Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Bonus Chapter - Kenangan Indah


__ADS_3

"Sayang, darimana kau punya ide untuk menjadi satu server dengannya?" tanya Aiden.


"Kau kira kau saja yang diberitahu Sevina. Aku juga. Jadi aku mencoba membuat Pak Ngatiran senang. Apapun hinaannya aku tidak peduli. Aku anggap dia sebagai Oma yang selalu aku turuti keinginannya. Bahkan aku tersenyum saat Oma mengatakan aku seperti nenek-nenek pikun karena sering membakar jam dan ponselmu."


"Tapi aku masih kesal saat kau berandai-andai menjadi janda."


"Iya, aku minta maaf, sayang." Haira memeluk lengan Aiden dengan mesra.


"Jangan begitu. Malu. Ini di desa bukan di kota." Aiden melepas tangan Haira.


"Kau ini selalu saja menjaga image mu dimana pun itu." Haira tersenyum dan menggeleng.


Mereka pun pergi berkeliling tempat wisata itu. Mereka mengelilingi tempat itu dengan kendaraan khusus yang disediakan di tempat itu, yaitu odong-odong dengan kapasitas empat penumpang yakni sopir dan tiga penumpang lainnya.


"Marni, bukannya ini untuk anak-anak?" tanya Haira.


"Benar, Nyonya. Tetapi tidak ada salahnya orang dewasa menaikinya. Kalau berjalan rasanya pasti lelah," sahut Marni yang duduk di bangku depan bersama sang supir.


Haira dan Aiden pun mengangguk.

__ADS_1


"Tuan, Nyonya, itu adalah arena Waterboom untuk dewasa. Disana tersedia pancuran air hangat dan dingin untuk membersihkan diri sehabis berenang. Ada kamar ganti dan kamar mandi." Marni menunjuk sebuah tempat yang sangat menarik hati Haira.


Mereka pun turun guna melihat tempat itu dari jarak dekat.


"Sayang, bagaimana kalau,,,,"


"Tidak!" Aiden langsung menyela ucapan Haira.


"Tapi aku,,,,,"


"Tidak! Apa kau tidak ingat terkahir kali kau ke arena Waterboom?" Aiden mengingatkan.


"Kau hampir membuatku terkena serangan jantung karena bermain dari tempat yang paling tinggi dan keluar dari lintasan perosotan itu dan terpental ke air. Beruntung pinggiran perosotan itu terbuat dari karet sehingga tubuhmu tidak terbelah menjadi dua." Aiden menatap serius ke Haira.


"Itu karena aku terlalu kegirangan dan menggoyangkan tanganmu kesana kemari. Kau ini tidak bisa diam. Aku hampir mati saat itu."


"Maafkan aku. Aku hanya terbawa suasana saja. Tapi bukankah saat itu menjadi kenangan termanis untuk kita?" Haira kembali mengingatkan.


"Kenangan apa? Apa yang manis. Aku saja hampir terkena serangan jantung. Kau ingat, aku berteriak seperti orang gila saat kau terlempar dari perosotan itu. Dan beruntung kau jatuh ke air. Kalau jatuh ke pinggir kolam, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku saat itu. Mungkin saja saat ini aku sudah menikah dengan Naumi."

__ADS_1


Mendengar nama Naumi, Haira langsung mencubit pinggang Aiden.


"Adududududu!" Aiden meringis kesakitan memegangi pinggangnya yang selalu jadi sasaran cubitan Haira.


"Berani sekali kau menyebut nama itu disini. Merusak mood ku saja." Haira melipat tangannya di dada dan membuang muka.


"Aku hanya bercanda, sayang. Karena itu jangan lakukan hal yang aneh-aneh. Aku bisa mati tanpamu. Kalau mau mandi bersama William dan Harry saja," ujar Aiden.


"Kau benar. Untung aku membawa pakaian renang."


"Pakaian renang apa? Bikini?" Aiden melotot.


"Tidak, aku bisa kau gantung jika memakai pakaian seperti itu di tempat umum. Hanya legging dan kaus sepanjang lutut. Aku juga tidak ingin tubuhku dilihat orang. Cukup suamiku saja," bisik Haira sambil menyentuh dada Aiden.


"Jangan menggodaku disini. Ayo kita lanjutkan melihat seluruh tempat ini. Setelah itu kita temui si kembar. Aku yakin saat kita sudah disana, mereka sedang rebutan handuk. Jangan terlambat atau handuk itu akan terbelah menjadi dua." Aiden mengingatkan.


Haira mengangguk dan mereka pun segera melanjutkan perjalanan mengelilingi tempat itu.


Dan tanpa mereka sadari, seseorang dari kejauhan sedang memperhatikan mereka dengan sangat serius. Mengepal kedua tangannya, dan mengucapkan sumpah serapah yang hanya didengar olehnya.

__ADS_1


__ADS_2