Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Bonus Chapter - Bertukar


__ADS_3

Hari terus berlalu. Aiden dan Haira masih asyik menikmati peran mereka sebagai orang tua.


Sore itu mereka sedang duduk-duduk di taman belakang bersama kedua anak mereka. Namun ada yang aneh. Kedua anak kembar itu berpola tingkah berbeda dari biasanya.


"Sayang, coba kau perhatikan kelakuan kedua anak kita. Sepertinya ada yang salah." Aiden menatap kedua anaknya dengan tatapan penuh selidik.


"Salah bagaimana? Mereka bersikap biasa saja kok. Harry sedang bermain dengan sepedanya. Dan William bermain dengan puzzle miliknya." Haira memandangi kedua putranya secara bergantian.


"Bukan begitu, sayang. Jangan berfokus pada mainan mereka. Tapi fokuslah pada wajah mereka."


"Wajah mereka? Masih sama, kok."


"Bukan itu maksudku. Lihat, Harry sedang bermain sepeda, namun wajahnya begitu datar. Dia bersemangat mengayuh sepeda namun wajahnya seperti orang yang ingin rebahan saja."


"Benar juga." Haira memperhatikan wajah Harry dengan seksama. Ternyata benar, tidak ada raut wajah kegembiraan padanya.


Sekarang Harry turun dari sepedanya lalu berlompat ria namun dengan raut wajah datarnya. Aneh sekali bukan? Mana ada orang bergembira dengan wajah se-datar itu.


"Lihat William. Sejak tadi dia kesulitan menyatukan puzzle yang hanya ada sepuluh potongan saja. Biasanya dia akan melakukannya dalam hitungan menit. Tetapi ini, dia baru menyelesaikan dua potongan puzzle dalam waktu satu jam. Aneh bukan?"


"Kau benar, sayang. William juga sejak tadi terus mengacak rambutnya seperti orang yang kesulitan memecahkan sesuatu." Haira menimpali.


"Kalau begitu, mari kita buktikan bahwa mereka berdua tidak sedang bertukar."


"Bertukar?" Haira menatap heran.


"Ya, memanfaatkan wajah mereka untuk mengecoh kita."


Aiden berjalan mendekati William yang sedang memainkan puzzle. "Harry!"


"Ya, Ayah! Eh maksudnya Harry sedang bersenang-senang." William menjawab.


"Kau sedang apa? Kenapa lama sekali?"

__ADS_1


"Aku sedang menyelesaikan potongan puzzle ini, Ayah."


"Kalian ingin menipu Ayah dan Ibu, ya." Aiden menatap serius pada William.


"Tidak, Yah. Kami tidak menipu."


"Lalu kenapa bertukar?"


"Tidak, kami tidak bertukar."


"Oh ya? Apa kita perlu bertaruh?" Aiden menawarkan.


"Bertaruh apa, Yah?"


"Jika kalian terbukti menipu Ayah dan Ibu, maka kalian harus mengerjakan soal latihan yang ayah berikan."


"Dan jika kami benar, Ayah dan Ibu harus mengajak kami ke kampung halaman nenek dan kakek dari Ibu."


"Hah? Tapi itu sangat jauh. Tapi baiklah, toh kalian akan kalah."


"Deal!" Aiden menjabat tangan William.


"Sekarang buktikan pada Ayah kalau kalian tidak bertukar."


"Ayah tinggal lihat tahi lalat di atas bibirku ini asli atau palsu." William menunjuk tahi lalatnya.


Aiden memegang tahi lalat William, namun ternyata itu benar-benar asli.


"Tidak, jangan hanya itu. Sekarang katakan pada Ayah. Berapa kali kau menyembunyikan hasil ulangan dengan nilai jelek."


"Itu Harry, Ayah. Bukan aku. Aku tidak pernah menyembunyikan nilai jelek karena aku tidak pernah dapat nilai jelek. Masa ayah tidak ingat?"


"Dan katakan, apa yang terjadi kemarin pukul 3 sore."

__ADS_1


"Aku dan Ayah makan donat coklat milik ibu secara diam-diam di dalam ruang bermain kami."


"Tidak, itu bisa saja kalian saling membagi tahu."


"Lalu Ayah ingin bukti apalagi?"


"Katakan dimana letak tanda lahirmu? Hanya William yang tahu karena itu aibnya."


"Di pangkal paha. Sedikit melebar ke anu."


Aiden terkejut mendengar ucapan William.


"Jika ini benar kau, kenapa kalian seperti bertukar?"


"Kami tidak bertukar identitas, Ayah. Kami hanya ingin mengetes orang-orang di sekitar kami, apakah mereka curiga pada kami atau tidak. Aku memang William. Tetapi dalam hal ini, aku ingin menjadi seperti Harry saat memainkan permainan yang tidak dia suka. Begitu juga sebaliknya. Harry ingin menjadi sepertiku saat memainkan permainan yang tidak ku suka."


"Ada-ada saja kalian. Kalian berhasil membuat Ayah dan Ibu terkecoh." Aiden mengusap kepala William.


"Sesuai janji Ayah. Kita akan ke kampung halaman nenek dan kakek!" seru Harry sambil memeluk punggung Aiden yang masih berjongkok.


"Tidak bisa, Nak. Itu sangat jauh sekali."


"Ayah sudah berjanji. Jadilah pria yang menepati janjinya. Kalau tidak, kami akan menganggap Ayah bukan pria sejati."


"Kalian kejam sekali. Ya sudah, Ayah akan menjadwalkan keberangkatan kita minggu ini. Dan karena mendadak, Ayah harus segera menyelesaikan pekerjaan Ayah agar wakil Ayah tidak terlalu repot saat Ayah pergi." Aiden pergi ke ruang kerjanya. Meninggalkan William dan Harry yang bersorak kegirangan.


"Yeayyy! Liburan! Untung saja kita sedang libur semester ganjil. Jadi tidak perlu khawatir.


"Bagaimana anak-anak?" tanya Haira yang datang menghampiri mereka.


"Sukses, Bu. Ayah terkena jebakan kita."


"Bagus! Kalian sangat pintar. Tapi hal ini jangan kalian lakukan pada orang lain, ya. Dan jebakan ini cukup pertama dan terakhir kalian lakukan. Karena itu tidak baik. Ibu melakukan ini karena terpaksa. Ayah kalian susah sekali diajak liburan kemanapun." Haira mengusap kepala kedua anaknya secara bergantian.

__ADS_1


"Baik, Bu." Keduanya pun kembali bermain seperti biasa. Harry dengan tawa riangnya, dan Wiliam dengan ekspresi datarnya.


Haira meras puas, karena akhirnya ia berhasil membuat Aiden mengajaknya liburan keluarga ke kampung halamannya. Kebetulan, disana sudah dibangun sebuah Villa hadiah dari Dean dan Resya. Sehingga, ketika mereka sampai di sana, mereka tidak perlu mencari penginapan lagi.


__ADS_2