
Seseorang langsung memborgol kedua tangan Ziko. Maka kini Ziko dapat melihat mereka yang ternyata beberapa anggota polisi.
"Terima kasih atas kerjasamanya, Tuan. Anda telah membantu kami menangkap buronan yang kabur." Seorang polisi memberi hormat pada Aiden.
"Sama-sama, Pak," sahut Aiden yang juga memberikan hormat pada polisi itu.
Mereka pun segera pergi dari rumah Aiden. Membawa Ziko kembali ke dalam penjara dan menambah hukumannya karena telah kabur dan melakukan percobaan pembunuhan pada Haira.
Aiden kembali membawa Haira ke dalam kamar. Kali ini ia membimbing Haira duduk di atas sofa. Memberinya air minum serta mengusap punggungnya. Ia yakin pasti Haira masih merasa takut.
"Kenapa kau tidak mengatakan hal ini padaku? Dengan begitu aku akan lebih berhati-hati," keluh Haira.
"Maaf, sayang. Aku tidak punya kesempatan menjelaskan ini semua padamu. Dan jik kau tahu, dia akan menyusun rencana lain untuk mencelakai dirimu." Aiden mencoba menjelaskan.
"Memangnya sejak kapan kau menyadarinya?"
"Sejak kejadian di restoran Paman Sean. Aku menyadari ada yang mengikuti kita. Hingga saat aku menyelidiki nomor penelepon yang membuatmu tersedak, aku berhasil mengetahuinya yang ternyata memang dia."
"Kenapa dia masih saja mengganggu kita? Dia yang meninggalkan aku, tapi dia juga yang memaksaku kembali." Haira berdecak kesal.
"Memang penyesalan datangnya terlambat. Dia telah merasakan sebuah penyesalan karena menyia-nyiakan berlian seperti ini. Tapi aku bersyukur, berkat kebodohannya, aku memiliki dirimu. Cinta pertamaku, yang akan selalu aku cintai dan aku sayangi." Aiden mengusap lembut pipi Haira lalu mendekatkan bibirnya ke wajah Haira.
Cup, sebuah kecupan lembut yang didaratkan Haira di bibir Aiden.
"Hei, tunggu! Harusnya aku yang melakukannya!" Aiden ingin mencium Haira lagi namun langsung di dorong oleh Haira. Ia pun mengenakan masker agar Aiden tidak menciumnya.
__ADS_1
"Kau terlalu lama." Haira pun pergi meninggalkan Aiden menuju balkon.
"Haira! Haira! Kau masih sakit, sayang. Jangan keluar. Ayo, kembali ke dalam!" seru Aiden sambil mengikuti Haira.
Haira berhenti dan duduk di bangku yang ada di balkon kamar mereka dan membuka masker dengan asal namun masker itu masih menyangkut di telinganya.
"Kau ini kenapa susah sekali dinasehati. Kau baru pulang dari rumah sakit, sayang." Aiden mengingatkan. Ia duduk di samping Haira sambil mengusap kepalanya dengan lembut.
"Entah kenapa jika berada di samping mu, seketika aku langsung sehat." Haira tersenyum manja.
"Jangan memancingku atau aku akan,,,,," Mendekatkan bibirnya ke Haira.
"Sudahlah, kenapa harus terus mencium ku? Bagaimana kalau kita foto dulu," ujar Haira.
"Foto? Boleh juga."
"Wah hasilnya bagus." Haira tersenyum puas.
"Kenapa tidak diunggah ke media sosial?" tanya Aiden.
"Tidak, aku tidak ingin pamer suami. Biarlah ketampanan, kebaikan, kesabaran, dan kasih sayang suamiku hanya aku yang tahu. Untuk apa diunggah? Mau pamer seakan-akan cuma aku yang paling bahagia di dunia ini? Mungkin banyak yang sama bahagianya denganku tapi mereka tidak ingin memamerkannya. Karena wanita berkelas, adalah mereka yang tidak mengumbar segala sesuatu untuk mendapat pujian."
"Wah, istri ku sangat bijaksana. Aku bangga mempunyai istri seperti dirimu." Aiden mengusap lembut pipi Haira.
__ADS_1
"Aku juga bangga mempunyai suami seperti dirimu." Haira mendekatkan bibirnya ke Aiden. Dalam beberapa detik, bibir mereka sudah menyatu dengan indahnya cinta.
Dan hari ini, saat ini, jam ini, menit ini, detik ini, kisah ini pun selesai. The End 😊
*****
Hai gaes, terima kasih yang udah mau mampir di karyaku. Awal bulan enam nanti, aku akan melanjutkan kisah Sean Armadja dan Viana dalam novel Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2.
Kisah mereka dilanjut ketika Sevina dan Reyza masih bocil ya, jadi beberapa part tentang Sevina yang udah SMP, SMA, dan Kuliah akan dihapus. Jadi kita akan melanjutkan kisah Sean dan Viana yang masih muda dengan banyak visual 😍
Jangan lupa klik Favorite (tanda love) untuk mendapatkan informasi update, terima kasih 😊
Ini ada bonus pict untuk kalian 😊
__ADS_1