
Keesokan paginya, Dean, Allen, Resya dan Sarah pergi ke Australia untuk mengunjungi makam ibu kandung Dean.
Disana, terlihat Dean sedang menabur bunga di atas makam ibunya. Tertulis nama Mitchelle Dhynie di batu nisan tersebut.
"Jadi inisial MD juga nama ibu?" tanya Dean.
"Ya, dan kebetulan sekali ibu panti menamai dirimu seperti namanya," sahut Allen.
"Ibu, apa kabarmu? Aku harap ibu tenang disana. Aku masih hidup bu, bahkan sebentar lagi aku akan menikah." Dean menggenggam tangan Resya.
"Restu kami ya bu. Meski ibu tidak bisa hadir di pernikahanku, aku berharap ibu melihatku dari atas sana," sambung Dean sambil menyeka air matanya.
Resya mengusap punggung Dean untuk menguatkan nya.
"Dhynie, kenalkan ini Sarah. Aku ingin meminta izin padamu untuk menikahinya," ucap Allen sambil mengusap batu nisan istrinya.
Sarah tersenyum dan menabur bunga di atas makam Dhynie.
Setelah itu mereka pun pergi ke rumah Allen untuk istirahat. Mereka akan pulang besok.
Rumah Allen sangat besar meski tidak sebesar rumah Aiden.
Mereka berempat sedang makan siang di rumah itu.
__ADS_1
"Paman, apa paman akan tetap menetap di Australia?" tanya Resya.
"Panggil ayah saja. Ayah Dean adalah ayahmu juga," sahut Allen.
"Iya ayah," ucap Resya.
"Ayah rasa ayah akan pindah ke Indonesia. Karena ayah yakin, Dean tidak mau tinggal disini," ucap Allen sambil melirik Dean.
"Ternyata ayah sangat peka," sahut Dean sambil tersenyum.
"Oh ya Dean. Seperti nya kau harus berhenti menjadi asisten Aiden. Perusahaan ayah sudah menunggumu," ucap Allen.
Dean terdiam sejenak. "Tapi tuan Aiden dan nyonya Cleopatra sudah sangat baik kepadaku, ayah. Nyonya Cleopatra sudah menyelamatkan hidupku saat hidup terlantar di jalanan. Beliau memberikan pendidikan dan kehidupan yang layak kepadaku," ucapnya.
"Jangan takut, kita akan tinggal di dekat rumah kak Aiden agar kau bisa terus melihatnya hidup dengan aman," ucap Resya.
"Baiklah ayah," ucap Dean.
Sementara itu...
"Sayang, kalau Dean anak pengusaha kaya berarti dia tidak akan menjadi asisten mu lagi?" tanya Haira.
"Tentu sayang, untuk apa dia jadi asistenku kalau ayahnya punya perusahaan sendiri," sahut Aiden.
__ADS_1
"Aku jadi merasa tidak enak selama ini sudah menyusahkan nya," ucap Haira.
"Jadi kau baru sadar sekarang? Selama ini kau memanggilnya dengan banyak sebutan sayang. Yang pencuri pakaian dalam, tukang hutang, pelakor dan jangan lupa kau mengatainya jomblo ngenes."
"Iya aku tau, tapi dia kan menikah dengan adikku. Dia harus melupakan semua itu jika dia ingin aku merestui nya."
"Terserah kau saja sayang. Di rumah ini kau ratunya." Aiden mengusap kepala Haira.
Haira menyandar di dada Aiden. Aiden mengusap pipi Haira dan dengan perlahan mulai mendekatkan bibirnya.
Hingga tiba-tiba ada tangan yang menjambak rambut Aiden hingga dia tertarik ke belakang.
"Hei anak muda, ingatlah nenekmu ada disini," ucap Grandma.
"Eh maaf Grandma kami lupa kalau Grandma sedang bermain dengan Harry," ucap Aiden cengengesan. Sejak tadi Grandma memang bermain dengan Harry di atas ranjang kamar itu, sedangkan William sedang tidur di box bayinya.
"Dasar anak muda, baru punya anak sudah mau buat lagi. Ayo Harry kita keluar saja." Grandma menggendong Harry keluar kamar.
"Dan kau sangat ceroboh!" Haira menarik hidung Aiden.
"Ya mau bagaimana lagi, aku sudah kehausan selama sebulan setengah. Masa nifas mu sudah selesai kan?"
"Sudah, tapi tahu malu lah sedikit. Matahari masih terbit." Haira mendorong tubuh Aiden dan meninggalkannya karena William terdengar merengek.
__ADS_1