Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Bonus Chapter - Ziarah


__ADS_3

Keesokan harinya, karena hari itu adalah hari minggu, maka Aiden berencana mengajak Haira untuk pergi.


Kini mereka semua sedang dalam perjalanan. Bersama si kembar dan juga dua babysitter.


"Sayang, kita mau kemana?" tanya Haira yang masih belum tahu tujuan mereka pergi hari itu.


"Tempat yang dapat membuat kita merasa tenang." Aiden mengusap kepala Haira dengan lembut.


"Tenang?" Haira merasa heran.


"Hmmm."


"Dan kenapa kau memakai baju batik? Dan aku memakai baju gamis ini? Kita mau pesta ya." Haira masih menebak-nebak.


"Memangnya pakaian kita seperti orang yang akan pesta?"


"Iya. Tanya saja pada Susi dan Icha." Haira menoleh ke bangku belakang.


"Nyonya, nama saya,,,,,"


"Ya, Suzzy dan Susi sama saja. Jawab sajalah."

__ADS_1


"Menurut saya pakaian yang Tuan dan Nyonya kenakan seperti orang yang mau kondangan hajatan atau pengajian."


"Pengajian? Aku kan tidak pakai,,,,,"


Haira berhenti bicara saat Aiden memakaikannya sebuah kerudung berwarna hitam.


"Sayang, kita mau pengajian?"


"Diamlah sayang." Aiden mengusap pipi Haira dengan lembut.


Karena merasa perjalanan yang lama dan melelahkan, Haira pun tertidur.


Haira membuka matanya dan terheran melihat tempat yang mereka datangi adalah sebuah tempat pemakaman umum, namun daerahnya seperti daerah pedesaan.


"Sayang, inikan,,,,," Haira menutup mulutnya karena merasa terharu dengan tempat yang mereka datangi.


"Sudah lama kita tidak kesini. Waktunya berziarah di makam kedua mertuaku."


"Aiden,,,,," Haira kembali menutup mulutnya dan menangis. "Terima kasih." Ia pun memeluk Aiden.


"Suzzy, Icha, tetap di sini ya, jaga si kembar," ujar Aiden.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Suzzy dan Icha kembali masuk ke dalam mobil karena William dan Harry juga masih tidur akibat kelelahan menempuh perjalanan yang sangat panjang.


Bayangkan, mereka harus menempuh perjalanan hingga lima jam untuk mencapai pedesaan tempat orang tua Haira dimakamkan. Dan Haira tertidur saat masih mencapai separuh perjalanan. Maklum saja, malam tadi ia kurang tidur karena berkali-kali bangun untuk melihat anaknya.


"Sayang, ayo kita ambil wudhu dulu di sana." Aiden mengajak Haira ke sebuah bangunan di dekat pemakaman untuk mereka yang ingin mengambil wudhu sebelum berziarah.


Setelah mereka mengambil wudhu, mereka segera ke makam orang tua Haira. Di sana mereka membaca salam, istighfar, surat pendek dalam Al-Quran (Alfatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas), kalimat tahlil dan terakhir membaca doa ziarah kubur. Haira terus menitihkan air mata .


Setelah itu, mereka menabur bunga dan air ke atas makam orang tuanya. Kedua makam itu terlihat sangat terawat karena sejak berita tentang orang tua kandung Haira terkuak, ia membayar pengurus pemakaman untuk merawat kedua makam itu dengan baik.


"Ayah, Ibu. Aku datang lagi. Sudah lama sekali sejak terakhir aku kesini. Saat itu aku dalam keadaan hamil. Tetapi sekarang, kedua anak kembarku sudah besar. Ayah tau, nama anak keduaku sama seperti nama Ayah. Agar kelak ia tumbuh menjadi sosok seperti Ayah. Yang penyabar, penyayang, dan pintar. Ibu, sekarang aku tidak banyak waktu bernyanyi. Maaf aku tidak bisa menjadi seperti ibu yang bersuara lembut. Karena suaraku sangat jelek, tetapi Aiden selalu memujiku. Padahal aku tau dia berbohong, dia adalah suami yang paling sempurna."


Aiden yang mendengar itu semua tersenyum dan merangkul pundak Haira.


"Tenanglah Ayah, Ibu, aku akan selalu menjaga Haira sampai akhir hayatku. Aku tidak akan membiarkannya bersedih, karena itu aku langsung membatalkan kerja sama dengan orang yang telah menyakiti istri tercintaku ini."


Haira yang mendengar hal itu langsung terkejut. Ia tidak menyangka bahwa pekerjaan yang dilakukan Aiden sampai larut malam adalah pembatalan kerja sama dengan Naumi.


Haira ingin bicara, namun belum sempat ia mengeluarkan suara, Aiden sudah mengisyaratkan Haira untuk diam.


Haira mengangguk. Tidak mungkin kan Aiden mengatakan semua itu di tempat pemakaman. Karena itu ia akan menunggu sampai mereka tiba di penginapan yang akan mereka tuju di desa itu. Perjalanan yang jauh, memang mengharuskan mereka beristirahat barang satu hari saja sebelum kembali ke kota.

__ADS_1


__ADS_2