


Beberapa langkah, Dean pun menoleh ke belakang dan melihat Resya yang sudah masuk ke dalam rumah.

__ADS_1



"Aku akan berusaha meluluhkan hatinya."


__ADS_2