Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Saksi


__ADS_3

Haira, Aiden dan Grandma sudah sampai rumah sakit. Mereka melihat keadaan Dean dan lainnya.


Tampak Dean sedang istirahat di ruang rawatnya karena pengaruh obat bius. Sedangkan Resya dan Sarah berada didalam satu ruangan. Mereka habis menjalani beberapa tes kesehatan.


Aiden dan lainnya menghampiri Resya dan Sarah.


"Resya, apa kau baik-baik saja?" Haira memeluk Resya dengan erat.


"Aku baik-baik saja kak. Kak, aku masih belum mengerti dengan apa yang terjadi," ucap Resya.


Haira dan Aiden pun mulai bercerita. Dari ingatan Haira yang pulih hingga penyergapan di rumah Harsya.


"Apa? Jadi kita bukan anak kandung ayah dan ibu? Mereka adalah paman dan bibi kita?" Resya terlihat terkejut.


"Mereka mengambilku dengan cara membunuh orang tuaku agar harta jatah warisan orang tuaku menjadi milik merek. Sedangkan orang tuamu masih belum diketahui keberadaannya. Para pengawal Aiden sedang mencarinya," ucap Haira.


"Kenapa mereka sejahat itu kak? Mereka bahkan menanamkan rasa iri di dalam diriku agar aku membencimu!" Resya terlihat sangat geram.


"Sudahlah jangan pikirkan itu lagi. Mereka akan mendapatkan balasannya. Yang penting sekarang kau fokus pada kesehatanmu," ujar Haira.


"Aku berharap orang tuaku masih hidup." Resya tertunduk sedih.


"Ya, semoga saja ya," sahut Haira.


"Sarah, apa kau masih ingat aku?" tanya Grandma pada Sarah yang masih duduk diam di dalam ruangan itu.


"Aku ingat nyonya. Kau adalah ibu tuan William," sahut Sarah.


"Nyonya, apa ingatanmu sudah pulih?" tanya Aiden.


"Aku tidak gila. Aku hanya trauma saja," sahut Sarah.

__ADS_1


"Kenapa dulu kau sering memandangi ruangan ku?" tanya Aiden.


"Aku hanya ingin melihat wajah tuan William sekali lagi tapi aku tidak punya kesempatan," ucap Sarah.


"Jadi kau ingat kejadian saat orang tuaku meninggal?" tanya Aiden.


"Aku ingat semua bermula saat...." Sarah pun mulai bercerita secara detail dan jelas. Sesekali dia menangis saat menceritakan kebaikan William terhadapnya.


"Sarah, maukah kau menjadi saksi dalam persidangan nanti?" tanya Grandma.


"Tentu nyonya. Apapun untuk keluarga tuan William," sahut Sarah.


"Ternyata kau sangat mencintainya ya," ucap Grandma.


"Saya hanya menganguminya saja nyonya. Saat itu saya masih terlalu muda untuk jatuh cinta," sahut Sarah yang wajahnya kini semerah tomat.


"Ya aku mengerti," ucap Grandma.


Di dalam ruangan Dean, Resya melangkah mendekati nya dan menggenggam tangannya. "Kenapa kau jahat sekali. Kau sudah menghancurkan masa depanku." Menangis terisak.


"Maafkan aku, aku tidak sengaja melakukannya," ucap Dean dengan mata berkaca-kaca.


"Hidupku hancur karena mu."


"Hukum lah aku sepuasmu," ucap Dean pasrah.


"Apa kau bodoh? Mana mungkin aku menghukum mu disaat seperti ini. Terlebih lagi kau sudah menyelamatkan nyawaku."


"Aku hanya melindungi orang yang aku sayangi."


"Bohong. Kau mendekati ku hanya demi menebus rasa bersalah mu kan."

__ADS_1


"Tidak. Bukan, awalnya ya, tapi lama kelamaan aku semakin merasa nyaman dan kagum kepadamu. Mungkin itulah awal aku jatuh cinta padamu." Dean menatap Resya dengan tatapan serius.


"Benar?" tanya Resya yang masih tidak percaya.


"Benar," sahut Dean.


"Demi apa?" tanya Resya lagi.


"Demi apapun di dunia ini," sahut Dean.


Resya tersenyum mendengarnya.


"Oh ya darimana kau tau tentang hal ini? Apa nona Haira yang memberitahu mu?" tanya Dean.


"Apa? Memangnya aku bermulut ember? Seenaknya saja kau menuduhku!" Haira mendengus kesal.


"Maaf nona," sahut Dean.


"Sudahlah. Aku tau sejak sebulan lalu. Saat itu kau mandi di pavilliun rumah dan aku menemukan kalung yang aku suruh buang tergeletak di depan pavilliun itu. Aku rasa jatuh dari sakumu. Aku berniat meletakkan nya lagi di sakumu. Tapi aku malah menemukan surat permintaan maafmu yang disertai nama lengkapmu dan tulisan tangan yang sama dengan surat yang kau tinggalkan bersama kalung itu dulu. Disaat itulah aku sadar bahwa kau pria itu," jelas Resya.


"Apa saat itu kau tidak marah?" tanya Dean.


"Saat itu aku ingin sekali menaruh Sianida di kopi yang kau minum. Tapi aku ingat bahwa saat itu aku juga salah karena mabuk dan asal masuk kamar. Makanya aku beri kau kesempatan untuk berusaha." Resya mengakhiri penuturannya.


"Lalu, jika aku melamarmu sekarang, maukah kau menikah denganku?"


"Tidak!" Resya berbalik dan melipat tangannya di dada.


"Kenapa?" tanya Dean dengan raut wajah kecewa.


"Aku tidak mau dilamar di rumah sakit apalagi dalam keadaanmu yang tidak berdaya seperti ini. Segera lah sembuh lalu lamar aku di tempat romantis." Resya pergi meninggalkan ruangan itu dengan wajah semerah tomat karena malu. Sedangkan Dean tersenyum senang karena ternyata Resya mau menerima nya.

__ADS_1


__ADS_2