Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Bonus Chapter - Pertanyaan


__ADS_3

Keesokan paginya, Aiden, Haira, William dan Harry sedang sarapan di taman belakang. Udara pagi yang sejuk membuat mereka ingin makan di ruangan terbuka yang membuat makanan mereka cepat dingin.


"Bu, makanannya sudah dingin." William mendorong piringnya.


"Tidak masalah, Jack." Haira memanggil seorang pria yang merupakan pengawal yang mereka sewa selama disana.


"Baik, Nyonya." Jack mengeluarkan sebuah las dan memanaskan bawah piring Wiliam.


"Sudah hangat lagi, ayo makan."


Aiden melongo melihat tindakan Haira.


"Apa! Akan sangat lama jika dimasak lagi."


"Haira."


"Hmm."


"Jangan lakukan itu. Dia ini keturunan Alexander. Jika Oma tahu, maka kau akan membuatnya syok."


"Aku hanya bercanda, sayang. Jack."


Jack pun pergi ke dalam dan kembali dengan sepiring makanan yang masih panas untuk William.


"Makanlah, sayang. Lain kali jangan mengulur waktu sarapan dengan memainkan kubik, mengerti?"

__ADS_1


"Iya, Bu." William mengangguk lalu memakan sarapannya.


"Dasar kau ini!" Aiden tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Oh ya, Ayah. Jablay itu artinya apa?"


Mendengar pertanyaan Harry, sontak Aiden langsung terbatuk-batuk. Haira memberikan segelas air pada Aiden. "Pelan-pelan makannya."


"Darimana kau tahu kata itu, Harry?" tanya Aiden.


"Dari lirik lagu Ibu," sahut Harry.


"Emm itu hanya istilah saja. Tidak ada artinya, kok." Aiden menggaruk belakang kepalanya.


"Hai, Harry jablay." William membalas.


Mendengar hal itu, Aiden pun syok. "Bukan! Bukan begitu! Itu berarti sesuatu yang tidak baik untuk diucapkan. Jangan ucapkan, Ayah mohon. Haira, bertanggung jawablah." Aiden berbisik pada Haira.


"Anak-anak. Jika kalian mengucapkan hal itu, ibu akan marah." Haira menggulung lengan bajunya dan menunjukkan tangannya pada kedua anaknya.


"Baik, Bu. Kami tidak akan mengatakannya. Tapi kami masih penasaran dengan,,,,,"


"Dan jangan tanyakan apa arti dari kata itu. Jangan cari di internet, atau bertanya pada siapapun, kalian mengerti?" Haira menatap William dan Harry secara bergantian dan mendapat anggukan dari keduanya.


"Selesai." Haira tersenyum pada Aiden.

__ADS_1


"The power of emak-emak." Aiden menghela nafas lega.


Selesai sarapan, William dan Harry meminta izin untuk masuk ke dalam rumah. Mereka akan bermain dengan mobil dan robot yang mereka bawa.


"Sekarang kau sudah tahu kan apa pentingnya memilih lagu yang pas untuk kau nyanyikan?" Aiden menatap Haira dengan serius.


"Iya, aku mengerti. Maafkan aku, sayang. Aku tidak memperhatikan hal itu. Untuk ke depannya aku akan menyanyikan lagu yang liriknya biasa saja dan tidak menimbulkan pertanyaan." Haira memegang tangan Aiden.


'Bahkan lebih baik kau tidak usah bernyanyi, sayang.' batin Aiden.


"Oh, ya. Apa kita jadi pergi ke wisata yang ada di daerah ini? Kau bilang kau juga punya investasi di tempat wisata itu, 'kan. Sudah lima tahun kau tidak melihatnya secara langsung. Hanya mendengar perkembangannya saja." Haira mengingatkan.


"Jadi, kita akan pergi siang nanti. Itu waktu yang cocok untuk mereka mandi di pemandian yang ada disana."


"Mandi? Apa airnya tidak berkuman? Mandi bercampur dengan banyak orang?"


"Tidak, aku membuatku sebuah kolam renang khusus untuk anak-anak. Kolam itu tidak pernah dipakai tapi selalu dibersihkan setiap bulan. Dan hari ini kolam itu akan dipakai."


"Kau selalu saja memperhitungkan segalanya untuk si kembar. Terkadang aku lupa bahwa mereka adalah keturunan Alexander."


"Mereka anakku. Mereka adalah penerus ku. Apapun yang terbaik untuk mereka, adalah prioritas utama bagiku." Aiden mengusap kepala Haira dengan gemas.


"Ya, terkadang aku juga lupa bahwa kau adalah seorang Alexander yang sangat hebat dan penyabar. Aku selalu saja melakukan kesalahan, tapi kau selalu sabar." Haira membelai pipi Aiden. "Dan terkadang kesalahan itu aku lakukan dengan sengaja agar tidak bosan. Kau tidak marah, kan?"


Aiden hanya menggeleng dan tersenyum. 'Untung aku sayang.' batinnya.

__ADS_1


__ADS_2