Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Bonus Chapter - Bercanda


__ADS_3

"Kenapa kau berkata seperti itu?" bisik Haira.


Apa kau tidak paham dengan apa yang dia katakan? Secara tidak langsung dia menyumpahi aku cepat mati," bisik Aiden.


"Kenapa kau malah marah? Apa begini CEO berkelas yang KATANYA sangat baik dan sopan?" Pak Ngatiran menatap Aiden dengan tatapan datar.


"Bukan, begitu, Pak. Saya hanya mengingatkan saja. Bapak kan sudah tua, tidak baik melirik wanita lain, apalagi yang sudah bersuami." Aiden mengusap dadanya sembari berucap istighfar dalam hati.


"Apa saya bilang bahwa saya mau menikahi istrimu jika kau tidak panjang umur?" tanya balik Pak Ngatiran.


"Jadi maksud perkataan Bapak, apa?" Aiden tampak heran.


"Jika kau tidak panjang umur, Haira saya suruh datang kepada saya untuk saya sejahterakan hidupnya."

__ADS_1


"Sejahterakan bagaimana, Pak?" Aiden semakin heran.


"Ya, saya akan menghidupinya, memberikan tempat tinggal, makanan, dan kebutuhan lainnya."


"Bapak tidak perlu memberikan semua itu. Maksud saya, harta Alexander tidak akan habis tujuh turunan kecuali dia berjudi." Aiden menatap Pak Ngatiran dengan tatapan tidak percaya.


"Ya, kalau seandainya dia berjudi dan uangnya habis, maka dia cukup datang kepada saya dan akan saya sejahterakan hidupnya. Jika perlu saya akan menjadikannya istri ke-empat."


"Bapak sudah tua, tidak pantas berkata seperti itu. Kalaupun saya tidak panjang umur, pasti Haira akan menikah dengan orang yang seumuran dengannya. Sudahlah kenapa malah membicarakan soal hidup dan mati ku. Amit-amit!" Aiden memukul kepalanya serta meja secara bergantian.


"Jangan terlalu lama menatap istri orang, Pak!" Aiden menutup wajah Haira dengan tangannya.


"Pelit sekali."

__ADS_1


"Bukan, Pak. Tidak baik menatap istri orang seperti itu." Aiden sudah mulai emosi.


"Sayang, sudahlah. Jangan terlalu emosi. Pak Ngatiran, meskipun nantinya saya menjadi janda, maka saya akan tetap sendiri. Membesarkan kedua anak saya dengan sepenuh hati. Memang benar, jika saya berjudi maka harta peninggalannya akan habis. Namun, saya tidak akan melakukannya. Cinta saya untuk suami saya sangatlah besar." Haira memegang tangan Aiden lalu tersenyum padanya. Aiden pun menghembuskan nafas lega.


"Luar biasa! Ketahuilah Aiden, saya sebenarnya bukan orang seperti itu. Ratih dan Marni bukanlah istri saya, melainkan anak dan cucu angkat saya. Mereka orang-orang yang tidak mempunyai orang tua. Saya menemukan mereka di jalanan. Jadi saya angkat menjadi anak dan cucu saya. Cinta saya hanya satu, hanya kepada Almarhumah istri saya saja, yaitu Mona. Untuk apa saya menikah lagi? Saya sudah tua. Lebih baik saya menikmati masa tua saya dan menghibur diri dengan mengerjai orang-orang seperti kalian, suami yang cemburuan pada istri." Pak Ngatiran terkekeh.


"Mana ada suami yang tidak cemburu jika istrinya digoda orang lain, Pak. Ada-ada saja." Aiden menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya ia terpancing oleh kakek tua ini.


"Ya sudah, bersenang-senang lah. Kalian masih belum melihat seluruh isi dari tempat wisata ini, bukan?"


"Benar, kita sampai lupa." Haira memperingatkan Aiden.


"Ya sudah, pergilah. Marni, antar mereka berkeliling, ya." Pak Ngatiran memberi titah pada cucunya itu. Tak lupa ia tersenyum pada mereka. Namun kali ini senyuman itu tidak memiliki maksud tersembunyi, melainkan senyuman tulus dari seorang Ngatiran.

__ADS_1


Aiden dan Haira pun pamit. Setelah kepergian mereka, Pak Ngatiran kembali tersenyum dan terkekeh. "Dasar suami bucin akut. Memangnya siapa yang ingin mengganggu istri orang. Memang dulunya aku mencintai istri orang, yaitu Alena. Tapi setelah menikahi Mona, hatiku sepenuhnya untuk dirinya. Munaroh, tunggu aku di sana, ya, istriku." Pak Ngatiran mengusap sebuah foto berbingkai kecil yang terletak diatas meja yang merupakan foto dirinya bersama Almarhumah Munaroh atau yang dikenal dengan nama Mbah Mona.


__ADS_2