
"Aku mohon, jangan ada air mata. Ayo berjanji bahwa kita akan terus tersenyum dan jauhi yang namanya air mata kesedihan." Kania mengangkat jari kelingkingnya sebagai perjanjian mereka.
"Aku berjanji." Haira tersenyum sambil menyeka sudut matanya yang sedikit mengeluarkan air.
"Ayo, ceritakan lagi hal lainnya. Aku ingin dengar."
"Aiden suami ku, adalah orang yang paling menderita selama hidup denganku. Dia sering mengalami kesulitan karena aku. Ada saja tingkah ku yang membuat dia sangat repot. Aku pernah mencuci laptop kecil dan ponsel miliknya hingga tak bisa digunakan lagi. Aku juga pernah tanpa sengaja membuang jam tangannya ke tong bakaran sampah. Aku juga pernah salah membuang ponselnya ke selokan, padahal yang harusnya aku buang adalah sampah."
Kania kembali terkekeh dengan cerita Haira. "Kasihan sekali dia. Lalu, apalagi cerita yang kau punya? Aku ingin dengar lagi." Terlihat sangat antusias.
"Hmmm, apa, ya? Oh ya, dulu, Aiden pernah menyamar sebagai orang biasa dan Dean, suami Resya yang adalah asisten pribadinya, berpura-pura menjadi temannya. Dean juga sama menderitanya dengan Aiden. Dulu aku pernah menuduhnya sebagai pencuri ****** *****, tukang berhutang, bahkan aku sempat mengira dia menyukai Aiden."
Kania semakin terkekeh. "Kasihan sekali, Dean, pasti hidupnya penuh dengan warna."
"Ya, tapi warna hitam."
__ADS_1
Sontak keduanya tergelak bersama. Seolah rasa sakit Kania hilang seketika.
"Dean memang yang paling menderita. Tapi ternyata dia itu anak CEO yang sempat diculik dan dibuang. Hingga akhirnya dia bertemu dengan ayahnya."
"Aku senang mendengar semuanya hidup dengan penuh kebahagiaan. Terlebih lagi dirimu. Aku sangat senang mengetahui kau sangat bahagia saat ini. Setidaknya ketika nanti aku tiada, aku bisa pergi dengan tenang." Kania tersenyum lembut.
"Kania, jangan bicara seperti itu. Kau akan tetap ada di sisiku. Kita akan selalu bersama." Haira menatap Kania dengan penuh keyakinan.
"Haira, satu hal lagi yang ingin aku katakan. Berjanjilah untuk terus bahagia. Jangan jadikan aku sumber kesedihan mu atau aku akan menyesali hidupku karena bertemu dengan mu."
"Kania, jangan bicara begitu." Mata Haira mulai berkaca-kaca.
Haira kembali menyeka sudut matanya yang basah. "Baiklah, aku berjanji."
"Terima kasih." Kania tersenyum, lalu memeluk Haira.
__ADS_1
"Ayo, tidur, sudah malam. Kau harus banyak istirahat. Aku tidak ingin kedatangan ku malah membuat mu kurang istirahat. Jika perlu sesuatu, bangunkan aku. Buat aku berguna di sini." Haira menatap serius.
Kania hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka pun segera tidur. Sesuai janji Haira tadi, ia menjaga tubuhnya agar tidak kesana kemari karena itu dapat membahayakan nyawa Kania.
Dokter Rika yang melihat pembicaraan mereka tadi hanya bisa tersenyum sambil menyeka sudut matanya. Ia bahagia karena melihat Kania tertawa lepas. Senyuman kebahagiaan yang tidak pernah ia lihat selama ini, akhirnya terukir di wajah Kania.
Dokter Rika kembali menemui Aiden yang masih berada di ruang tamu. Ia tengah menyesap teh yang dibuatkan Dokter Rika.
"Bagaimana, Dok?" tanya Aiden.
"Mereka sangat bahagia. Bercerita hingga membuat Kania tertawa."
"Haira memang sangat lucu. Aku masih tidak bisa membayangkan bagaimana nanti." Wajah Aiden berubah sedih.
"Jangan bersedih. Ingat kata Kania, dia ingin, diakhir hidupnya melihat orang-orang yang berada di sisinya tersenyum, bukan bersedih."
__ADS_1
"Iya, Dok. Kita tidak boleh menunjukkan kesedihan di depan Kania." Aiden mengangguk mengerti.
Sementara itu Kania yang pura-pura tidur sedang menatap Haira yang sudah tertidur pulas. "Biarkan aku menatap wajah orang yang paling aku cintai. Aku ingin merekamnya di pikiran dan hatiku. Haira, aku sangat menyayangimu, berbahagia lah demi aku. Terima kasih, telah membuat hidupku lebih berwarna." Kania mengusap tangan Haira, lalu kembali tidur.