
Hari-hari Haira hanya dipenuhi dengan air mata. Setiap hari dia menemani Aiden dan dengan setia menunggu nya berharap Aiden lekas sadar. Setiap hari selalu ada rekan kerja Aiden yang menjenguk nya. Mereka mengatakan bahwa tanpa Aiden kantor sedikit berantakan.
Haira baru saja selesai membersihkan tubuh Aiden. Dia melakukannya dengan penuh kesabaran.
"Dean, kenapa setiap hari kau datang ke sini?" tanya Haira.
"Aku...hanya ingin memastikan Aiden baik-baik saja," sahut Dean.
"Tapi kenapa seperti itu? Sudahlah Dean, jangan pikirkan hutangmu lagi. Akan kami anggap bahwa hutang mu sudah lunas."
"Tidak, aku akan menjaganya di sini." Dean tetap bersikeras.
Haira mulai terlihat kesal. Ia menatap Dean dengan tatapan curiga. "Kau menyukai suamiku, ya?"
"Ya, Aiden itu..Tunggu! Apa?" Dean mengernyitkan dahinya.
"Jujur sajalah, kau menyukai suamiku, 'kan? Dean, dengar ya, aku tahu suamiku sangat baik, tetapi bukan berarti kau bisa menganggapnya berlebihan."
"Apa?" Dean semakin terpojok.
"Dengar ya, sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan kau merebut suamiku. Aku akan mempertahankan dirinya dari pelakor sepertimu!"
Dean semakin salah tingkah. "Anu, tidak bukan begitu..."
__ADS_1
"Sayang kenapa kau memarahi Dean?"
"Bagaimana aku tidak marah? Dia berusaha merebut mu, sayang."
"Eh, tunggu!" Haira langsung berbalik dan melihat ternyata Aiden sudah sadar dari komanya.
"Dokter!" Haira berjalan keluar ruangan dan memanggil dokter. Namun sebelum keluar dia mengancam Dean. "Jangan ambil kesempatan!" Menunjuk wajah Dean.
Tak berselang lama, dokter pun datang dan memeriksa keadaan Aiden. Dia melepas selang oksigen yang ada di hidung Aiden.
"Alhamdulillah, tuan Aiden sudah sadar dan kondisinya sudah stabil. Pasti nona membisikkan kata-kata untuk menyemangatinya. Begitu besar kekuatan cinta nona sehingga tuan bisa cepat sadar," tutur dokter.
"I-iya dokter terima kasih."
Dokter pun permisi dan meninggalkan ruangan tersebut.
"Sayang, siapa aku?" tanya Haira.
"Kau istriku," sahut Aiden.
Haira tersenyum dan menatap Dean dengan sinis. "Kau dengar kan, aku ini istri Aiden. Aku istri yang paling dia cintai. Jadi jangan berharap apapun padanya!"
Aiden merasa heran dengan sikap Haira yang begitu ketus pada Dean dan juga kalimat yang begitu aneh diucapkan pada seorang laki-laki.
__ADS_1
Dean hanya diam dengan wajah yang sangat kesal karena Haira baru saja menuduhnya menyukai seorang laki-laki.
"Sayang, kenapa kau memarahi nya seperti itu?" tanya Aiden.
Haira menatapnya dengan ragu.
"Apa kau menyukai Dean?"
"Apa? Menyukai? Yang benar saja?" Aiden terkekeh mendengar pertanyaan Haira.
"Perhatiannya melebih perhatian seorang istri. Sejak kau koma dia terus datang kesini dan menjagamu. Apa aku tidak curiga melihat yang seperti itu!" gerutu Haira.
"Sayang, kau jangan begitu. Hubungan ku dan Dean hanya sebatas teman dan hutang piutang saja," jelas Aiden.
"Aku masih tidak percaya. Sikapnya ini seperti orang yang tidak ingin kehilanganmu. Apa-apaan dia?"
Aiden menggelengkan kepalanya.
"Eh, sayang. Aku lupa mengambil pakaian gantimu. Aduh bagaimana ini?" Haira terlihat bingung.
"Ya sudah biar Dean saja yang mengambil ke rumah kita. Kau sedang hamil. Jangan terlalu lelah," ujar Aiden.
__ADS_1
"Apa? Yang benar saja. Tidak, aku saja yang ambil. Aku masih sanggup kok. Bagaimana kalau dia menaruh pelet di pakaianmu. Biar aku saja. Dan kau Dean, jangan mengambil kesempatan, mengerti!" Haira pun bergegas keluar dan pulang dengan mengendarai mobil mereka.