Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Bonus Chapter - Ceroboh


__ADS_3

"Haira, cepatlah. Apa kau tidak ingin melihat adik si kembar lahir?" Aiden memanggil Haira yang sedang berdandan di kamar.


Ya, hari ini mereka akan ke rumah sakit karena Resya dijadwalkan operasi caesar hari ini.


"Iya sebentar." Haira datang dengan sedikit berlari.


"Ayo pergi!"


"Tunggu! Dimana William? Bukannya kau ke dalam untuk mengambil William setelah berdandan?"


"Astaga, aku lupa. William masih di kamarnya bersama suster. Sebentar ya." Haira hendak berbalik dan pergi namun Aiden mencegahnya.


"Biar aku saja sayang. Aku khawatir kau juga lupa dimana kamar William. Ini gendong lah Harry." Aiden menyerahkan Harry kepada Haira yang memasang wajah cemberut.


Tak berselang lama, Aiden datang sambil menggendong William. Anak mereka sudah berusia hampir setahun. Tentu saat ini keduanya terlihat sangat menggemaskan dengan tubuh gembul mereka.


"Ayo, sayang." Aiden mengajak Haira menuju mobil. Setelah semua naik, mereka pun pergi ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, William dan Harry tampak sangat senang melihat pohon-pohon yang berlarian karena laju mobil. William tampak tenang, namun Harry terus melompat-lompat di pangkuan ibunya.

__ADS_1


"Jangan lompat-lompat sayang, ibu lelah." Haira mencoba menenangkan Harry.


"Kesini Harry. Sama ayah saja. Ibumu harus banyak istirahat. Sepertinya kalian sudah membuatnya pikun sebelum waktunya." Aiden mengambil Harry dan membiarkan Harry melompat ria dipangkuannya. Sedangkan Haira memangku William yang masih terlihat tenang.


"Kenapa kau selalu mengatakan aku pikun? Apa kau masih marah soal laptopmu? Aku kan sudah minta maaf."


"Oh tidak masalah sayang. Kau hanya melakukan kesalahan kecil. Kau memasukkan tas laptop bersama dengan laptop keciku ke dalam mesin cuci. Kini aku harus bekerja dua kali karena sabun yang kau pakai membuat laptopku pergi untuk selamanya dan aku harus bekerja lembur selama sebulan untuk mengerjakan kembali file yang sudah hilang itu."


"Salahmu sendiri kenapa tidak menyalin datanya. Aku mana tau kalau laptop itu masih ada di dalam tas."


"Aku berencana menyalin saat semua sudah siap. Hanya tinggal sedikit lagi tapi kau memandikannya. Dan apa kau yakin? Tas itu berat. Kau pikir apa yang ada di dalamnya? Batu?"


"Batu kan?"


"Ya mungkin saja kau membawa batu untuk melempar pencuri jika masuk ke dalam rumah ini." Haira masih membela diri.


"Hanya orang gila yang mau mencuri di rumah kita. Dan kenapa kau malah tetap mencucinya jika kau kira itu batu." Aiden menatapnya serius.


"Apa kau masih marah?"

__ADS_1


"Tidak sayang. Aku sangat mencintaimu. Karena itu jangan spam chat saat aku lembur. Karena aku lembur karena perbuatan mulia istriku yang cantik ini." Aiden tersenyum sambil mencolek dagu Haira.


"Iya, maafkan aku."


"Jangan diulang lagi ya sayang. Cukup laptop dan ponselku yang jadi korban."


"Ponselmu? Apa yang aku lakukan padanya?"


"Kau membuangnya bersama kotak pizza ke tong bakaran sampah. Dan dia terbakar bersama teman-teman barunya." Aiden mengingatkan.


"Hehehe, sudah lah sayang jangan ingat lagi. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud mencuci laptop dan membakar ponselmu. Lagipula data di ponselmu masih bisa diselamatkan."


"Iya sayang, tidak apa-apa. Aku hanya khawatir saat kau membuang sampah bersama anak kita, kau salah buang."


"Astaga, amit-amit. Jangan sampai ah. Sayang, kau sudah dengar dari dokter kan. Pelupa ku ini karena aku kelelahan menjaga si kembar saat malam. Karena dipikiranku hanya ada mereka, makanya aku sering melupakan yang lain. Nanti juga baik sendiri kalau mereka sudah lebih besar."


"Iya aku percaya sayang. Yang perlu aku lakukan hanya melindungi semua barang penting lainnya darimu, istriku sayang." Aiden mencium kening Haira dengan mesra.


Sementara itu supir mereka masih menahan tawa setelah mendengar keluh kesah Aiden.

__ADS_1


Haira memang selalu bikin repot, tapi itulah yang membuat Aiden semakin mencintainya. dan senantiasa merindukannya. Tiada hari tanpa ulah Haira yang selalu bikin pusing.


__ADS_2