Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Tugas Pertama


__ADS_3

Keesokan paginya, Dean sudah sampai di rumah keluarga Harsya. Saat itu keluarga Harsya sedang sarapan bersama.


Resya tampak sedang mengaduk-aduk nasi di piring nya tanpa memakannya. Dia tampak begitu lesu.


"Selamat pagi tuan, nyonya," sapa Dean.


"Selamat pagi Dean, ayo sarapan bersama," tawar Harsya.


"Terima kasih tuan tapi saya sudah makan," ucap Dean.


"Jangan bohong, tadi saya sudah menyuruh Aiden untuk melarang mu makan sebelum pergi kesini. Ayo makan, malu-malu tidak akan membuatmu kenyang," bisik Harsya.


Dean pun mengangguk dan duduk di sebelah Resya.


"Ayah, kenapa dia kesini? Apa ada urusan pekerjaan?" tanya Resya.


"Makan lah sarapan mu dulu, nak," ucap Harsya.


"Aku tidak lapar." Resya menjauhkan piring dari hadapan nya.


"Ya sudah kalau begitu. Dean, makanlah. Resya bilang dia tidak lapar," ucap Harsya.


'Apa maksud anda saya harus memakan nasi dari piring Resya? Yang benar saja' Batin Dean.


"Dean," tegur Harsya lagi.


"Ba-baik tuan." Dean pun mengambil piring Resya dan mulai memakannya. Bersamaan dengan itu, Resya terus melirik Dean dengan tatapan heran.

__ADS_1


'Apa-apaan ini? Kenapa dia malah memakannya?' Batin Resya.


Resya terus memperhatikan cara makan Dean yang sangat sopan, rapi dan tidak berisik. Dean seperti sedang makan bersama presiden saja dengan segala hal yang harus sempurna. Namun tanpa dia sadai, selera makannya jadi bangkit kembali. Dia mengambil nasi beserta lauk pauk nya dan segera menyantapnya.


Selesai mereka makan, Resya bergegas kembali ke kamarnya, namun dia mendengar suara langkah kaki mengikuti nya.


"Dean, kenapa mengikuti ku? Kau kan ada urusan dengan ayahku," ucap Resya.


"Saya disini karena perintah dari tuan Aiden dan Nona Haira. Mulai sekarang saya akan menjadi asisten pribadi nona," ucap Dean.


Resya mengernyitkan dahinya. Dia segera mengambil ponsel nya dan menelepon Haira.


"Halo."


"Kakak, kenapa kalian menyuruh Dean menjadi asisten pribadiku?"


"Penyabar apanya? Beberapa kali dia meng....." Melirik Dean lalu pergi menjauh.


"Beberapa kali dia menghinaku dan mengataiku."


"Itu karena kau dan aku masih bertengkar, itu sebagai bentuk pembelaan sebagai orang kepercayaan Aiden."


"Jadi kenapa dia jadi asisten pribadiku? Aku kan bukan CEO seperti kak Aiden."


"Agar kau bisa menyuruh nya sesuka hatimu." Tersenyum jahat.


Resya tersenyum mendengarnya. Dia masih ingat betul beberapa kali Dean mengatainya. Dan kini saatnya untuk membalas.

__ADS_1


"Baiklah kakak, terima kasih." Resya mematikan panggilan itu.


Setelah itu dia kembali ke Dean yang masih berdiri di tempat semula.


"Jadi kau akan menjadi asisten pribadiku, ya," ucap Resya sambil mengitari Dean yang masih berdiri.


"Benar nona," ucap Dean.


"Kalau begitu kau akan melakukan apa yang aku suruh?" tanya Resya lagi.


'Kenapa perasaanku jadi tidak enak ya?' Batin Dean.


"Benar, nona."


"Baiklah, sebagai tugas pertamamu, aku mau kau memasak mi untukku. Aku masih lapar," ucap Resya.


'Benarkan, kakak dan adik sama saja' Batin Dean.


"Kok diam?" Mau tidak?" tanya Resya.


"Baik, nona." Dean segera pergi ke dapur dan mulai memasak untuk Resya. Pelayan di rumah itu sampai heran melihatnya. Tentu saja Dean bisa memasak. Bosnya saja jago masak, apalagi dia.


Selesai masak, Dean pergi ke kamar Resya dan mengetuk pintu kamarnya.


"Nona, ini mi nya," ucap Dean.


Pintu terbuka. Seketika Resya mencium aroma mi yang sangat enak. Sebenarnya dia sudah kenyang. Dia menyuruh Dean memasak hanya untuk bermain-main. Karena rencananya, setelah masakan selesai, dia akan menyuruh Dean memakan nya. Namun rencana ambyar karena aroma masakan yang menggugah selera. Resya mengambil mi tersebut dan langsung menyantapnya di dalam kamarnya. Sementara Dean masih menunggu di depan kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2