
Satu jam sebelum kejadian.
Aiden dan kedua anaknya pergi ke kantin rumah sakit guna membeli minuman dingin untuk dibawa ke ruangan Haira dan minum di sana.
Mereka memesan jus jeruk sebanyak tiga cup. Menunggu di kursi dengan sabar dan ikhlas. Setelah membayar, mereka pun kembali ke ruangan Haira.
"Ayah, berikan jus itu, aku haus," pinta Harry.
"Jangan minum ini." Aiden menjauhkan minuman itu dari Harry. "Lim, apa kau membawa jus pesanan ku?" tanyanya.
"Ini, Tuan." Lim menyerahkan dua botol minuman dengan isian jus jeruk.
"Ini, minumlah. Kau juga William." Aiden menyerahkan masing-masing satu botol kepada Harry dan William.
Mereka pun langsung meminum minuman itu sampai bersisa setengah.
"Ayah, kalau memang kita akan minum jus buatan rumah, kenapa malah membeli di kantin?" tanya Harry sambil menatap jus jeruk buatan kantin yang masih berada di tangan Aiden.
__ADS_1
"Ayah lupa kalau tadi sudah meminta Pak Lim membawakan jus jeruk untuk kalian. Jadi yang ini dibuang saja, ya." Aiden langsung membuang jus yang tadi dibelinya ke tempat sampah yang ada di sampingnya.
Haira menatap heran, namun ia tidak bertanya. Ia yakin semua yang Aiden lakukan adalah kebenaran mutlak. Ia sangat tahu seperti apa suaminya itu.
"Bukannya itu pemborosan, Yah?" tanya William sehabis meneguk jus nya.
"Ya, mau bagaimana lagi, jika kalian minum terlalu banyak, nanti kalian bisa sakit perut. Meskipun ini adalah buah-buahan, tapi jika dikonsumsi berlebihan tidak akan bagus untuk tubuh," terang Aiden.
William dan Harry mengangguk mengerti.
Bersamaan dengan itu, dokter pun masuk dan memberikan surat dari rumah sakit yang menyatakan bahwa Haira sudah diperbolehkan pulang.
'Jadi benar itu kau, ya. Baiklah, kita akan lihat siapa yang pintar dan siapa yang sok pintar.' batin Aiden.
Hingga saat sampai di rumah, Aiden pun menyuruh Haira untuk istirahat. Ia berpura-pura tertidur saat semua anaknya telah terlelap. Mereka tertidur karena murni lelah, bukan pengaruh obat tidur. Dan jika keduanya sudah kelelahan, maka suara petasan pun tidak akan mempan membangunkan mereka.
Rencana Aiden untuk menjebak Ziko harusnya berjalan lancar jika saja Haira tidak berjalan ke pintu. Harusnya, jika Ziko masuk, ia bisa langsung meringkusnya saat itu juga.
__ADS_1
Namun karena Ziko sudah melakukan aksi nekatnya, maka Aiden pun keluar.
"Apa kau yakin kamu semua meminumnya?"
Seketika Ziko berbalik dan melihat Aiden berdiri di belakangnya. Sontak ia terkejut karena tadinya ia menyangka bahwa Aiden sudah terpengaruh obat tidur.
"Kau! Kenapa kau masih sadar?" teriak Ziko yang masih memegang tangan Haira. Sedangkan Haira hanya diam saja karena ia yakin Aiden bisa menyelamatkan dirinya.
"Karena aku tidak sebodoh yang kau pikir!"
"Mundur! Atau aku akan membunuhnya!" Ziko mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
"Apa kau bisa membunuh dengan pisau yang terbuat dari plastik?"
"Hah!" Ziko melihat pisau yang ada di tangannya ternyata pisau mainan. "Berengsek!" Membuang pisau tersebut. "Aku akan mencekiknya sampai ia mati!" Ziko mulai mengarahkan tangannya ke leher Haira.
Bukannya takut, Aiden malah tersenyum. "Apa kau yakin bisa melakukannya?"
__ADS_1
Mendengar ucapan Aiden, Ziko merasa heran. Namun, keheranannya seketika terjawab saat seseorang dari belakang menodongkan pistol tepat di belakang lehernya.
Ziko yang mengetahui itu pistol langsung mengangkat tangannya. Membuat Haira terlepas dan langsung berlari ke pelukan Aiden. Jiwa penjahatnya pun ciut saat merasakan pistol sudah siap untuk ditembakkan.