Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Teman Ghibah


__ADS_3

Sore harinya, rumah lama Aiden dan Haira terlihat ramai karena semua warga desa berkerumun disana demi menyaksikan langsung wajah asli Alexander. Mereka masih belum percaya bahwa Aiden yang hanya karyawan biasa adalah seorang pewaris tunggal Alexan Group.


Para pengawal yang dijaga Aiden berjaga di depan gerbang rumah mereka agar tidak ada yang masuk.


"Ternyata benar Aiden itu orang kaya."


"Beruntung sekali Haira."


"Setelah menjadi orang kaya, kini aku bisa melihat ketampanan nya."


Bermacam-macam pendapat yang terlontar dari mulut mereka.


Aiden mengerti apa yang diinginkan warga disana. Dia memang sudah menyiapkan nya. Para warga yang berkerumun diberi masing-masing sebuah amplop berisi uang sebagai rasa terima kasihnya karena selama ini sudah bersikap baik pada Haira.


Tentu saja semua warga senang menerimanya apalagi nominalnya yang lumayan untuk membeli kuota internet dan sisanya untuk jalan-jalan ke mall. Mereka mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Ketika rumah mereka sudah mulai sepi, bu Asih dan bu Evi pun di undang. Kini mereka sedang duduk di ruang tamu bersama Aiden dan Haira. Namun keduanya tampak gugup berhadapan dengan orang sehebat Aiden.


"Bu, dimakan kuenya," tawar Haira kepada mereka.


"I-iya." sahut mereka berbarengan.


"Kalian kenapa?" tanya Haira yang merasa heran dengan mereka yang tidak seperti biasanya.


"Ka-kami cuma masih terkejut saja ternyata tuan Aiden ini adalah keturunan Alexander," sahut bu Evi.


"Sudahlah bu, untuk apa gugup. Saya dan Haira masih seperti biasa. Haira datang kesini karena rindu bergosip dengan kalian, bukan ingin melihat kalian takut begini. Dan jangan panggil jelas Aiden.


"Hehehe maaf, iya kami akan membiasakan diri," ucap bu Asih.


"Ya sudah kalian lanjut saja ngobrol nya. Aku mau ke kamar." Aiden beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar. Rasanya akan sangat membosankan jika dia menjadi pendengar emak-emak rempong tersebut.

__ADS_1


"Bu, aku mau memberi kalian daster ini." Haira mengeluarkan paper bag dan memberikan masing-masing satu pada mereka.


"Wah, ini sih bukan cuma daster, ada gamis hijab dan tasnya juga. Bagus sekali pasti ma....hal." Bu Asih terdiam saat melihat badrol harga tas, gamis dan daster tersebut. Untuk harga dasternya saja bisa untuk membeli satu ekor sapi.


"Ha-Haira ini kemahalan," ucap bu Asih dengan tangan gemetar karena tidak pernah memegang benda semahal itu.


"Tidak apa, itu hadiah karena ibu ibu sudah mau menjadi teman saya selama disini. Saya juga mau memberi ini, tolong diterima ya." Haira menyerahkan masing-masing amplop berisi uang kepada mereka. Dilihat dari tebalnya sepertinya itu jumlah yang banyak.


"Te-terima kasih Haira. Kami jadi merasa tidak enak," ucap bu Evi.


"Saya hanya ingin para tentanggaku yang baik hati ikut merasakan kebahagiaan saya juga. Begitu banyak warga disini tapi hanya kalian yang peduli dan mau menjenguk saya ketika sakit," tutur Haira.


Mereka mengangguk dan tersenyum. "Sepertinya kau diciptakan untuk membawa kebahagiaan," puji bu Asih diikuti anggukan bu Evi. Ketiga wanita itu pun larut dalam canda tawa dengan bahan omongan yang sebenarnya bukan ghibah. Mereka hanya membicarakan harga bahan pangan yang sedang naik namun Haira menyebutnya bergosip.


Bu Evi bisa bernafas lega, akhirnya dia bisa menyumpal mulut lintah darat yang sudah menjerat nya ke dalam bunga hutang yang tak kunjung habis dan kian membengkak. Dengan uang itu dia bisa menutup hutang nya dan sisanya akan dia gunakan untuk membuka usaha kecil-kecilan.

__ADS_1


Sedangkan bu Asih juga bisa bernafas lega karena kini dia bisa membayar iuran sekolah anaknya sampai selesai dan membeli ternak.


__ADS_2