Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Bonus Chapter - Akhir Perjuangan Naumi


__ADS_3

"Apa?"


"Kenapa? Dia itu bukan orang baik." Reyza melanjutkan.


"Tetapi ini masalah pribadi bukan masalah bisnis. Lagipula dia tidak punya masalah dengan kalian."


"Ya, biarlah. Aku sudah mengatakan pada papa dan opa dan mereka setuju. Lagipula beberapa kali Naumi pernah menggoda papaku namun tidak digubris."


"Apa dia memang bercita-cita jadi pelakor?" Gumam Haira.


"Dia itu memang wanita murahan ya!" desis Resya.


"Entahlah, biar saja ular sepertinya binasa." Sevina menimpali.


"Sudahlah, jangan bicarakan dia. Sudah saatnya berpesta!" seru Aiden.


"Sayang, apa itu?" Haira menunjuk sebuah panggung kecil dengan sound sistem dan pemainnya yang baru ia sadari.


Aiden melirik Reyza. Padahal ia sudah mewanti-wanti agar tidak mengadakan acara bernyanyi.


"Ini hari ulang tahunmu. Kau bisa bernyanyi sesuka hatimu hari ini. Kami akan mendengarnya." Alea menjelaskan.


"Benarkah?" Mata Haira berbinar-binar mendengar itu semua.


Ia beralih menatap Aiden penuh harap. Dan dengan keterpaksaan, ia pun mengangguk pasrah.


Haira pun kegirangan. Ia segera bergegas ke panggung dan meminta menyanyikan lagu kegemarannya.


orang punya hobi suka jalan-jalan


kamu punya hobi rebut laki orang


modal punya tampang sama jago goyang


tapi bikin sakit hati perempuan


kalau kamu cinta cinta seseorang


coba katakanlah kamu cinta apa


kalau kamu rindu rindu seseorang


coba katakanlah kamu rindu apa dulu


ternyata cintamu cinta sama dompet


yang paling dompet ya isinya dompet


orang punya hobi suka jalan-jalan


kamu punya hobi rebut laki orang


modal punya tampang sama jago goyang


tapi bikin sakit hati perempuan


kalau kamu cinta cinta seseorang

__ADS_1


coba katakanlah kamu cinta apa


kalau kamu rindu rindu seseorang


coba katakanlah kamu rindu apa dulu


ternyata cintamu cinta sama dompet


yang paling dompet ya isinya dompet


perebut laki orang


sukanya cuma nemplok


nemplokin laki orang


perebut laki orang


persis kaya benalu


gandulin laki orang


orang punya hobi suka jalan-jalan


kamu punya hobi kuras dompet orang


modal punya tampang sama jago goyang


tapi bikin sakit hati perempuan


ternyata cintamu cinta sama dompet


yang paling dompet ya isinya dompet


perebut laki orang


sukanya cuma nemplok


nemplokin laki orang


perebut laki orang


persis kaya benalu


gandulin laki orang


tak peduli ada yang sakit hati


yang penting dia hepi rebut laki orang


"Apa yang dia lakukan?" bisik Alea.


"Itu genre lagu kesukaannya. Kebetulan judulnya sesuai dengan kejadian yang dialaminya," bisik Sevina.


"Kakak tahu banyak tentangnya, ya," ucap Alea.


"Baru-baru ini saja ya."

__ADS_1


"Apa kau sering mendengarnya?" tanya Dean kepada Aiden.


"Dulu, sekarang jarang." Aiden menghela nafas pasrah.


"Diamlah kalian. Jangan mengghibah Kakaku." Resya memelototi Aiden dan Dean secara bergantian.


"Iya, Nyonya besar," sahut Aiden.


Setelah Haira selesai bernyanyi, ia menghampiri semuanya.


"Apa kau puas?" tanya Sevina.


"Puas sekali. Aku bisa menyalurkan hobiku sambil mengeluarkan uneg-uneg ku. Kalian sering-sering lah bernyanyi agar hidup kalian tidak membosankan seperti suamiku. Dia tahunya hanya kerja dan keluarga. Hobinya tidak ada. Membosankan, bukan?"


"Sama seperti David. Berbicara pun bisa dihitung berapa kali sehari," sambung Sevina.


"Dean juga, diam saja. Benar-benar membosankan." Resya menimpali.


"Kalau Mas Reyza baik, ramah dan penyayang. Aku hampir tak menemukan celah dalam dirinya." Alea menatap Reyza dengan senyuman.


"Reyza ramah tetapi kau yang lurus-lurus saja adik ipar." Sevina menyikut lengan Alea.


"Eh iya ya aku lupa." Alea tersenyum malu.


"Tetapi berkat Alea, kita bisa membungkam pelakor sampah itu," ucap Haira.


"Iya, ya. Aku tidak menyangka bahwa adik iparku bisa berkata demikian. Kata-kata nya singkat namun begitu menusuk." Sevina menambahkan.


"Begitulah Aleaku. Dia tidak akan diam jika orang terdekatnya disakiti atau kalian akan melihat taringnya." Reyza tersenyum bangga.


"Ya, setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Yang penting kita semua bisa menyikapinya dengan bijaksana." David akhirnya membuka suara.


"Hei, lihat si mulut besi akhirnya ikut nimbrung juga!" ucap Aiden.


Sontak ucapannya membuat semua yang ada di sana tertawa. David hanya bisa menghela nafas panjang. Sekalinya ikut berbicara, malah ditertawakan begitu.


Hari semakin sore, teman-teman Aiden dan Haira hendak pulang. Namun sebelum itu, mereka memberikan hadiah untuk Haira.


David dan Sevina memberikan sebuah mobil. Reyza dan Sevina memberikan beberapa gaun hasil desain ibunya. Resya dan Dean memberikan sebuah villa yang sedang dalam proses pembangunan di desa tempat ayah dan ibu Haira dimakamkan untuk mereka istirahat dan bersantai jika pergi ke sana.


Tentu Haira sangat senang menerima semua hadiah terutama pemberian Resya dan Dean.


Setelah mereka pulang, Haira dan Aiden masih berada di taman belakang itu.


"Selamat ulang tahun istriku." Aiden mengecup kening Haira dengan penuh cinta.


"Terima kasih. Tetapi kenapa kau bukan orang pertama yang mengucapkannya?"


"Aku sudah mengucapkannya. Pukul 00.00 wib. Saat kau sudah tertidur pulas hingga mendengkur. Aku membisikkannya dengan penuh cinta. Bahkan aku juga mengucapkan beberapa kalimat cinta padamu."


"Maaf karena aku tidak mendengarnya."


"Simpan saja maafmu untuk nanti malam." Aiden mencium lagi kening Haira seraya berbisik. "Kita akan buat malam yang penuh cinta."


Haira tersenyum malu mendengarnya. Meski sudah lama menikah, Aiden masih saja bersikap romantis padanya.


Dan setelah nya mereka mengobrol sambil tertawa di bawah pohon yang rindang.

__ADS_1



__ADS_2