Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Bonus Chapter - Gurauan


__ADS_3

Mereka sampai di sebuah penginapan yang ada di desa itu. Aiden memesan dua kamar. Satu untuk mereka, dan satu lagi untuk kedua babysitter nya.


"Sayang, istirahat lah." Aiden membimbing Haira agar duduk di tepi ranjang. Sedangkan William dan Harry masih tertidur di tengah ranjang mereka.


"Aiden, kau belum mengatakan padaku perihal pembatalan kontrak kerja sama dengan Naumi." Haira kembali mengingatkan.


"Hmm, aku mulai darimana ya?" Aiden tampak berpikir.


"Bagaimana kalau perihal Naumi yang menyakitiku."


"Oh, itu. Sebenarnya begini. Saat kita sudah sampai rumah, Sevina meneleponku dan memberitahukan kepadaku perihal perkataan Naumi yang menyakiti hatimu. Mana mungkin aku bisa tinggal diam mendengar istriku diperlakukan seperti itu. Lalu, malam itu juga aku menulis sebuah email kepada wakilku untuk membuat surat pembatalan kerjasama. Dan aku yakin pagi ini dia sudah menerimanya."


"Kenapa tidak secara langsung saja?"


"Aku bahkan tidak sudih melihat wajahnya. Aku memblokir kontaknya dan aku pastikan dia tidak akan mengganggumu lagi."


"Apa kau tidak akan rugi membatalkan kerjasama dengan perusahannya? Bukankah perusahaannya yang telah membuat perusahaan Alexan semakin maju? Dan bukankah itu artinya tidak profesional mengaitkan masalah pribadi dan bisnis?"


"Hei, harusnya kau berterima kasih kepadaku karena aku tidak tergoda olehnya." Aiden mengusap kepala Haira yang masih ditutupi kerudung.

__ADS_1


"Ya, aku kan hanya bertanya. Jika kau kembali menjalin kerjasama dengannya tentu aku akan melarangnya."


"Perusahaan Alexan akan tetap berjaya meski tanpa kerjasama dengan perusahaannya. Aku yakin itu. Dan ku akui perbuatanku tidak profesional karena mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Tetapi suami mana yang diam saja melihat istrinya disakiti. Jika ada, tentu dia adalah suami yang bodoh. Harta itu penting, tetapi senyuman istri yang yang bahagia itulah yang terpenting." Aiden mengusap lembut pipi Haira bersiap untuk menciumnya.


Namun, suara rengekan si William diikuti dengan Harry membatalkan niatnya.


"Eh, sudah bangun ya, Nak." Haira mendekati keduanya dan mengusap-usap kepala si kembar secara bergantian.


"Sini sama Ayah." Aiden menggendong Harry yang masih menguap dan bergeliat.


"Karena sudah sore, ayo kita mandi." Haira pergi ke kamar Suzzy dan Icha untuk membantunya memandikan si kembar.


Hingga malam tiba, Haira, Aiden, William dan Harry duduk di teras kamar mereka.


"Kenapa kau girang sekali, sayang." Haira mengusap kepala Harry dengan gemas.


"Mungkin dia suka berada di daerah pedesaan begini."


"Ya sudah, kita tinggal saja disini." Haira memberi usul.

__ADS_1


Aiden mengernyitkan dahinya setelah mendengar ucapan Haira.


"Kita tinggal disini. Tidak ada hiruk pikuk keramaian kota, pelakor berkedok bisnis. Disini aku bisa leluasa bersosialisasi dengan ibu-ibu yang tidak akan membicarakan tas mewah atau liburan ke luar negeri."


"Huh, bilang saja agar kau bisa mengghibah sesuka hati dengan para ibu-ibu seperti dulu, 'kan?" Aiden menyipitkan matanya dan menatap Haira dengan tatapan penuh curiga.


"Tidak, yang benar agar aku bisa sering-sering menghadiri kondangan atau hajatan yang ada orgen tunggal dan biduan dangdutnya."


Haira menurunkan William lalu berdiri dan bernyanyi.


Goyang dombret hoo goyang dombret


Kang Aiden, paling ganteng.


Saya suka akang, suka sekali.


Haira mencolek dagu Aiden seolah ingin menggoda.


"Hentikan. Kau tidak malu pada William dan Harry? Lihat mereka sampai menganga melihatmu."

__ADS_1


Haira melihat kedua putranya yang memang sejak tadi melihatnya sambil terbengong. Ia pun kembali duduk dan tertawa mengingat apa yang baru saja dia lakukan.


Si kembar masih terlihat bingung. Sedangkan Aiden hanya bisa menepuk dahinya dan geleng-geleng kepala.


__ADS_2