
"Ayo anak-anak. Pergi ke kamar kalian dan bereskan semua pakaian kalian, ya!" seru Haira saat mereka sudah sampai di Villa.
William dan Harry pun segera ke kamar mereka masing-masing yang sebelumnya sudah diberitahu Haira dimana letaknya.
"Sayang, mana ruangan yang kau katakan tadi?" tanya Haira.
"Ada di belakang."
"Kenapa di belakang?"
"Disana kau bisa dengan bebas bernyanyi tanpa mendengar suara-suara dari depan sini. Tidakkah kau lihat di depan Villa ini adalah jalan lintas kendaraan setempat?" Aiden menunjuk luar pintu.
"Benar juga."
"Berhentilah berprasangka buruk padaku. Kita sudah menikah selama bertahun-tahun dan mengenal selama kurang lebih dari dua puluh lima tahun. Apa kau masih meragukan ku?"
"Tidak, sayang. Kau adalah suami terbaik di dunia ini." Haira memeluk Aiden dengan mesra.
"Jangan disini. Nanti dilihat anak-anak tidak enak. Nanti malam saja di kamar." Aiden melepas pelukan Haira.
"Kalau di kamar, kita tidak hanya akan berpelukan, sayang. Kau akan meminta lebih dari itu. Kita sudah mengenal selama lebih dari dua puluh lima tahun. Apa kau kira aku tidak hapal?" Haira membelai pipi Aiden dengan jarinya.
"Jangan pancing aku. Matahari masih terlihat." Aiden melepas tangan jahil Haira yang kini malah mendarat tepat di bawah perutnya. Membuat apa yang ada di dalam celananya mengeras dan bergerak.
"Ku bilang jangan memancingku. Tapi kau tidak mendengarkan." Aiden menggendong Haira menuju kamar mereka.
Setelah pintu ditutup, mereka pun memulai pertempuran panas siang itu. Hingga keduanya kelelahan sampai tertidur.
Harry sedang asyik bermain di halaman belakang dengan diawasi pelayan di Villa itu. Sedangkan William tengah asyik menikmati keindahan taman belakang.
Tanpa mereka sadari seseorang sedang mengawasi mereka dari kejauhan. Tangannya mengepal erat, matanya menatap tajam penuh dendam. Silakan menebak 😁
*****
Malam harinya, Haira memutuskan untuk berkaraoke di ruang keluarga. Disaksikan oleh Aiden, William dan Harry yang dipaksa menemaninya berkaraoke ria.
Ia pun mulai menyetel sebuah lagu lama yang digemarinya. Musik pun mulai terdengar. Awalnya Aiden tidak merasa aneh. Namun saat Haira menyanyikan lirik lagu pertama,,,,,,
Ditekan, sedikit ah, ah.
Ditahan, biar asyik.
"Astaghfirullahalazim!" Sontak Aiden langsung mengapit kepala kedua anaknya disisi kanan dan kiri lalu menutup telinga mereka dengan masing-masing satu tangannya.
"Aduh, Ayah. Kami tidak bisa bergerak," ucap Harry. Sedangkan William hanya diam saja.
Aiden pun berdiri diikuti kedua anaknya yang masih ia apit. Membimbing mereka ke sebuah lemari. "Ambil earphone dan ponselnya itu!" serunya.
__ADS_1
Harry langsung mengambil ponsel meski dalam keadaan terapit lalu memberikannya pada Aiden.
Aiden langsung membuka ponsel dan menyalakan lagu anak-anak dan mencolok earphone tersebut ke ponsel.
"Pergi dan dengarkan ini di kamar!"
Harry dan William mengangguk. Mereka memakai masing-masing satu earphone di telinga. Mereka pun pergi ke kamar dengan jarak yang sangat dekat agar earphone tidak lepas.
Aiden kembali ke sofa dan memijat pelipis matanya. Dengan masih mendengarkan Haira bernyanyi tanpa menyadari ketidak berdaan si kembar.
'Inilah alasanku membangunkan ruang karaoke.' batin Aiden.
Jangan dulu ah kau melamarku
Kenalan saja baru seminggu
Belum tahu siapa kamu
Ditekan sedikit, aa-ah
Ditahan biar asik
Suka sama suka mau sama mau
Tak usah kau ragu
Aku pasti jadi milikmu
Kita perlu waktu
Untuk saling tahu
Sambil tunggu waktu
Kita pacaran dulu yuk (yuuk)
Ditekan sedikit, aa-ah
Dipegang biar asik
Selesai bernyanyi, Haira baru menyadari bahwa penontonnya tinggal satu.
"Lho, anak-anak mana?" Haira menghampiri Aiden.
"Katanya mereka sudah mengantuk jadi ke kamar duluan."
"Oh, bagaimana penampilanku?" tanya Haira dengan antusias.
__ADS_1
"Bagus, tapi boleh tidak jika sedang bersama anak-anak jangan menyanyikan lagu yang memunculkan tanda tanya untuk mereka."
"Tanda tanya?" Haira merasa heran.
"Dengarkan aku." Aiden pun menyanyikan lagu yang dinyanyikan Haira tadi.
Ditekan sedikit ah ah
Ditahan, biar asyik.
"Wah suaramu bagus dan cocok menyanyikan lagu itu." Haira berdecak kagum.
"Ya, tapi apa kau tidak risih mendengar kalimatnya? Dan kata 'ah nya, apa tidak bisa kau hilangkan jika bernyanyi di depan anak-anak? Atau setidaknya jangan mendesah saat mengatakan kata itu."
"Benar juga. Maafkan aku sayang. Baiklah aku akan mengganti lagunya. Sekarang aku akan menyanyikan lagu Keong Racun saja." Haira kembali menyetel lagu tersebut.
Aiden serasa ingin pingsan dibuatnya. Beruntung hanya ia yang mendengarnya. Bagaimana kalau anak-anak yang mendengarnya? Bisa kacau.
*****
Mulut kumat kemot
Matanya melotot
Lihat body semok
Pikiranmu jorok
Mentang-mentang kau kaya
Aku dianggap jablay
Dasar koboy kucai
Ngajak check-in dan santai
Sorry sorry sorry jack
Jangan remehkan aku
Sorry sorry sorry bang
Ku bukan cewek murahan
"Harry, maksud kata 'Jablay itu apa 'sih?" tanya William.
"Entahlah, besok kita tanyakan pada Ayah," sahut Harry.
__ADS_1
Ternyata mereka melepas earphone mereka karena kuota di ponsel tersebut telah habis untuk memutar video woutube. Sedangkan di folder musik hanya ada nada dering yang berdurasi beberapa detik saja. Jadilah mereka mendengar nyanyian Haira malam itu sampai satu album.